PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Puan Maharani Sebut Perempuan Sebagai Ujung Tombak Kesuksesan Vaksinasi, Maksudnya?

          Puan Maharani Sebut Perempuan Sebagai Ujung Tombak Kesuksesan Vaksinasi, Maksudnya?
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak para perempuan Indonesia untuk memaksimalkan perannya dalam mendorong literasi vaksinasi dalam lingkup keluarga. Menurutnya, para ibu merupakan ujung tombak kesuksesan program vaksinasi Covid-19 demi mengatasi pandemi.

“Saya mengajak para perempuan Indonesia untuk menyuntikkan literasi vaksin di dalam keluarga-keluarga. Karena ibu-ibu ini yang paling peduli dan berperan besar dalam mengurus kesehatan anggota keluarganya,” kata Puan dalam keterangannya tertulisnya.

Mantan Menko PMK tersebut pun mengapresiasi penyuntikan vaksin Covid-19 di Indonesia telah mencapai lebih dari 200 juta suntikan. Peran para perempuan di dalam keluarga dapat semakin mempercepat vaksinasi merata di Tanah Air.

Diketahui menurut laporan Kementerian Kesehatan, jumlah tersebut terdiri dari 123,4 juta suntikan dosis pertama, 77,1 suntikan dosis kedua, serta 1.1 juta suntikan dosis ketiga. Jadi, suntikan vaksinasi telah mencapai 201,6 juta suntikan.

Perempuan dalam keluarga

Puan Maharani menyebut di masa Pandemi Covid-19, rumah dan keluarga sudah menjadi ruang lingkup utama perempuan dalam beraktivitas. Banyak orangtua bekerja dari rumah, dan sistem pendidikan sebagian besar masih dilakukan secara daring dari rumah pula.

“Dengan kondisi seperti ini peran perempuan sebagai istri maupun ibu dalam sebuah keluarga menjadi semakin penting sebagai pendidik bagi anak-anaknya, termasuk dalam menumbuhkan budaya literasi,” kata Puan.

Literasi yang dimaksud tersebut bukan hanya soal vaksinasi. Menurut Puan, perempuan harus menumbuhkan kemampuan literasi yang kuat sejak dini dalam keluarga.

“Ketika budaya membaca di rumah menjadi sebuah kebiasaan maka anak-anak akan terbiasa menjadikan buku atau bahan bacaan sebagai rujukan untuk mendapatkan informasi,” ucapnya.

Kemampuan tersebut penting, lanjut Puan, agar generasi muda nanti bisa memilah informasi yang benar dan yang salah. Hal ini semakin penting di era digital ketika hoax bertebaran setiap hari. Dia pun menekankan bahwa literasi digital sangat penting jika Indonesia ingin mampu bersaing dengan negara lain.

“Begitu juga budaya menulis ketika sejak dini anak-anak sudah dibiasakan menulis maka mereka akan terbiasa untuk menjelaskan pemikirannya dengan tulisan,” lanjutnya.

Meski demikian, Puan menyadari peran tersebut tak mudah untuk dilaksanakan sehari-hari. Sebagai sesama perempuan, dia mengerti bahwa tanggung jawab itu berat dan menguras energi.

“Bukanlah tugas yang mudah bagi perempuan untuk aktif berpartisipasi dalam meningkatkan budaya literasi. Apalagi kita tahu bahwa banyak ibu sekarang yang memiliki dua peran, yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus bekerja,” paparnya.

“Secara pribadi saya sebagai perempuan yang juga harus bekerja dan sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Saya yakin yang namanya perempuan pasti kreatif dan banyak idenya,” lanjutnya.

Pentingnya literasi

Puan mengatakan, kemampuan literasi merupakan kemampuan mendasar yang dapat menjadi pijakan bagi seseorang untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik, bagi dirinya sendiri maupun bagi banyak orang.

“Dengan memiliki kemampuan literasi seperti membaca, menulis, serta mengolah dan memahami informasi, maka seseorang bisa menyerap begitu banyak ilmu pengetahuan, bisa berkomunikasi secara tertulis, bisa berpikir kritis, dan memiliki keahlian problem solving,” kata Puan.

Oleh karenanya, Politikus PDI Perjuangan ini menekankan pentingnya budaya literasi agar ditanamkan sejak dini di tingkat keluarga terutama kepada anak-anak.

“Maka Insya Allah mereka akan tumbuh dewasa dengan budaya literasi yang kuat,” pungkasnya.

Alumni FISIP Universitas Indonesia tersebut pun mencontohkan R.A. Kartini sebagai sosok perempuan yang memiliki kemampuan literasi tinggi, meskipun hidup di zaman yang belum memiliki akses mudah terhadap ilmu pengetahuan.

“Jika R.A. Kartini tidak memiliki kemampuan literasi, maka tidak akan ada buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan surat-surat yang ditulis R.A. Kartini yang isinya sudah menginspirasi banyak Kartini-Kartini lintas generasi hingga masa kini,” kata Puan.

Selain itu, dia juga menyebut bahwa para founding fathers Indonesia sangat kuat kemampuan literasinya. Hal ini dapat dilihat dari Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 dapat tersusun dengan begitu baik sehingga terus menjadi pegangan sampai saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita harus mengingat bahwa meningkatkan budaya literasi adalah bagian dari usaha untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” ucap Puan.

Lebih dari itu, lanjutnya, jika kita ingin mewujudkan seluruh cita-cita kemerdekaan yang ada di dalam pembukaan UUD 1945, bangsa Indonesia harus menjadi bangsa dengan budaya literasi yang tinggi.

“Jika kita ingin memajukan peradaban Indonesia, maka kita harus memajukan budaya literasi,” tegasnya.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...