PILIHAN REDAKSI

KPU Sumbar Lakukan Sosialisasi Persiapan Pemilu 2024, Adiak: Jangan Ragu, KPU Pasti Jujur

BENTENGSUMBAR.COM - Kordinator Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Izwaryani atau kerap d...

Advertorial

Dianggap Ekstremis, Ustadz Abdul Somad: Saya Sarjana, Pendidik, Dosen, Saya Bukan Orang yang Ngomong Sembarangan

          Dianggap Ekstremis, Ustadz Abdul Somad: Saya Sarjana, Pendidik, Dosen, Saya Bukan Orang yang Ngomong Sembarangan
Dianggap Ekstremis, Ustadz Abdul Somad: Saya Sarjana, Pendidik, Dosen, Saya Bukan Orang yang Ngomong Sembarangan
BENTENGSUMBAR.COM – Ustadz Abdul Somad (UAS) akhirnya menjawab soal pernyataan Kementerian Dalam Negeri Singapura mengenai larangan dirinya masuk ke negeri patung Singa tersebut.

Dilansir dari detik.com, Kamis 19 Mei 2022, menurut UAS dirinya dianggap ekstremis karena isi ceramah agama yang selama ini ia sampaikan padahal itu semua memiliki dasar.

UAS juga menegaskan bahwa dirinya tidak asal bicara soal kafir, bom bunuh diri dan isi ceramah lainnya yang ia pernah sampaikan, karena dirinya juga orang yang berpendidikan dan seorang guru.

“Dan saya sampai hari ini masih sebagai pengajar. Saya visiting profesor di Universiti Islam Sultan Sharif Ali, masih ada kontrak. Saya mendapat honoris causa dari University Islam Internasional Antar Bangsa Selangor, Malaysia. Dan saya sarjana, saya pendidik, dosen. Saya bukan orang yang ngomong sembarangan,” ujar UAS, dikutip dari detik.com bersumber dari Youtube Refly Harun, Kamis 19 Mei 2022.

UAS juga mengaku bahwa segala kontroversi yang pernah ia lakukan sudah dibuat klarifikasinya dan bisa diakses di internet.

Lebih lanjut lagi, hal mengenai pernyataan bom bunuh diri, itu hanya berlaku untuk para pejuang di Palestina yang tidak memiliki senjata untuk membela diri dari tentara Israel.

“Masalah tentang martir bunuh diri. Itu konteks di Palestina ketika tentara Palestina tidak punya alat apa pun untuk membalas serangan Israel dan itu bukan pendapat saya,” kata UAS.

“Saya menjelaskan pendapat ulama, dan konteksnya saya menyampaikan itu di dalam masjid, menjawab pertanyaan jemaah. Masak jemaah tanya, ‘Ustaz, masalah di Palestina jangan dijawab. Nanti kalau dijawab saya nggak bisa masuk ke Singapura.’ Saya kan intelektual. Saya ini profesor, doktor, dosen,” lanjutnya.

Sedangkan untuk soal patung ada jinnya dan malaikat tidak akan masuk kedalam rumah yang ada patungnya. Hal tersebut bukan berdasarkan pendapat UAS melainkan sesuai dengan hadis Nabi.

“Masalah yang kedua, tentang masalah di dalam patung ada jin. Itu hadis nabi, innal malaikata, malaikat, la tadkhulul buyut, tidak masuk ke dalam rumah, fiha tamasil, di dalam rumah itu ada patung,” tutur UAS.

“Kenapa tidak mau malaikat masuk? Karena malaikat tidak masuk satu majelis dengan jin. Bukan malaikat itu takut. Dia tidak mau kotor. Itulah maka di rumah orang Islam tak boleh ada patung,” jelasnya.

Selanjutnya UAS menjelaskan istilah kafir yang dipermasalahkan oleh Singapura. UAS menekankan bahwa istilah kafir sudah ada dalam agama Islam dan tidak dapat dihilangkan.

UAS juga menjelaskan secara rinci apa sebenarnya arti kafir agar semua orang bisa memahami istilah tersebut.

“Tentang masalah kafir. Kafir itu artinya ingkar. Siapa saja yang tidak percaya Nabi Muhammad adalah rasul utusan Allah, maka dia adalah (kafir). Dan saya ini kafir. Saya tidak percaya kepada ajakan iblis dan setan, maka saya ini kafir. Kafir itu artinya ingkar. Itu adalah istilah dalam agama, agama kita. Masak kita hilangkan istilah-istilah agama hanya karena tidak mau orang lain tersinggung,” imbuhnya.

UAS akan terus melakukan ceramah agamanya sesuai dengan ketetapan yang telah ada dalam agama Islam.

Ia mengaku tidak akan berhenti menjadi pendakwah hanya karena tanggapan sebuah negara yang menilainya seorang ekstremis.

“Nanti kalau ada negara melarang orang ceramah yang mengatakan babi haram, khamar haram, nanti bisa aja keluar peraturan, ‘Anda tidak boleh, kenapa? Karena mengatakan khamar haram, karena kita suka minum khamar. Anda tidak boleh masuk ke negara kami karena kami homo dan lesbi, Anda menolak itu’,” ucapnya.

“Itu (babi, khamar, LGBT, haram) kan ajaran agama kita. Saya tidak pernah berhenti mengajarkan ajaran itu. Kalau itu dianggap sebagai ekstremis, sebagai segregasi, maka biarlah semua orang mengatakan itu, karena itu bagian dari ajaran agama, saya akan tetap mengajar,” ungkap UAS.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »