Headline

Opini

PADANG

Sports

Tata Kota Jakarta Terburuk di Dunia, Musni Bela Anies dan Sebut Penilaian RTF Tidak Akurat

          Tata Kota Jakarta Terburuk di Dunia, Musni Bela Anies dan Sebut Penilaian RTF Tidak Akurat

Tata Kota Jakarta Terburuk di Dunia, Musni Bela Anies dan Sebut Penilaian RTF Tidak Akurat
BENTENGSUMBAR.COM - Sosiolog Musni Umar mengomentari penilaian platform Arsitektur Rethinking The Future (RTF) yang menobatkan Jakarta sebagai kota dengan desain perencanaan tata ruang kota terburuk di dunia.


Menurutnya, faktor-faktor yang mendasari penilaian RTF menempatkan Jakarta di urutan pertama tata kota terburuk di dunia, tidak akurat.


Hal itu disampaikan Musni dalam tulisan berjudul 'Analisis Sosiologis: Tata Kota Jakarta Memperhatikan Lingkungan Sehat dan Asri' yang diunggah di websitenya, Rabu, 25 Agustus 2021.


"Walaupun saya menilai RTF tidak akurat dan banyak salah dalam menilai Jakarta, tetapi tetap bermanfaat bagi pemerintah provinsi DKI Jakarta dan warga Jakarta dan rakyat Indonesia untuk kritis menerima penilaian RTF," kata Musni.


Salah satu faktor dalam penilaian RTF tentang Jakarta yang dianggap tidak akurat oleh Musni Umar adalah soal ruang hijau terbuka yang kurang memadai.


Menurut Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) itu, selama empat tahun terakhir atau sejak Jakarta dipimipin Gubernur Anies Baswedan, Pemprov DKI gencar melakukan penghijauan.


"Selama 4 tahun terakhir sangat gencar dilakukan penghijauan. Pemerintah provinsi DKI Jakarta gencar membeli tanah milik warga untuk dijadikan ruang hijau terbuka," ujar Musni.


"Akan tetapi, sejak Jakarta dan Indonesia diserang pandemi Covid-19, dana pemerintah provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan yang amat drastis sehingga pembelian tanah-tanah milik warga DKI Jakarta untuk dijadikan ruang hijau terbuka untuk sementara di stop," ungkapnya.


Berikut analisa lengkap Musni Umar soal penobatan Jakarta sebagai kota dengan desain perencanaan tata ruang kota terburuk di dunia versi RTF, dikutip netralnews.com dari websitenya, arahjaya.com.


Analisis Sosiologis: Tata Kota Jakarta Memperhatikan Lingkungan Sehat dan Asri


Platform Arsitektur Rethinking The Future (RTF) menobatkan Jakarta nomor wahid dari 10 tata kota yang buruk di dunia.


Dalam artikel yang berjudul “10 Examples of bad Urban City Planning yang tayang pada situs web rethinkingthefuture.com, Jakarta, Indonesia menempati urutan pertama dengan perencanaan kota yang buruk.


Peringkat kota yang buruk di dunia.1. Jakarta, Indonesia.2. Dubai, Emirat Arab.3. Sao Paulo- Brasilia.4. Atlanta, Georgia-AS.5. Boston, Massachusetts-AS.6. Missoula, Montana-AS.7. Naypyidaw, Myanmar.8. New Orleans, Louisiana, AS.9. Dhaka, Bangladesh. 


Penilaian Tidak Akurat Tata Kota Jakarta


Platform Arsitektur Rethinking The Future menobatkan Jakarta dalam urutan pertama dari 10 kota di dunia yang memiliki tata kota buruk.


Adapun alasannya, Jakarta dinobatkan sebagai kota yang buruk dalam tata kota.


Pertama, ‘cacatnya’ perencanaan infrastruktur. Kedua, sangat padat.Ketiga, ruang hijau terbuka kurang memadai. Keempat, kemacetan lalu lintas yang ekstrem. Kelima, perluasan kota yang tidak terencana.


Memperhatikan Lingkungan Sehat dan Asri


Sebagai orang yang awam dalam bidang perencanaan tata kota saya tidak bisa memberi analisis atau komentar cacat perencanaan infrastruktur yang dikemukakan RTF. Akan tetapi, dalam 4 tahun terakhir perencanaan dan pembangunan tata kota Jakarta dilakukan dengan memperhatikan lingkungan yang sehat dan asri.


