Headline

Opini

PADANG

Sports

Puan Maharani: Pentingnya Transfer Budaya Kepada Generasi Muda Melalui Platform Digital

          Puan Maharani: Pentingnya Transfer Budaya Kepada Generasi Muda Melalui Platform Digital
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan pentingnya transfer budaya bangsa kepada para generasi muda melalui platform digital. Saat ini, dia mengatakan bahwa gempuran budaya asing kian tak terkontrol dan dikonsumsi secara masif oleh anak-anak muda tanpa filter yang kuat.

“Saatnya anak-anak muda bangsa mengenal budaya asli bangsa, agar kemudian mereka bisa menjiwainya dalam kehidupan sehari-hari, lalu mewariskannya kepada cucu-cucu kita nanti,” kata Puan dalam keterangan tertulisnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020. Jumlah penduduk Indonesia hingga September 2020 tercatat sebanyak 270,20 juta jiwa, bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan sensus penduduk 10 tahun lalu.

Berdasarkan data yang ada, komposisi penduduk di Indonesia didominasi oleh Generasi Z dan Milenial, dengan masing-masing sebanyak 27,94% dan 25,87%. BPS mengelompokkan Gen Z lahir antara tahun 1997-2012, dengan usia saat ini 8-23 tahun. Sedangkan orang-orang Milenial lahir antara 1981-1996, dengan usia saat ini 24-39 tahun.

“Generasi Milenial dan Generasi Z akan menjadi pewaris budaya-budaya Nusantara. Mereka yang akan menjadi agen-agen yang melestarikan jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sejak dini mereka harus dipersiapkan agar dapat menjiwai budaya bangsa,” tutur Puan.

Gen Z merupakan generasi yang terlahir di tengah kemajuan teknologi informasi. Mereka terbiasa mengoperasikan smartphone dan menjelajah internet sejak usia dini. Oleh karenanya mereka pun tumbuh sebagai digital native.

Sementara itu, Gen Y atau Generasi Milenial mengenal dunia digital ketika usia mereka cukup matang. Mereka merupakan jembatan yang berada di tengah-tengah antara Gen Z dan Gen X (generasi sebelum generasi Milenial).

“Komunikasi digital sangat penting dalam mewariskan nilai-nilai kebudayaan bangsa ini. Melalui media sosial dan platform digital lain, generasi muda lebih mudah untuk mengakses informasi mengenai budaya Indonesia,” kata Puan.

Di sisi lain, Gen Z juga memiliki perilaku unik yang penting dicatat agar proses alih-budaya bisa berjalan efektif. Riset McKinsey & Company yang berjudul True Gen: Generation Z and its implication for companies menyatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang bebas berekspresi dan memiliki perilaku unik.

Perilaku unik ini di antaranya, mereka kurang suka mendefinisikan dirinya dalam satu bentuk, menyukai kehidupan berkelompok yang saling terkoneksi, serta fasih dalam mengungkapkan pendapat mereka di depan umum.

“Pengenalan terhadap nilai budaya bangsa ini harus tepat strateginya, dan menyesuaikan perilaku khas dan gaya hidup anak-anak muda. Nilai gotong royong, persatuan dalam keberagaman, dan lain sebagainya harus dirangkum sedemikian rupa agar mampu dipahami oleh generasi muda,” ujar Puan.

Mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini melihat bahwa anak muda, tepatnya Gen Z memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka punya empati terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya yang mereka kenal.

Hal tersebut tampak dari beragam bentuk solidaritas yang kerap digalang oleh Gen Z melalui media sosial. Terlebih lagi ketika gerakan sosial tersebut dipopulerkan oleh tokoh yang mereka gemari.

“Saya pikir sudah saatnya kita melakukan transformasi dalam mencari cara mewariskan budaya bangsa kepada anak-anak muda. Kita bisa mengajak para influencer atau para tokoh yang populer di dunia maya untuk membangkitkan kecintaan anak muda terhadap budaya bangsa,” ucap perempuan yang menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia ini.

Keberagaman budaya pun, lanjut Puan, bisa diangkat dari aspek-aspek yang berbeda. Misalnya dari sisi kuliner, Indonesia kaya akan makanan khas daerah yang sering kali sudah terlupakan dan semakin langka ditemukan.

“Memperkenalkan makanan khas Indonesia berarti juga menyebarkan budaya bangsa. Apalagi kalau disisipi dengan pengetahuan mengenai nilai-nilai kearifan lokal di balik kebiasaan menyantap makanan di daerah tertentu,” kata Puan.

Dia mencontohkan tradisi makan bersama dalam satu “piring besar” berupa daun pisang yang biasanya dilakukan oleh orang yang berasal dari suku Sunda.

Saat bersantap ini menjadi waktu mempererat tali persaudaraan. Selain itu, penggunaan daun pisang bisa menjadi contoh kebiasaan yang ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan plastik yang sulit terurai.

“Anak muda sekarang banyak menyuarakan tentang kesadaran lingkungan, artinya mereka punya kepedulian. Ini adalah jati diri budaya bangsa, yaitu kepedulian. Jadi sebenarnya nilai-nilai budaya bangsa ini sudah mendarah daging di dalam diri generasi muda, tanpa mereka sadari. Tinggal kita memupuknya agar tumbuh menjadi lebih subur,” ucap Puan.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...