Advertorial

Daerah

Publik Minta LKAAM Sumbar Cabut Gelar Adat Irjen Teddy Minahasa, Fauzi Bahar Datuk Nan Sati Buka Suara, Singgung Zaman Rasulullah

          Publik Minta LKAAM Sumbar Cabut Gelar Adat Irjen Teddy Minahasa, Fauzi Bahar Datuk Nan Sati Buka Suara, Singgung Zaman Rasulullah
Publik Minta LKAAM Cabut Gelar Adat Irjen Teddy Minahasa, Fauzi Bahar Datuk Nan Sati Buka Suara, Singgung Zaman Rasulullah.

Publik Minta LKAAM Cabut Gelar Adat Irjen Teddy Minahasa, Fauzi Bahar Datuk Nan Sati Buka Suara, Singgung Zaman Rasulullah
BENTENGSUMBAR.COM - Pasca ditangkapnya Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa Tuanku Bandaro Alam Sati terkait kasus narkoba, publik Sumatera Barat memberikan reaksi beragam. 


Bahkan, di bernagai platform media sosial, netizen meminta agar Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat mencabut gelar adat yang telah diberikan kepada Irjen Teddy Minahasa. Lantas bagaimana reaksi Ketua LKAAM Sumbar, Letnan Kolonel Laut (P) (Purn.) Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. gelar Datuak Nan Sati?


"Assalamu'alaikum wr.wb. Saya Fauzi Bahar, Ketua LKAAM Sumatera Barat. Berkaitan dengan kasus yang menimpa Kapolda Sumatera Barat, Bapak Irjen Teddy Minahasa, ada dua hal yang perlu saya sampaikan. Yang pertama sekali, tentang pemberian gelar adat. Yang kedua tentang hal yang menimpa beliau ini," ungkap Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, dikutip dari video yang dia bagikan pada Group WhatsApp "Argumen POLITIK" pada Sabtu, 15 Oktober 2022.


Menurut Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, pemberian gelar tersebut tidak terlepas dari prestasi Irjen Teddy Minahasa sebagai Kapolda Sumatera Barat yang berani memberantas judi online, prostitusi dan meralisasikan restorative justice.


"Sebetulnya hal ini dua sisi yang berbeda. Pertama sekali, pemberian gelar ini atas prestasi beliau sebelum kejadian ini. Karena beliau mulai menghabiskan para pembeking judi online, pembeking para prostitusi, meskipun anggota polisi sendiri. Kemudian beliau merealisasikan tentang restorative justice yang dulunya adalah hak ninik mamak, yang sepertinya golok yang sudah tumpul, sudah karatan, yang sudah disimpan di belakang, yang kemudian beliau asah lagi, tajam lagi, kasih ulu lagi atau tangkai lagi, tajam, diberikan kepada ninik mamak lagi,"urai Fauzi Bahar lagi. 


Terutama terkait restorative justice tersebut, menurut Fauzi Bahar Datuk Nan Sati sudah lama ditunggu-tunggu ninik mamak Sumatera Barat. Tak hanya itu, mantan Wali Kota Padang itu juga menyinggung kesungguhan Irjen Teddy Minahasa dalam membangun Sumatera Barat, misalnya di bidang pendidikan, kesehatan dan moral.


"Dan ini sudah lama ditunggu-tunggu ninik mamak Sumatera Barat. Hal ini beliau juga vaksinasi, yang tadinya level di bawah, dinaikan ke atas untuk Sumatera Barat dan sebagainya. Dan beliau sangat sungguh-sungguh membangun Sumatera Barat di bidang pendidikan, kesehatan, masalah moril. Dan ini cocok sekali dengan konsep LKAAM Sumatera Barat. Dari itulah beliau mendapatkan gelar, yaitu Tuanku Bandaro Alam Sati," terang Fauzi Bahar.


Fauzi Bahar Datuk Nan Sati mengajak semua pihak menghormati proses hukum dengan mengedepankan praduga tak bersalam terkait kasus yang menyeret Irjen Teddy Minahasa. Sedangkan terkait pencabutan gelat, Fauzi Bahar harus merapatkannya dengan ninik mamak di LKAAM Sumatera Barat.


"Tentang kejadian yang baru saja menimpa beliau, itu di luar jangkauan kita dan ini kita hormati proses hukum, prasangka tak bersalahnya, praduga tak bersalahnya tetap menjadi ukuran oleh kita. Dari itu, tidak ada pencabutan gelar itu. Sebetulnya, gelar apa saja yang begitu diberikan kepada orang, ya karena ini dirapatkan di LKAAM, mari nanti saya rapatkan lagi di LKAAM, untuk duduk ninik mamak semua, mengambil sebuah keputusan, sehingga tidak simpang siur tentang gelar ini. Dan itu, dari beliau berprestasi sampai diberikan gelar itu, di mata kami, ninik mamak Sumatera Barat, beliau bagus. Tetapi setelah beliau, terjadi kisah ini, di luar jangkauan kita," cakap Fauzi Bahar.


Fauzi Bahar Datuk Nan Sati yang mengaku sebagai sahabat Irjen Teddy Minahasa juga menyinggung peristiwa zaman Rasulullah. Menurutnya, di zaman Rasulullah, para tawanan perang yang berniat membunuh Rasulullah pun, diperlakukan dengan sangat hormat oleh Rasulullah.


"Dan kepada kita masyarakat umum, orang yang hanyut, orang yang hanyut, seharusnya kita lempar tali, jangan kita timpain pula. Di zaman Rasulullah, para tawanan perang yang berniat membunuh Rasulullah pun, diperlakukan dengan sangat hormat oleh Rasulullah. Tawanan perang lo, ya. Dan itu, kepada Irjen Teddy Minahasa, saya selaku sahabatnya, selaku temannya, selaku yang pernah bergaul dengan beliau, saya tadi malam memberikan (sampai di sini rekamannya terputus, red)." 


Simak videonya:




Editor: Zamri Yahya, SHI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »