PADANG

SUMBAR

Iklan Bapenda

Soal Puisi Neno, PPP: Paham Intoleran Tersemat di Kelompok 02

          Soal Puisi Neno, PPP: Paham Intoleran Tersemat di Kelompok 02
Ketua Umum PPP, Romahurmuziy atau Rommy.
Soal Puisi Neno, PPP: Paham Intoleran Tersemat di Kelompok 02
BENTENGSUMBAR. COM - Ketua Umum PPP, Romahurmuziy atau Rommy menyarankan agar Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman segera bertobat. Saran Rommy itu menanggapi 'Puisi Munajat 212' yang dibaca oleh Neno saat acara Munajat 212 di Monas.

"Saya kira apa yang disampaikan oleh Mbak Neno Warisman adalah hiperbolisme beragama, karena seolah-olah kemudian dirinya merasa yang paling benar. Inilah yang sebenarnya sebuah paham intoleran yang hari ini semakin berkembang dan tersemat kepada kelompok-kelompok pendukung 02," kata Rommy kepada wartawan di sela acara Halaqah Alim Ulama bertema 'Merawat Ukhuwah Islamiyah, Melawan Hoax dan Fitnah' di kompleks Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Sabtu, 23 Februari 2019.

Rommy pun menyebut sebagai sebuah kenaifan menyatakan kalau kemudian pasangan 02 tidak menang maka tidak ada yang menyembah Allah.

"Memangnya umat Islam mayoritas itu ada di mana? Hari ini kan umat Islam mayoritas ada di pasangan 01, kalau kemudian dia mengatakan tidak menyembah memangnya yang di 01 kafir semua?" ujarnya.

Rommy pun mengingatkan Neno jangan beragama dengan cara seperti itu. Karena hal itu menunjukkan awal dari kesesatan, yakni ketika merasa dirinya paling benar.

"Padahal keagamaan kita itu baru akan dinilai oleh Allah kapan? Pada saat hari agama, kapan hari agama itu? Kalau umat Islam itu rajin salat 17 rakaat sehari, maka 17 kali setidaknya kita mengucapkan maliki yaumiddin, jadi hari agama itu adalah yaumil qiyamah, jadi keagamaan kita itu baru dinilai oleh Allah pada yaumil qiyamah," urai Rommy.

"Lho ini kok sudah menghakimi seolah-olah yang ada di paslon 01 semuanya tidak akan menyembah Allah. Jadi saya berharap beragamalah dengan sejuk. Mbak Neno ada kebenarannya, tapi bukan berarti tidak punya salah, di sini mungkin ada salahnya tapi tidak berarti kemudian tidak ada benarnya. Jadi mari kita sama-sama tidak menggunakan politisasi agama secara membabi buta sehingga kemudian menutupi kemuliaan agama itu sendiri," sambungnya. 

Rommy menilai puisi Neno itu berbahaya karena mengadu domba dan menginsiniasi kebencian.

"Seolah-olah di sana adalah penyembah Allah dan di sini tidak penyembah Allah, seolah-olah di sana pembela Islam dan di sini tidak pembela Islam. Lhoh yang menghormatkan ulama itu kan di sini dengan meletakkan Kiai Maruf sebagai calon wakil presiden, sementara di sana ijtima ulama saja ditolak. Yang menghormati agama itu kan capres dan cawapres di sini yang ketahuan salat 5 waktu dan puasanya, tidak di sana yang setiap hari Jumat ditanya Prabowo salat Jumatan di mana, gitu lho. Jadi janganlah diputarhaluankan umat ini dengan sebuah penyesatan-penyesatan yang tidak perlu," imbuhnya. 

"Mbak Neno tobatlah secara utuh, dan tidak merasa dirinya sebagai orang yang paling benar di dalam beragama ini. Dan yakinilah bahwa kebenaran itu bisa ada di sisi mana saja, baik pendukung 01, 02, maupun tidak pendukung siapa-siapa," pungkasnya.

Menurut Rommy, politisasi agama justru akan merendahkan agama itu sendiri. Rommy pun mengungkit pernyataan Amien Rais yang mengibaratkan kontestasi Pilpres 2019 dengan istilah Perang Badar. 

"Kita masih ingat bagaimana Prof Dr Amien Rais juga mengibaratkan peperangan ini sebagai Perang Badar, kontestasi 01-02. Perang Badar apanya wong sama-sama umat Islam kok Perang Badar, ini tau sejarah apa ndak sih, saya kira itu," ujarnya. 

Rommy memastikan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin akan tetap mengedepankan kontestasi secara santun. Dia menyebut masyarakat membutuhkan kontestasi Pilpres dijalankan dengan aman, sejuk dan damai.

"Kalau soal mereka hobinya nyerang, memang bisanya hanya itu, sebagai kontender mereka tidak punya prestasi. Kontender itu artinya penantang, mereka ini prestasi tidak punya, berbuat juga belum, maka yang bisa dilakukan hanya klaim-klaim saja. Kalau mereka klaim ya kita lawan dengan pelurusan atas klaim itu benar nggak, misalnya klaim mereka dibela ulama, ulama yang mana, banyak ulama mana di sana dengan di sini, wong banyak ulama yang di sini kok di sana klaim, misalnya seperti itu," urainya.

"Ini pertarungan politik biasa, di sini ada ulama di sana juga ada ulama, di sini ada yang benar di sana juga ada yang benar. Marilah kita bertanding dengan sportif dan tidak mengintimidasi rakyat yang justru membuat rakyat banyak yang apatis dengan politik. Janganlah tingkat partisipasi politik sebesar 75 persen pada 2014, menurun hanya gara-gara rakyat itu takut dengan hasil Pemilu besok yang disebabkan kampanye politik yang menakut-nakuti, pemimpin yang baik itu membangun optimisme dan memberi harapan bagi rakyatnya, bukan menakuti rakyatnya," pungkasnya.

(Source: detik.com)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *