PADANG

SUMBAR

Nasional

Parlementaria

KH Said Aqil Siradj: Barang Siapa Masih Mempermasalahkan Pancasila, Tangkap!

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj mencium bendera merah putih di tugu proklamasi.

KH Said Aqil Siradj: Barang Siapa Masih Mempermasalahkan Pancasila, Tangkap!
BENTENGSUMBAR. COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, meminta semua pihak tak lagi mempermasalahkan Pancasila sebagai dasar negara.

Sebab, menurut dia, hal itu sudah final.

"Barang siapa masih mempermasalahkan (Pancasila), tangkap!" kata Said dalam pidatonya pada peringatan Hari Santri di Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu, 22 Oktober 2017.

Namun, kata Said, Pancasila boleh dielaborasi untuk mencari penerapannya dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Said mengatakan,  kaum santri sejak lama telah menyepakati secara final.

Hal itu ditunjukkan oleh  sikap NU yang menerima ketika tujuh kata dalam piagam Jakarta yang menyatakan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Muslim.

Sikap itu, kata Said melanjutkan, menunjukkan kemoderatan dan toleransi yang selalu dijunjung tinggi oleh para santri dan ulama.

Hal tersebut, ujar dia, senada dengan Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kala itu, tutur Said, Nabi Muhammad dperintahkan oleh Allah untuk membangun organisasi besar yaitu umat.

Umat yang diperintahkan oleh Allah adalah wasathan, moderat, antikekerasan, tidak radikal dan tidak liberal.

"Itu sesuai dengan misi umatan wasathan (di tengah-tengah, Red)."

"Artinya Islam antiradikalisme dan liberalisme," ucap Said menegaskan.

Spirit “nasionalisme bagian dari iman”, hubbul wathan minal iman, perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. 

“Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan,” katanya. 

Ia juga menekankan, hari santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. 

Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa.

Korupsi dan narkoba, tambahnya, adalah turunan dari materialisme dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. 

Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq. 

“Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72,” pungkas Kiai Said.

Apel akbar ini didahului dengan melantunkan mars “Ya Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah, pembacaan teks Pancasila, dan deklarasi ikrar santri. 

Sebelumnya, Sabtu, 21 Oktober 2017 malam, pembacaan 1 miliar shalawat nariyah digelar di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.

Apel hari santri juga digelar di berbagai daerah. Selain upacara mereka juga menyelenggarakan serangkaian acara, mulai dari lomba-lomba, ziarah ulama Nusantara, diskusi, shalawat, dzikir, dan kegiatan lainnya.

(by/tribunnews.com/nu.or.id)

Iklan Alex Indra Lukman
Previous
« Prev Post

Komentar Anda:

Loading...

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *