PILIHAN REDAKSI

Diburu Polda Usai Tuduh Polisi Bali Korup, Miss Global Estonia Sudah Keluar Dari RI Sejak 17 Mei

BENTENGSUMBAR.COM - Seorang warga negara Estonia bernama Valeria Vasilieva sempat diburu Polda Bali karena dianggap telah mengh...

Advertorial

Staf Khusus Jokowi Menikah dengan Pria Beda Agama, MUI Bersuara Lantang, Singgung UU No 1 Tahun 1974

          Staf Khusus Jokowi Menikah dengan Pria Beda Agama, MUI Bersuara Lantang, Singgung UU No 1 Tahun 1974
Staf Khusus Jokowi Menikah dengan Pria Beda Agama, MUI Bersuara Lantang, Singgung UU No 1 Tahun 1974
BENTENGSUMBAR.COM — Staf Khusus Presiden Jokowi, Ayu Kartika Dewi yang beragama Islam, menikah dengan pria Katolik Gerald Sebastian.

Keduanya menjalani prosesi pernikahan dengan dua cara, yaitu akad nikah Islam sesuai agama Ayu dan proses pernikahan atau pemberkatan di Gereja Katedral sesuai agama Gerald yaitu Katolik.

Stafsus Jokowi bernama Ayu ini menggelar akad nikah di Hotel Borobudur Jakarta secara Islam, sekitar pukul 07.30 pagi, Jumat (18/3).

Setelah itu dilanjutkan dengan misa pemberkatan di Gereja Katedral Jakarta pukul 10.00 WIB.

Prosesi pernikahan disiarkan langsung di YouTube Ayu Kartika Dewi.

Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menanggapi pernikahan beda agama itu. Ustaz Amirsyah Tambunan menjelaskan bahwa sesuai Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, secara tegas dan jelas menyebutkan perkawinan berbeda agama tidak dibolehkan di Indonesia.

Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 itu disebutkan bahwa pernikahan yang sah harus sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.

Hal itu ia katakan merespons pertanyaan soal pernikahan Staf khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ayu Kartika Dewi yang menikah berbeda Agama dengan seorang pria bernama Gerald Sebastian hari ini di Gereja Katedral Jakarta, Jumat (18/3).

“Dalam aturan itu disebutkan dalam satu pasal perkawinan sah itu menurut agama dan keyakinan masing-masing,” jelas Amirsyah kepada pewarta di Kantor MUI, Jakarta, Jumat (18/3), dilansir dari FIN.CO.ID.

“Artinya perkawinan itu memang perkawinan yang dikonotasikan secara tegas dan jelas berbeda agama tidak dibolehkan, harus dengan seagama sesuai keyakinan,” katanya.

Amirsyah menjelaskan bahwa konstitusi Undang-undang Dasar 1945 telah mengatur bahwa Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ia juga menekankan bahwa konstitusi telah memberikan kebebasan untuk menjalankan agama dan keyakinan masing-masing.

Namun Amirsyah malah enggan berspekulasi soal konsekuensi yuridis atau hukum terhadap pernikahan beda agama yang dilakukan Ayu Kartika Dewi dan Gerald Sebastian.

Ia lantas menyerahkan ke pihak Dukcapil dan Kementerian Agama terkait konsekuensi tersebut.

Amirsyah juga kembali menyebutkan ketentuan dalam Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan itu.

“Di UU tahun 74 jelas bahwa perkawinan dalam undang-undang itu seagama, bukan berbeda agama,” katanya. (*)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »