Pariwisata

Ekonomi

POLITIK

HUKUM

Most Popular

GP Ansor Berikan Jaminan Keamanan dari Intimidasi, Todung Mulya Lubis Bakal Bela dr Fiera Lovita

Dr. Fiera Lovita dan anak-anaknya dibantu tim dokter yang tergabung dalam "Dokter Bhinneka" dan dikawal tim Gerakan Pemuda Ansor terbang ke Jakarta, Senin, 29 Mei 2017 malam.

GP Ansor Berikan Jaminan Keamanan dari Intimidasi, Todung Mulya Lubis Bakal Bela dr Fiera Lovita
BENTENGSUMBAR.COM - Dr. Fiera Lovita yang mengaku diintimidasi sejumlah anggota Front Pembela Islam FPI dan kelompok-kelompok lain di Solok, Sumatera Barat, karena mengunggah pernyataan bernada miring terhadap pemimpin FPI Rizieq Shihab di akun media sosialnya, diamankan ke Jakarta. 

Dibantu tim dokter yang tergabung dalam "Dokter Bhinneka" dan dikawal tim Gerakan Pemuda Ansor, Fiera dan keluarga terbang ke Jakarta, Senin, 29 Mei 2017 malam.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut C. Qoumas mengatakan, pengamanan ini dilakukan demi keselamatan Fiera dan keluarganya, yang masih kerap mendapat ancaman dan teror meskipun polisi dan gubernur telah memberi jaminan bahwa kasus ini sudah selesai. 

"Para dokter ini yang kemudian menghubungi kami untuk mengatur pengawalan dr. Fiera dan keluarga agar aman sampai Jakarta," ujar Yaqut.

Sementara itu, Advokat senior Todung Mulya Lubis menegaskan bakal membela Fiera Lovita.

"Saya ingin membela Dokter Lola kalau dia betul-betul terus diancam oleh pihak-pihak yang melakukan intimidasi dan persekusi terhadap yang bersangkutan," kata Todung usai Deklarasi Forum Advokat Pengawal Pancasila di Jakarta, Senin, 29 Mei 2017.

Todung menyatakan, belakangan ini terdapat kelompok-kelompok tertentu yang melakukan persekusi atau pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga oleh kelompok tertentu untuk diintimidasi, disakiti, hingga diancam nyawanya hanya karena perbedaan pendapat di media sosial.

Menurut Todung, pihak-pihak yang melakukan persekusi tersebut tidak suka terhadap kebinekaan dan kemajemukan bangsa Indonesia. Maraknya persekusi ini kata Todung, merupakan kemunduran bagi Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Untuk itu, Todung meminta pihak kepolisian bertindak tegas tanpa kompromi terhadap siapapun yang melakukan intimidasi dan ancaman.

"Karena ini adalah hak untuk menyampaikan pendapat. Bahwa seseorang setuju atau tidak, itu soal lain. Tapi menurut saya tidak boleh dalam negara demokrasi, negara yang menganut HAM itu ada intimidasi, ada teror, ada persekusi terhadap mereka-mereka yang berseberangan pendapat," tegasnya.

Menurut Todung kondisi saat ini baru pertama kali dihadapi bangsa Indonesia. Sebelumnya, perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat hanya sebatas pada perkelahian opini. Namun, saat ini, berbeda pendapat dapat dituduh sebagai kafir, tidak punya kepercayaan, bahkan dianggap sebagai musuh.

"Di Indonesia ini perbedaan antara musuh dan lawan tidak jelas. Semua orang dianggap musuh. Padahal bisa jadi kita menjadi lawan, lawan dalam berdebat, lawan dalam beracara di pengadilan, lawan dalam diskusi tapi bukan musuh. Jadi di Indonesia ini situasinya sudah agak memprihatinkan. Dia kawan atau lawan. Padahal kita ini satu sebagai bangsa. Makanya saya agak menyesal dan kecewa, kok Indonesia yang saya kenal sekarang ini bukan Indonesia yang kita kenal dulu. Ini Indonesia yang lain sama sekali. Indonesia yang saudara-saudara tidak mungkin tidak kenal. Tidak ada jaman dulu yang kita alami bersama punya Indonesia seperti sekarang ini," ungkapnya.

Todung menegaskan, kondisi saat ini harus menjadi alarm bagi mayoritas yang selama ini diam. Untuk itu, Todung mengapresiasi inisiasi para advokat muda yang membentuk Forum Advokat Pengawal Pancasila yang berupaya melawan paham-paham yang mengancam Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

"Jadi ini betul-betul wake-up call buat kita untuk bangkit. Dan saya bangga kepada anak-anak muda, advokat-advokat muda yang mengambil inisiatif pada hari ini. Mereka menyatukan kita untuk menghadapi radikalisme, fundamentalisme, sekterianisme yang betul-betul bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila," katanya.

(by/voa/bsc)

Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *