Headline

Opini

SOROT

Sports

Martha Christina Tiahahu: Pahlawan Nasional Perempuan Termuda di Indonesia

          Martha Christina Tiahahu: Pahlawan Nasional Perempuan Termuda di Indonesia
Martha Christina Tiahahu: Pahlawan Nasional Perempuan Termuda di Indonesia.

Martha Christina Tiahahu: Pahlawan Nasional Perempuan Termuda di Indonesia
SRIKANDI Maluku itu bernama Martha Christina Tiahahu. Perempuan asal Nusalaut yang menjadi Pahlawan Nasional termuda di Indonesia. Berbeda dengan remaja perempuan lain pada umumnya, Martha menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk berjuang melawan Belanda.


Martha adalah seorang anak dari Kapiten terpandang di Maluku, Kapiten Paulus Tiahahu. Ibunya yang bernama Sina meninggal saat Martha masih kecil. Karena itu, ia sangat dekat dengan sang ayah dan selalu ikut ke mana pun ayahnya pergi, termasuk mendampingi ayahnya di medan perang. Sejak kecil memang Martha dikenal sebagai pribadi yang pemberani dan berkemauan keras.


Sebelum terjun ke medan perang, dirinya sudah sering ikut ayahnya menghadiri rapat perencanaan perang. Martha ikut memperhatikan saat ayahnya mengatur pertempuran dan membuat kubu pertahanan. Saat menginjak 17 tahun, ia pun memohon kepada ayahnya untuk ikut turun ke medan perang. Setelah berkali-kali meminta, akhirnya sang ayah mengabulkan permintaan Martha.


Perang di Nusalaut dan Saparua


Pada 14 Mei 1817, Kapiten Pattimura mendapat kepercayaan dari Kapiten Paulus dan kapiten-kapiten di sekitar Saparua untuk memimpin komando perlawanan di Benteng Duurstede, Saparua. Dalam serangan tersebut, Residen van den Berg terbunuh dan Benteng Duurstede berhasil dikuasai oleh pasukan rakyat.


Setelah itu, Kapiten Pattimura membagikan wilayah kekuasaan kepada masing-masing kapiten. Kapiten Paulus mendapat perintah untuk memimpin penyerangan di Nusalaut. Martha pun ikut bersama pasukan ayahnya ke Nusalaut.


Martha tak pernah lelah mendampingi ayahnya melawan musuh dan membuat kubu-kubu pertahanan. Dengan rambut panjang terurai ke belakang, ia begitu andal menggunakan tombak dan bambu runcing saat menghadapi musuh. Pasukan Kapiten Paulus pun berhasil merebut Benteng Beverwijk dari tangan Belanda. Seluruh tentara Belanda yang menjaga benteng tersebut tewas terbunuh.


Dari Nusalaut, pasukan Kapiten Paulus bersama para raja dan patih Nusalaut melanjutkan perlawanan ke daerah negeri Ulath dan Ouw, Saparua. Mereka ingin membantu Kapiten Pattimura yang sudah bertempur di sana lebih dulu. Sayangnya, perpindahan ini membuat Benteng Beverwijk luput dari perhatian sehingga direbut kembali oleh Belanda tanpa perlawanan.


Pada 11 Oktober 1817, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Richemont bergerak ke Ulath. Pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan gabungan pasukan Nusalaut dan Saparua pun terjadi. Pasukan rakyat berhasil melawan mundur tentara Belanda.


Selang beberapa hari kemudian, Richemont dan Mayor Beetjes kembali ke Ulath bersama 100 orang prajurit. Dalam pertempuran ini, Richemont tertembak mati. Sementara itu, Mayor Beetjes dan pasukannya berusaha bertahan di tanjakan negeri Ouw.


Di medan tersebut, Mayor Beetjes dan pasukannya tak hanya berhadapan dengan pejuang-pejuang pria pemberani, tetapi juga dengan para pejuang perempuan yang tak kalah berani. Ternyata, Martha telah mengajak para perempuan negeri Ulath dan Ouw untuk ikut membantu para pria di medan perang. Bersama-sama mereka berhasil melumpuhkan Mayor Beetjes setelah sebuah peluru mengenai leher sang pemimpin.


Setelah Mayor Beetjes gugur, komando tentara Belanda diambil alih oleh Kapten Vermeulen Kringer. Pada 12 Oktober 1817, ia memerintahkan pasukannya untuk melakukan serangan umum terhadap pasukan rakyat. Dalam serangan tersebut, Kapiten Paulus dan Martha tertangkap dan dibawak ke Kapal Eversten. Bersama para tawanan lainnya, mereka diinterogasi oleh birokrat Belanda, Buyskes, dan dijatuhi hukuman.


Martha yang masih berusia sangat muda dibebaskan dari hukuman, sedangkan Kapiten Paulus dijatuhi hukuman mati. Martha sempat memberontak dan berusaha membujuk tentara Belanda agar hukuman ayahnya dilimpahkan kepada dirinya. Namun, permintaannya tidak digubris oleh tentara Belanda.


Pada 16 Oktober 1817, Martha dan ayahnya dibawa kembali ke Nusalaut. Mereka ditahan di Benteng Beverwijk sambil menunggu eksekusi mati Kapiten Paulus. Kapiten Paulus menjalani eksekusi mati pada 17 November 1817 di tanah lapang. Pada saat itu, Martha dibawa masuk ke sebuah ruangan agar tidak melihat proses eksekusi sang ayah.


Menghembuskan napas terakhir di Laut Banda


Sejak ayahnya meninggal, kesehatan Martha terus menurun. Ia tak lagi semangat dan lincah seperti dulu. Kesedihan mendalam juga membuatnya tidak napsu makan dan sering jatuh sakit.


Pada Desember 1817, Martha dan 39 orang lainnya diberangkatkan oleh Belanda ke Pulau Jawa dengan Kapal Eversten. Mereka akan dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Selama di perjalanan menuju Pulau Jawa ini kondisi kesehatan Martha semakin memburuk. Ia menolak makan dan minum obat.


Martha menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 Januari 1818, saat berada di atas Laut Banda. Jenazahnya disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda. Saat itu Martha masih berusia 17 tahun. Perempuan pemberani ini kemudian diakui sebagai Pahlawan Nasional termuda pada 20 Mei 1969. 


Penulis: Imelda, Anggota Perempuan Indonesia Satu

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...