Penilaian RTF yang menempatkan Jakarta dI urutan 1 dari 10 tata kota yang buruk di dunia karena Jakarta sangat padat, sangat tidak akurat sesuai data yang bisa diakses di google, kota yang terpadat di dunia antara lain:


1. Shanghai, China merupakan kota terbesar atau terluas di China dan terpadat di dunia. Populasi penduduk Shanghai saat ini sekitar 24 juta jiwa


2. Mumbai, India, merupakan salah satu kota terpadat di dunia dengan jumlah populasi sekitar 21,3 juta jiwa.


3. Kota Meksiko merupakan kota terpadat di Amerika Latin dengan jumlah populasi 21,1 juta jiwa.


4. Kota Osaka, Jepang merupakan kota yang padat dengan populasi 20,3 juta jiwa.


5. New York termasuk kota terpadat di dunia, dengan aneka gedung pencakar langit yang mempunyai populasi 18,5 juta jiwa.


6. Kota Kairo, Mesir yang ada di wilayah tandus menjadi kota terpadat di dunia. Tercatat populasinya 19 juta jiwa yang mendiami kota ini.


7. Istanbul, Turki, merupakan kota yang padat dengan jumlah populasi sebanyak 14,6 juta jiwa.


8. Tokyo, Jepang adalah kota yang cukup padat dengan jumlah populasi 12,6 juta jiwa.


9. Moskow, Rusia merupakan kota yang padat dengan jumlah populasi 13,1 juta jiwa.


10. Jakarta, Indonesia adalah kota yang padat dengan jumlah populasi (2020) sebanyak 10,56 juta.


Dengan demikian, penilaian RTF terhadap Jakarta yang disebut kota yang sangat padat telah dibantah dengan data yang dikemukakan di atas.


Selanjutnya mengenai ruang hijau terbuka kurang memadai. Selama 4 tahun terakhir sangat gencar dilakukan penghijauan. Pemerintah provinsi DKI Jakarta gencar membeli tanah milik warga untuk dijadikan ruang hijau terbuka. Akan tetapi, sejak Jakarta dan Indonesia diserang pandemi Covid-19, dana pemerintah provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan yang amat drastis sehingga pembelian tanah-tanah milik warga DKI Jakarta untuk dijadikan ruang hijau terbuka untuk sementara di stop.


Adapun penataan Monas yang dilakukan beberapa waktu yang dijadikan alat oleh seorang anggota DPRD DKI Jakarta dari PDIP untuk menyerang Gubernur Anies Baswedan, sudah di tanami kembali pepohonan. Kawasan itu, ditata sebagai persiapan Balap Mobil Listrik Formula E yang ditunda pelaksanaannya karena pandemi Covid-19.


Mengenai kemacetan lalu lintas yang ekstrim, saya yakin data yang dipergunakan RTF adalah data lama. Dalam 3 tahun terakhir, penataan transportasi massal dan integrasi moda transportasi Transjakarta dan MRT sangat mengurangi tindak kemacetan di DKI Jakarta. Selain itu, peremajaan semua moda transportasi di DKI Jakarta, mendorong peningkatan penggunaan transportasi massal.


Oleh karena itu, saya memastikan “kemacetan lalu lintas yang ekstrim di Jakarta,” yang dikemukakan oleh RTF tidak sesuai dengan fakta yang terjadi dalam tiga tahun terakhir di DKI Jakarta.


Sebagai pengguna mobil pribadi dan juga pengguna MRT sera Transjakarta, kemacetan sudah terurai dan tidak ada kemacetan lalu lintas yang bersifat ekstrim sebagaimana dikemukakan RTF.


Mengenai perluasan kota Jakarta yang disebut tidak terencana, saya memastikan tidak benar. Kalau perluasan kota di luar Jakarta, Gubernur Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta tidak bisa banyak berbuat karena merupakan kewenangan bupati atau walikota Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi).


Walaupun saya menilai RTF tidak akurat dan banyak salah dalam menilai Jakarta, tetapi tetap bermanfaat bagi pemerintah provinsi DKI Jakarta dan warga Jakarta dan rakyat Indonesia untuk kritis menerima penilaian RTF. (netralnews)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...