PILIHAN REDAKSI

Laporan Ditolak Polda Banten, LQ Indonesia Lawfirm Ragukan Komitmen Kepolisian Tindak Oknum Polisi Smackdown Mahasiswa

BENTENGSUMBAR.COM - LQ Indonesia Lawfirm yang sejak 3 minggu lalu menjadi pelopor adanya modus Oknum POLRI terutama di Fismonde...

Iklan Bank Nagari

Pengamat Sebut Pujian Profesor Singapura Terkait Jokowi Jenius Terlalu Lebay, Singgung Borok Era Jokowi

          Pengamat Sebut Pujian Profesor Singapura Terkait Jokowi Jenius Terlalu Lebay, Singgung Borok Era Jokowi
BENTENGSUMBAR.COM - Pengamat politik digital Bambang Arianto, menilai pernyataan Profesor National University of Singapore, Kishore Mahbubani yang memuji Jokowi sebagai sosok pemimpin jenius, terlalu lebay karena sangat subjektif.

Pasalnya, menurut peneliti Institute for Digital Democracy (IDD) ini, pernyataan tersebut lebih tepat diutarakan oleh relawan maupun pendukung setia Jokowi bukan dari seorang figur akademisi.

"Sejatinya akademisi itu tentunya harus objektif dalam memberikan sebuah kesimpulan. Jelas pernyataan ini bisa merusak kaidah-kaidah ilmiah karena indikator yang digunakan dalam menyimpulkan kepemimpinan politik semakin tidak jelas," ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima BentengSumbar.com, Selasa, 12 Oktober 2021.

Apalagi di media sosial, tentu ini akan berbahaya karena publik seolah dipaksa untuk mempercayai bahwa kepemimpinan Jokowi seratus persen berhasil memuaskan rakyat. 

"Tentu ini akan menutupi beberapa kelemahan kepemimpinan Presiden Jokowi terutama dalam beberapa hal," pungkasnya.

Sebut saja, terkait pelembagaan demokrasi, perlindungan HAM, anti korupsi yang di era Presiden Jokowi justru mengalami penurunan yang drastis. 

"Coba lihat indeks demokrasi kita yang turun, kemudian corruption perception index juga makin terpuruk. Kenapa indikator ini tidak dilihat? Padahal penilaian ini dalam konteks kepemimpinan politik," terangnya.

Memang bila dikomparasi dengan model kepemimpinan sebelumnya Presiden Jokowi cukup berhasil dalam mengenjot infrastruktur dan memperbaiki birokasi yang selama ini tersumbat. 

"Tapikan dalam menilai kepemimpinan politik tidak bisa kita melihat dari satu indikator saja," pungkasnya. (by)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...