Advertorial

Daerah

Survei LSP: Posisi Puncak PDIP 22,1%, NasDem Turun, Hanya 3,9% Usai Capreskan Anies, Kena Efek 'Cebong Vs Kadrun'

          Survei LSP: Posisi Puncak PDIP 22,1%, NasDem Turun, Hanya 3,9% Usai Capreskan Anies, Kena Efek 'Cebong Vs Kadrun'
Ketua Umum NasDem, Surya Paloh dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
BENTENGSUMBAR.COM - Lembaga survei Lingkaran Suara Publik (LSP) juga merilis survei elektabilitas partai di Pilpres 2024. Hasilnya, PDIP masih memuncaki partai pilihan responden, sedangkan NasDem turun sampai ke angka 3,9%.

Survei ini digelar pada 1 hingga 10 Oktober 2022 dengan melibatkan 1.230 sampel yang diambil secara acak di 34 provinsi di Indonesia. Kriteria sampel yakni yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah pernah menikah.

Teknik pengumpulan data dilakukan secara wawancara langsung dengan bantuan kuesioner. Survei memiliki marign of error sebesar +/- 2,8% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berdasarkan temuan survei menunjukkan PDIP masih menjadi pemuncak elektabilitas parpol dengan persentase 22,1%. Kemudian disusul oleh Gerindra dengan 19,3%, Demokrat 8,1%, Golkar 7,8%, PKB 7,1%, PKS 5,6% dan NasDem 3,9%.

Sementara itu, Perindo dengan 3,3% untuk sementara masih dapat melewati elektabilitas PPP dan PAN. Temuan ini sekaligus mengkonfirmasi temuan survei dari beberapa Lembaga survei terdahulu.

Simak hasil surveinya sebagai berikut:

PDIP 22,1%
Gerindra 19,3%
Demokrat 8,1%
Golkar 7,8%
PKB 7,1%
PKS 5,6%
NasDem 3,9%
Perindo 3,3%
PAN 2,1%
PPP 1,6%
PSI 1,6%
Gelora 1,1%
Ummat 1%
PBB 0,4%
PKPI 0,2%
Buruh 0,1%
TT/TJ 14,7%

Direktur Riset dan Kajian LSP Indra Nuryadin lantas menjelaskan terkait temuan survei partai politik tersebut. Dia menggarisbawahi posisi NasDem sebagai partai pengusung Jokowi yang berada di bawah ambang batas parlemen 4%

"Temuan survei sementara mencatat perolehan NasDem sebagai partai pengusung Jokowi pada Pemilu 2014 dan 2019 termasuk pendukung Ahok pada Pilgub DKI 2017 berada di bawah ambang batas parlemen 4%," ucapnya seperti dalam keterangannya, Sabtu (15/10/2022).

Indra mengatakan posisi elektabilitas NasDem tidak berubah meski sudah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres di Pilpres 2024. Menurutnya, ini menandakan efek ekor jas dari Anies tidak terjadi, bahkan justru banyak pendukung NasDem yang mundur.

"Pascadeklarasi Anies sebagai capres cenderung tidak memberi efek elektoral bagi NasDem. Harapan akan ada efek ekor jas dari pencapresan Anies, tidak terjadi. Justru ada kecenderungan pemilih NasDem hengkang dari NasDem mengikuti gelombang arus mundur para pengurus NasDem Pusat, dan beberapa provinsi dan kab/kota," ucapnya.

"Pendukung Anies pun menolak pencapresannya oleh NasDem. Anies juga belum dapat meyakinkan suara pemilihnya untuk juga masuk memilih NasDem mengisi ruang yang ditinggalkan oleh pemilih Jokowi dan Ahok dulu. Singkatnya efek ekor jas dari pencapresan Anies untuk menaikkan elektabilitas belum atau tidak berjalan di NasDem justru memperoleh penurunan," lanjut dia.

Indra juga melihat ada efek rivalitas 'cebong' dan 'kadrun' yang menyertai NasDem. Istilah 'NasDrun' pun berefek pada elektabilitas NasDem.

"Rivalitas antara 'cebong' dengan 'kampret'/'kadrun' masih berlangsung. Pencapresan Anies oleh NasDem pun memunculkan istilah baru 'NasDrun' yang diduga ditujukan untuk NasDem," tuturnya.

Sumber: detikcom 
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »