Headline

Opini

PADANG

Sports

Generasi Muda Butuh Pendidikan Karakter Berlandaskan Kebudayaan Indonesia dengan Jiwa Pancasila

          Generasi Muda Butuh Pendidikan Karakter Berlandaskan Kebudayaan Indonesia dengan Jiwa Pancasila
Generasi Muda Butuh Pendidikan Karakter Berlandaskan Kebudayaan Indonesia dengan Jiwa Pancasila.
BENTENGSUMBAR.COM - Untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang besar, kita perlu berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menggapai cita-cita ini membutuhkan energi bangsa yang bersumber dari akar kehidupan bangsa kita sendiri, yaitu kebudayaan Indonesia berlandaskan jiwa Pancasila.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani atas keprihatinannya melihat budaya bangsa yang kian terkikis oleh perkembangan teknologi. Puan melihat  kebudayaan Indonesia yang berlandaskan pada jiwa bangsa Indonesia mulai pudar di tengah masyarakat.

“Saat ini terdapat perkembangan aktual yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara yang perlu menjadi atensi kita bersama,” kata Puan.

Mantan Menko PMK tersebut menjelaskan bahwa sejak era reformasi terdapat kecenderungan untuk menempatkan politik sebagai instrumen penting dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Peran politik dari semua unsur, lanjut dia, terus membesar dan menguasai segala sendi kehidupan baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas  bangsa. 

“Gejala ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa seringkali praktik politik sudah tercerabut dari nilai-nilai moral, nilai-nilai budaya, dan nilai nilai kebangsaan yang bersumber dari jiwa bangsa Indonesia, yaitu Pancasila,” kata Puan.

Dia pun menyadari bahwa kemajuan teknologi telah membawa masyarakat dan bangsa ke dunia yang lebih terbuka dan terhubung secara sosial, ekonomi, budaya, dan politik. 

“Tapi tanpa memiliki ketahanan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang memadai,  maka relasi global tersebut dapat menjadikan hubungan antar bangsa dan negara berada dalam hubungan eksploitasi maupun neo-kolonialisme baru,” tutur perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR ini.

Pada era Revolusi Industri 4.0, persaingan antar kekuatan ekonomi dunia, baik negara  maupun korporasi, tidak lagi memandang batas negara. Semua objek eksploitasi dan pasar menjadi sasaran.

Meski demikian, tak dimungkiri bahwa kemajuan teknologi tentu saja telah membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik. Di sisi lain, dampak negatif dari teknologi ini tidak bisa dihindari, seperti dua sisi mata uang yang saling berkelindan.

“Apabila tidak diantisipasi, dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk fenomena smartphone, akan menciptakan kondisi di mana generasi muda mengalami disorientasi,” kata Puan.

Menurut dia, generasi muda rentan terdampak negatif akibat kemajuan teknologi informasi. Hal ini mempengaruhi cara pandang mereka terhadap kehidupannya sebagai warga bangsa Indonesia.

“Dikhawatirkan generasi muda ini akan menjadi pribadi soliter yang asyik dengan diri sendiri, memiliki kompetensi sosial rendah, dan miskin etika dan norma sosial,” tutur Puan penuh kekhawatiran.

Jika hal tersebut dianggap remeh, lanjut dia, generasi penerus bangsa ini akan tercerabut dari akar-akar budaya bangsa yang baik, termasuk dalam hal etika maupun moral sebagai komunitas bangsa. Alhasil, mereka tenggelam dalam pusaran gejolak disrupsi yang dihasilkan dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. 

“Dalam jangka panjang, dampak negatif ini dapat menghasilkan gambaran manusia Indonesia di masa depan yang menjadi sangat kabur,” ucap Puan.

Padahal, menurut dia, pemikiran tentang kebudayaan sebagai landasan untuk kehidupan berbangsa, sudah dilakukan oleh para founding fathers Indonesia. Mereka merintisnya sejak masa akhir pemerintah penjajahan Belanda, ketika  mereka mulai menggagas formasi bangsa Indonesia yang mereka cita-citakan.

“Para founding fathers sudah menyadari sejak  awal bahwa bangsa Indonesia yang mereka  cita-citakan harus diciptakan dari hasil sebuah kesepakatan dan merupakan hasil dari sebuah rekayasa sosial politik dan kultural,” kata Puan.

Gagasan mengenai kesepakatan itu, lanjut dia, tentu tidak datang secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari sebuah proses yang  panjang. Kesepakatan itu terjadi justru karena keberagaman yang ada di dalam masyarakat Indonesia sendiri yang bersumber dari pengalaman kolektif yang sama.

Selama lima tahun menjabat sebagai Menko PMK di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, Puan terlibat langsung, bahkan mengkoordinasikan program yang penting untuk menanamkan kembali benih kebudayaan bangsa tersebut kepada generasi muda. Harapannya, upaya ini dapat menghalau dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang kian masif.

“Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter terus  mendapatkan penekanan seiring dengan program pemerintah untuk melaksanakan  revolusi mental,” kata Politikus PDI Perjuangan ini.

Meski demikian, Puan melihat bahwa pendidikan karakter dan revolusi mental perlu memiliki pijakan kokoh yang berbasis kepada kebudayaan bangsa. Oleh karena itu diperlukan penguatan kebudayaan bangsa sebagai landasan dalam pembangunan manusia Indonesia.

“Dengan jiwa kebudayaan bangsa yang menguat dalam diri masyarakat, terutama generasi muda, cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar menjadi semakin nyata,” ujar Puan.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...