Headline

Opini

SOROT

Sports

Karlina Supelli, Sosok Astronom Perempuan Pertama di Indonesia

          Karlina Supelli, Sosok Astronom Perempuan Pertama  di Indonesia
Karlina Supelli, Sosok Astronom Perempuan Pertama  di Indonesia.
HIDUP di era yang semakin maju ini bukan suatu hal yang lumrah lagi apabila seorang perempuan menjadi sosok yang berperan penting bagi orang banyak.

Keterlibatan kaum perempuan menjadi upaya untuk mewujudkan dan membangun negara yang sejahtera. Ini diperlukan bagi keberhasilan bersama.

Hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan sosok perempuan hebat yang dikenal sebagai sosok astronom perempuan pertama di Indonesia.

Banyak dari kita yang belum mengenal dengan sosok tersebut. Karlina Rohima Supelli atau yang lebih dikenal dengan Karlina Supelli merupakan filsuf perempuan  di Indonesia.

Karlina dilahirkan di Jakarta pada 15 Januari 1958. Karlina merupakan peranakan Indonesia dan Belanda. Dia adalah anak dari pasangan Supelli dan Margaretha. Ayahnya adalah orang Sunda asli, sementara ibunya berkebangsaan Belanda.  

Diketahui setelah lulus SMA, Karlina melanjutkan pendidikannya Fakultas Matematika Ilmu Alam (MIPA) Jurusan Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Karlina memiliki minat yang sangat dalam terhadap fisika, matematika dan metafisika. Tidak lama kemudian Karlina juga tertarik mendalami filsafat.

Karlina melanjutkan pendidikannya sampai gelar doktor astronomi (MSc) di bidang Space Science yang diperoleh dari University College of London, Inggris. 

Sedangkan,  Karlina juga mengejar gelar doktor filsafat Universitas Indonesia. Dia membuat judul disertasi "Kosmologi empiris konstruktif: Suatu Telaah Filsafat Ilmu Terhadap Asas Antropik Kosmologis". Karlina merampungkan disertasinya di UI tahun 1997.   

Pada sebuah wawancara, sebelum masuk Filsafat, Karlina tertarik pada Kosmologi. Karlina dalam penelitiannya banyak menemukan pertanyaan mendasar yang tidak bisa dia temukan jawabannya secara empiris. 

Dari filsafat lah, menurut Karlina, dia bisa menemukan jawaban serta penjelasan dari pertanyaan yang dia miliki.

Pada tahun 1992, Karlina melanjutkan jenjang pendidikannya ke program Magister Filsafat UI. Karlina menemukan hubungan antara semua ilmu yang dikuasainya melalui pendidikannya di jenjang program doktor Filsafat. 

Karlina memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dianggap kebenaran ilmiah dalam kosmologi, sebenarnya hanya konstruksi benak manusia dan selalu berubah.

Karlina juga merupakan sosok yang aktif dalam berorganisasi. Saat masih menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (ITB), Karlina merupakan aktivis kampus dan menjabat menjadi Ketua Himpunan.

Pada tahun 1998 saat reformasi, Karlina mendadak menjadi sorotan media karena ia menjadi salah satu aktivis perempuan yang memperjuangkan hak-haknya pada masa itu.

Karlina sampai harus ditahan pihak berwajib di Polda selama 23 jam. Alasannya, Karlina ditahan karena didakwa dengan tuduhan melanggar Pasal 510 KUHP. Aksi Karlina dalam bidang kemanusiaan tak berhenti di sana. 

Setelah itu, bersama para tokoh pro pemberantasan korupsi Indonesia, Karlina juga melayangkan seruan dan kritikan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dia melihat kepemimpinan SBY yang dinilai kurang kuat dalam membangun ketertiban hukum. Dalam aksi itu, para tokoh juga menandatangani sebuah surat seruan terhadap Penyelamatan Bangsa dan dukungan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut tuntas kasus korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M.Nazaruddin.

Dengan melihat kembali perjalanan seorang Karlina sosok astronom perempuan pertama di Indonesia yang memberikan inspirasi bagi kita para perempuan untuk menjadi lebih baik. Perempuan tidak semata hanya berada di zona yang sama.

Perempuan juga berhak menuntut hak-haknya seperti menempuh pendidikan, dan ikut berperan di tengah masyarakat. Karlina juga pernah mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kemampuan berpikir yang sama dengan laki-laki. Jadi tidak menjadi suatu alasan bahwa perempuan menjadi halangan untuk berkembang di tengah masyarakat apalagi membangun negara yang sejahtera. 

Penulis: Khofifa Idris Tayib, Anggota Perempuan Indonesia Satu.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...