Advertorial

Daerah

Ketum DPP Bapera: Kita Harus Menantang para Pemuda Untuk Berkontribusi dalam Persoalan Pangan

          Ketum DPP Bapera: Kita Harus Menantang para Pemuda Untuk Berkontribusi dalam Persoalan Pangan
Ketum DPP Bapera: Kita Harus Menantang para Pemuda Untuk Berkontribusi dalam Persoalan Pangan
BENTENGSUMBAR.COM - Kemunduran sebuah negara terjadi ketika rakyat dan pemudanya masa bodo terhadap dunia pertanian Indonesia, ketika generasi Millenial dan zillenial tidak lagi berminat pada pertanian (food) cepat atau lambat masyarakat Indonesia akan dikontrol negara lain dan ini menjadi bukti pangan kita lebih di dominasi dan berasal dari negara lain, ucap H. Fahd El Fouz A Rafiq di Jakarta, pada Kamis, (17/11). 

Ketua Umum DPP Bapera ini mengatakan, “Ketum DPP Bapera: Kita Harus Menantang para Pemuda Untuk Berkontribusi dalam Persoalan Pangan. 

You control food you control people, you control oil you control Country and you control gold you control the world ( kamu mengontrol makanan kamu akan mengontrol rakyat, jika kamu mengontrol minyak kamu akan control negara dan jika kamu kontrol emas kamu akan kontrol dunia).Tapi hari ini saya akan berfokus pada permasalahan pangan. 

"Kita saat ini para pemuda harus bertukar perspektif mengenai pengetahuan, pengalaman dan ide Bersama dalam memajukan pangan Indonesia. Generasi Millenial dan dibawahnya harus peduli dengan isu pangan yang menjadi kekhawatiran banyak negara di belahan dunia lain. Kita memiliki SDA yang melimpah membutuhkan peran anak muda untuk mencapai kemandirian dan ketahanan pangan," jelasnya.

Era Presiden Soeharto sukses menjadikan Indonesia menjadi negeri agraris dan  menjadi pengekspor beras terbesar tapi setelah 5 presiden pasca reformasi Nusantara jadi negara pengimpor beras. 

Hal ini menjadi kemunduran bersama yang dahulu bernama Nusantara. Sejak Indonesia keluar dari OPEC Tahun 2004 Indonesia tidak lagi mumpuni khususnya dalam bidang Energi apalagi teknologi, tapi Indonesia ini merupakan penghasil pangan yang beragam. 

"Indonesia hari ini menjadi pengimpor gandum dari ukraina sebanyak  3,1 juta gandum ini untuk produksi mie instan dan berbagai makanan lain, kita tahu mie instan sudah menjadi makanan ke 2 di Indonesia setelah nasi, yang kok impor," ujarnya.

"Kalau semua serba impor kemaslahatan sebuah negara akan terancam karena kita ketergantungan pangan dengan negara lain," pungkasnya.

Dan hari ini kondisi dunia sedang tidak baik baik saja, negara negara dunia pada urusin dalam negerinya masing masing. 

Mantan Ketum PP AMPG mengajak para pemuda untuk jadi pelopor supaya Indonesia dapat mencapai kemandirian dan ketahanan pangan.

"Sekali lagi kita bersama sama harus menghimpun perspektif awal pemuda mengenai pangan. Karena masalah pertanian dan pangan adalah masalah multi perspektif yang harus diselesaikan bersama sama," tegasnya.

"Saya hari ini harus blak blakan mengatakan soal pengetahuan, perubahan pola pikir yang mempengaruhi prilaku terkait pangan harus dimiliki oleh generasi Millenial dan Zillenial penghargaan terhadap profesi petani sangat rendah sehingga minat generasi selanjutnya terhadap pertanian juga rendah," ujarnya.

Pangan seharusnya jadi fokus pada kesejahteraan manusia, hari Ini negara negara yang terkena dampak perang rusia dan Ukraina sudah menahan makanannya agar tidak di ekspor hal ini dikarenakan untuk mempersiapkan resiko apakah Indonesia akan terkena dampak resesi dunia. 

"Pemuda yang berprofesi sebagai pengusaha muda ini menegaskan, masalah pangan di republik yang tidak pernah Lelah kita cintai  ini bukan hanya masalah teknis ketersediaan tapi juga meliputi kesejahteraan sosial baik dalam produksi, konsumsi dan distribusi kita harus menantang generasi Millenial untuk berkontribusi di bidang pertanian dengan ilmunya masing masing," tukuknya.

"Beberapa masalah pertanian di negeri kita yang hingga kini belum terpecahkan diantaranya seperti Krisis regenerasi petani, image pertanian kurang perhatian anak muda, rantai perdagangan yang merugikan petani sehingga petani keringatnya di peras oleh para rentenir, modal , teknknya masih tradisional dan fungsli alih lahan," tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar. (ASW)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »