Headline

Opini

PADANG

Sports

Catatan Reko Suroko: Hilang Rasa

          Catatan Reko Suroko: Hilang Rasa

Catatan Reko Suroko: Hilang Rasa
SALAH satu pertanda seseorang terpapar virus Corona adalah kehilangan  indra perasanya, atau hilang rasa. Kondisi Hilang Rasa rupanya tak saja diderita para pasien Covid-19. Tapi banyak aparat di berbagai lapisan juga memperlihatkan sikap Hilang Rasa. Sikap itu terutama dipertontonkan saat pelaksanaan PPKM ( Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Jawa dan Bali,


Kepekaan mereka sirna, rasa empati mereka hilang. Mereka seperti kehilangan rasa ber-Tuhan. Yang ada sopo siro, sopo ingsung ( siapa saya, siapa kamu). Para manusia hilang rasa  kemanusiaannya, bagaikan mengejawantah menjadi makhluk lain, bukan manusia lagi.


Masyarakat di lapis bawah, terutama pedagang,  paling merasakan Hilang Rasa  dari tindakan para aparat.  Aparat yang mestinya melayani dan mengayomi masyarakat, malah sebagian besar berperan sebaliknya. Mereka memperlihatkan kepongahan dan kesombongan seolah yang paling hebat.


Bahkan, peristiwa yang menimpa salah satu anggota Paspampres, di Jakarta, itu menunjukkan kepongahan aparat. Entah kepongahan itu dipertontonkan demi apa? Demi jabatan? Padahal, anggota Paspampres sudah menyebut lembaganya, tapi tetap saja dihardik.


Untung, anggota Paspampres menunjukkan kematangan sikap dan mengalah meski dibentak-bentak oleh empat aparat. Ini memperlihatkan kepongahan dan kebodohan aparat, kegarangan tak menyelesaikan masalah, justru sebaliknya.


Ulah Satpol Gowa


Lain lagi sikap jumawa yang dipertontonkan oleh oknum Satpol PP, ini kali dari Kabupaten Gowa. Tayangan dari video di Tik-Tok ataupun IG itu mempertontonkan tamparan lelaki kepada seorang perempuan, hamil pula. Itulah contoh sikap Hilang Rasa dari seorang aparat.


Kesombongannya menutupi  hatinya, bahwa dia dilahirkan dari seorang perempuan. Kepongahannya mengubur akhlak mulia yang telah didakinya selama hidupnya.


Boleh jadi, masih banyak perilaku aparat yang Hilang Rasa dan berbuat dzolim kepada masyarakat. Para pedagang yang menangis dagangannya diangkut ke truk, atau pedagang yang gerobaknya dijungkirkan. Cerita-cerita semacam itu banyak ditemukan di medsos. Apakah itu hoak? Jika ada yang menilai begitu, dia juga mengidap Hilang Rasa.


Koordinator PPKM Juga Hilang Rasa


Koordinator PPKM Darurat yang juga Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, juga terserang Hilang Rasa. Ketika dia merespon kritik dari beberapa pihak, menurutnya penanganan Covid-19 terkendali. Di bawah ini kutipan ucapan Luhut.


“Jadi yang bicara tidak terkendali itu bisa datang ke saya, nanti saya tunjukkin ke mukanya bahwa kita terkendali, jadi semua kita laksanakan,” kata Luhut dalam pernyataan pers seperti disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 12 Juli 2021


Jika pejabat sekaliber Luhut saja bisa Hilang Rasa, hilang rasa kemanusiannya. Entah apa yang sedang menyelimuti hati Luhut. Mestinya, Luhut sadar bahwa lawan politiknya  menanti sikap dan ucapannya yang tergelincir. Dan itu terjadi.


Berbagai tantangan pun bermunculan mulai dari mahasiwa hingga wartawan senior dari Forum News Network (FNN), Edy Mulyadi. Edy menantang Luhut bahwa penanganan Covid-19 belum terkendali. Dia siap mengadu data dan dia meminta debatnya  disiarkan secara luas.


Ini menunjukkan ucapan yang bernada menghardik dan jumawa berbuah petaka bagi Luhut. Bukan petaka phisik, tapi wibawanya pelan-pelan tergerogoti sikapnya sendiri.


Belakangan Luhut memperbaiki ucapannya seperti yang dilansir Rakyat Merdeka (Minggu, 18 Juli 2021).


Tidak seperti biasanya, Luhut memberikan keterangan dengan membaca secarik kertas yang dipegangnya. Tata bahasanya teratur, tidak ceplas-ceplos. Termasuk, saat mengutarakan permohonan maaf kepada rakyat Indonesia.


“Sebagai koordinator PPKM Jawa-Bali, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia jika belum optimal. Saya berjanji bekerja keras supaya penyebaran varian Delta ini dapat diturunkan,” ujarnya, sambil menunduk membaca teks.


Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Luhut menyadari  pilihan cara berkomunikasi yang dipilihnya keliru. Dia berusaha memperbaikinya, dan Luhut mendapatkan kembali Rasa-nya. Maka, publik pun dapat menerima permintaan maaf itu.


Menonton Sinetron


Ini ada lagi pejabat juga yang Hilang Rasa. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memanfaatkan masa PPKM dengan menonton sinetron Ikatan Cinta.   "PPKM memberi kesempatan kpd sy nonton serial sinetron Ikatan Cinta. Asyik jg sih, meski agak muter-muter," tulis Mahfud MD seperti dikutip Kompas.com dari unggahan akun Twitter-nya, Jumat (16/7/2021).


Boleh jadi, Mahfud tak manyadari bahwa Hilang Rasa . Dia enteng saja mencuitkan suara hatinya, di tengah-tengah masyararakat menghadapi pertaruhan nyawa dan masa depan. Rumah Sakit yang kewalahan memberi pelayanan ke pasien Covid-19. Termasuk ruang ICU yang tak mampu tampung pasien.


Mungkin sebagai Menko Polhukam tak peduli ada perlawanan dari  pedagang di Surabaya atas PPKM. Berikut  ini kutipan dari detik.news, Minggu (11/Juli/2021).


Operasi PPKM darurat di Bulak Banteng, Kenjeran Surabaya pada Sabtu (10/7) malam berakhir ricuh. Warga yang tak terima ditertibkan melawan dan melempari mobil polisi.


Kejadian itu bermula pada pukul 22.00 WIB saat petugas gabungan yang terdiri dari Polsek Kenjeran, Satpol PP, dan kecamatan menggelar operasi PPKM Darurat. Saat itu petugas hendak menyita KTP pengunjung di salah satu warung di Jalan Bhinneka Raya, Bulak Banteng Baru.


Bahkan, di Maluku terjadi demo yang melibatkan sejumlah mahasiswa. Demo ini juga menolak PPKM Darurat. Berikut kutipan beritanya dari Kompas.com (15/7/2021).


Ratusan mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon berunjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Ambon, Kamis (15/7/2021).


Mereka menolak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang diperketat di Kota Ambon.

Boleh jadi, sebagai Menko Polhukam sudah menerima laporan kejadian itu. Hanya saja, publik tak perlu tahu langkah-langkah yang telah diambilnya sebagai Menko Polhukam.


Jika benar itu yang terjadi, mestinya sebagai Menko Polhukam tak perlu bermain sosmed. Ini justru mempertontonkan Mahfud MD kehilangan kepekaan sosial, alias Hilang Rasa.


Ditulis Oleh: Reko Suroko, Wartawan Senior di Solo.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...