Yota Balad Buka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, 35 Nelayan Pariaman Dibekali Ilmu Penting Sebelum Melaut

Yota Balad Buka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, 35 Nelayan Pariaman Dibekali Ilmu Penting Sebelum Melaut
Wali Kota Pariaman, Yota Balad, meresmikan kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang diselenggarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Maritim Teluk Bayur Padang, Rabu (14/10/2026). (Foto: Armaidi Tanjung). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Keselamatan nelayan saat melaut menjadi perhatian Pemerintah Kota Pariaman. Wali Kota Pariaman, Yota Balad, meresmikan kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang diselenggarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Maritim Teluk Bayur Padang, Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di aula Balaikota Pariaman itu diikuti 35 nelayan untuk memperkuat pemahaman tentang cuaca dan kondisi laut.

Program ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan pengetahuan nelayan menghadapi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Bagi masyarakat pesisir, memahami kondisi alam bukan sekadar tambahan wawasan, melainkan bekal penting untuk menentukan waktu keberangkatan, memperhitungkan risiko, dan menjaga keselamatan selama mencari ikan di laut.

Dalam sambutannya, Yota Balad menegaskan bahwa Kota Pariaman memiliki potensi kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, keberlangsungan aktivitas nelayan perlu didukung dengan pengetahuan yang memadai, termasuk kemampuan memahami informasi prakiraan cuaca dan kondisi perairan.

Menurutnya, kegiatan penangkapan ikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alam, mulai dari tinggi gelombang, kecepatan dan arah angin, hingga arus laut. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat berdampak terhadap keselamatan pelayaran, keberhasilan penangkapan ikan, serta pendapatan nelayan. Pemahaman terhadap kondisi cuaca pun perlu menjadi bagian dari pertimbangan sebelum memutuskan untuk melaut.

Yota menilai, Sekolah Lapang Cuaca Nelayan merupakan salah satu bentuk edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat pesisir. Melalui kegiatan ini, nelayan diharapkan tidak hanya menerima informasi prakiraan cuaca, tetapi juga mampu memahami maknanya dan menggunakannya untuk mengambil keputusan secara lebih tepat.

Selain penguatan pengetahuan, Yota turut menyoroti potensi pemanfaatan teknologi mitigasi maritim di Kota Pariaman. Ia menyebut keberadaan HR Radar di Taman Anas Malik sebagai salah satu fasilitas yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan informasi cuaca dan aktivitas perikanan apabila dapat difungsikan sesuai peruntukannya.

Ia berharap BMKG dapat membantu mengaktifkan fasilitas HR Radar tersebut. Menurut Yota, teknologi itu diharapkan dapat mendukung prakiraan cuaca bagi nelayan sekaligus membantu mendeteksi keberadaan kumpulan ikan di laut. Pemanfaatan teknologi secara optimal diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan keselamatan dan produktivitas nelayan.

Kepada 35 peserta SLCN, Yota berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan serius. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berangkat mencari ikan.

Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, Pemerintah Kota Pariaman berharap literasi cuaca dan pemanfaatan teknologi maritim semakin berkembang di kalangan nelayan. Sinergi pemerintah daerah dan BMKG diharapkan dapat membantu masyarakat pesisir mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik, sehingga keselamatan saat melaut semakin diperhatikan dan kesejahteraan nelayan dapat terus ditingkatkan. (*) 

Pewarta: Armaidi Tanjung
Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »