PILIHAN REDAKSI

Desak Pembatalan Sponsor Minuman Keras untuk Formula E, Novel Bamukmin: Anies Pilihan Umat Islam dengan Semangat Bela Agama

BENTENGSUMBAR.COM - Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin mengaku kecewa dengan langkah panitia dan Pemprov ...

Advertorial

Wow!! Mitos Orang Minang Ternyata Faktanya Diluar Dugaan

          Wow!! Mitos Orang Minang Ternyata Faktanya Diluar Dugaan
Wow!! Mitos Orang Minang Ternyata Faktanya Diluar Dugaan
MINANGKABAU adalah salah satu suku yang terkenal di seluruh penjuru tanah air karena orang Minang biasanya ada dari Sabang sampai Merauke, dari kota kecil sampai kota besar. 

Eits, tapi jangan salah, loh! Minangkabau ini gak cuma orang Padang, biasanya kalian hanya menyebutkan “orang Padang ya? Padangnya dimana?” 

Padahal, Padang itu hanya ibu kota provinsi Sumatera Barat, sedangkan Minangkabau ini gak cuma dari Padang saja, ada dari Dharmasraya, Pesisir Selatan, Sawahlunto, Padang Panjang, Solok, Padang Pariaman, Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, dan lain-lain sebagainya. 

Nah, kehadiran suku minang di berbagai penjuru tanah air ini sebenarnya menghadirkan cukup banyak pandangan negatif tentang Suku Minang. Inilah beberapa mitos orang Minang yang dilansir dari beberapa sumber:

1. Pelit

Pandangan negatif ini berkembang turun temurun dan entah dari kapan hal negatif ini tumbuh di masyarakat Indonesia. Padahal urusan pelit atau enggak ini tergantung individunya, mau orang Minang, orang Jawa, Sunda, Batak, Ambon dan lain-lain kalau pelit ya pelit. Gak memandang sukunya.

Faktanya, orang Minang adalah orang yang selektif apalagi dalam menggunakan uang. Kebanyakan orang minang adalah pedagang, maka kalau mereka menghitung skala prioritasnya dalam penggunaan uang itu adalah sesuatu yang wajar ya. 

Bahkan ternyata, banyak perantau minang ini ikut membantu dalam pembangunan di kampung halamannya. 

Orang Minang ini punya rasa sosial yang sangat tinggi, loh! Mereka yang sukses gak akan ragu memberi modal usaha untuk keluarga yang masih kekurangan atau menganggur. Jadi, kalau yang kalian temui adalah orang pelit, ya itu apesnya kalian saja.

2. Menikah dengan satu suku

Keadaan menikah dengan suku yang sama sebenarnya bukan persoalan Suku Minang saja, bahkan Suku Jawa lebih konsen dalam hal ini, loh! Banyak hubungan yang kandas di tengah jalan karena persamaan suku dan yang lebih parahnya karena gak direstui orang tua. Sedih banget ya. 

Nah, banyak orang berprasangka kalau orang Minang ini melarang anaknya menikah dengan orang yang bersuku lain. Padahal yang sebenarnya dianjurkan memang harus menikah dengan orang yang bersuku lain.

Tetapi faktanya, Memang semua orang Minang melarang anaknya menikah dengan orang dari suku yang sama, kalian bisa lihat kalau banyak orang Minang menikah dengan orang bersuku Sunda, Jawa bahkan dari luar negeri seperti Amerika. 

Kandasnya hubungan dari perbedaan suku ini bisa jadi karena beberapa orang tua tidak mau jauh dengan anaknya melalui pernikahan ini, itu semua karena orang tua memang tidak ingin jauh-jauh dari anaknya yang tersayang. 

3. Dijodohkan

Perjodohan ini bukan masalah satu suku, ya. Dari banyak suku pun sudah jelas banyak orang yang dijodohkan oleh keluarganya dengan pilihan mereka yang sesuai secara finansial, pendidikan, agama dan perilakunya. 

Hal ini bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari bagaimana hubungan orang tua dengan kawannya pun bisa menjadi salah satu faktor adanya perjodohan, atau perjanjian bisnis semisal yang bisa kita lihat di Drama Korea Selatan. Bukan hanya urusan suku kalau hanya masalah perjodohan ya.

Faktanya, perjodohan ini gak begitu ramai ditemui dari orang Minang, apalagi melihat perkembangan zaman yang mana perjodohan dianggap cara kuno untuk mendapatkan pasangan hidup. 

Orang tua di Minang nyatanya banyak yang memberi kebebasan untuk anaknya mencari pasangan hidup sendiri meskipun masih memberi kriteria yang cocok dengan kultur keluarga.

Jadi, buang jauh-jauh pikiran negatif itu, ya.

4. Cerewet

Watak orang Sumatera biasa dikenal keras dan tegas, dimana kalau ada sesuatu yang harus diucapkan, mereka memilih gak bertele-tele, bicara apa adanya adalah prinsip yang ada disana. Kalau urusan cerewet sih bisa ada di suku mana pun.

Faktanya, kerasnya kehidupan yang dilalui orang Minang ini membentuk pribadi yang tegas dan gak perlu bertele-tele. Jadi jangan sampai salah kaprah menangkap ketegasan sebagai suatu sikap yang kasar dan cerewet ya.

5. Perantau

Orang Minang memang sebagian besar merantau karena faktor ekonomi yang seenggaknya bisa memberi lapangan pekerjaan untuk mereka yang ada di kampung halaman. Cukup berat memang keputusan mencari nafkah di luar kota bahkan luar pulau Sumatera.

Kalian pasti sudah tahu kalau sebagian besar orang Minang ini memilih berdagang sebagai profesi utamanya.

Faktanya memang sebagian orang Minang yang kalian jumpai memiliki usaha, seperti rumah makan masakan Minang atau lebih populer Rumah Makan Padang dan berjualan pakaian atau produk fashion lainnya. 

Sering banget, kan, kita menjumpai mereka berjualan di pusat grosir seperti Tanah Abang. Bahkan, 70% penjual pakaian disana adalah orang Minang.

6. Pria Minang Dibeli

Nah, ini yang paling ramai sampai kadang membuat orang tua melarang anaknya menikah dengan pria Minang karena mitos yang satu ini. Katanya, untuk menikahi pria Minang maka harus dibeli dengan harga yang cukup mahal bahkan sampai ratusan juta, loh!

Faktanya, gak semua pria Minang ini dibeli, apalagi di zaman modern ini. Hanya pria di Pariaman yang masih dibeli sampai saat ini. Eitsss, tapi jangan salah paham dulu, ya!

Sebenarnya ini adalah proses adat istiadat yang berlaku pada masyarakat Pariaman, dimana mempelai wanita memberikan sejumlah uang yang jumlahnya sudah dimusyawarahkan dulu oleh kedua belah pihak. 

Uang pemberian ini disebut uang jemputan yang tujuan sebagai bekal mempelai pria dalam membangun rumah tangga dan sebagiannya lagi untuk biaya resepsi pernikahan atau biasa disebut Baralek. 

Nah, uang jemputan ini biasanya dilihat dari profesi dan penghasilan jumlahnya, pria denan profesi populer seperti polisi, tentara atau dokter bisa mendapat uang jemputan dikisaran Rp50 juta sampai Rp150 juta. 

Setiap orang berbeda gak peduli suku, agama ataupun ras. Semua hal di atas bisa terjadi pada setiap orang, bahkan adat membeli mempelai untuk prosesi adat. Yuk, pelan-pelan hilangan sinisme pada Suku Minangkabau ini!

*Ditulis Oleh: Racheal Rahayu Hendriyani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »