PILIHAN REDAKSI

UAS Duga Ditolak Masuk Singapura Karena Dianggap Teroris, Ungkit Kejadian di Timur Leste

BENTENGSUMBAR.COM - Ustaz Abdul Somad alias UAS menceritakan dirinya pernah ditolak masuk Timur Leste pada tahun 2018. Saat itu...

Advertorial

Menag Yaqut Bantu Korban Gempa di Pasbar dan Pasaman Rp 2,5 Miliar, Ini Respons Pedas Ketum MUI Sumbar

          Menag Yaqut Bantu Korban Gempa di Pasbar dan Pasaman Rp 2,5 Miliar, Ini Respons Pedas Ketum MUI Sumbar
Menag Yaqut Bantu Korban Gempa di Pasbar dan Pasaman Rp 2,5 Miliar, Ini Respons Menohok Ketum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar.
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat DR. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag. gelar Datuk Palimo memberikan tanggapan pedas terhadap bantuan untuk korban gempa di Kabupaten Pasaman sebesar Rp 2,5 miliar dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

"Dua setengah milyar ingin dijadikan penutup analogi tak beradab "kebisingan suara azan seperti gonggongan suara anjing". Jika ada yang menikam jejak dan menimpali kata seperti itu, dengarlah jawaban dari hamba Allah swt yang lahir dan hidup di ranah ini!" tegas Buya Gusrizal di akun instagram pribadinya pada Selasa 1 Maret 2022.

Menurut Buya Gusrizal, meringankan beban masyarakat yang terkena musibah itu kewajiban dari pemerintah.

Lebih lanjut, Buya Gusrizal berpendapat bahwa sangat memalukan bila uang negara yang berasal dari rakyat dipakai juga untuk membungkam rakyat yang merasa terhina.

"Meringankan beban masyarakat terkena musibah adalah kewajiban pemerintah yang merupakan hak rakyat. Sangat memalukan bila uang negara yang juga berasal dari rakyat, jika dipakai sebagai pembungkam umat yang terganggu karena penghinaan," tulis Buya Gusrizal di akun instagramnya @buya_dt.

Ditegaskan Buya Gusrizal, narasi yang melecehkan masyarakat Sumatera Barat dengan bantuan disaat bencana ketika ulama dan niniak mamak bersikap terhadap analogi yang dibuat Menteri Agama, berarti penghinaan berikutnya!

"Perlu diketahui, bukan perak atau emas ukuran rasa di Ranah Minang, sekali lagi, itu perlu untuk tuan-tuan camkan! Emas dan perak memang bisa menjadi ungkapan lahir dari guratan bathin sesuai pepatah "tataruang kaki, inai padahannya dan terdorong mulut, emas padahannya"," tulis Buya Gusrizal.

Buya Gusrizal juga menantang Yaqut, bahwa pantang sorban ulama dan deta penghulu Minangkabau merunduk menerimanya.

"Namun bila tersirat maksud "biarkanlah hina tercoreng", berarti tuan-tuan telah berperangai penjajah. Kalau memang itu yang tuan-tuan tuju, maka ketahuilah! Berpantang sorban ulama dan deta penghulu Minangkabau merunduk menerima tuan!!!" tegas mantan dosen Ushul Fiqh Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang ini. 

Laporan: Zamri Yahya, SHI
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »