| Penulis Ridwan Tulus adalah pemerhati pariwisata asal Sumatera Barat, tanah Minangkabau dengan rekan sejawatnya. |
Dan insyaa Allah tahun depan beliau akan mengundang saya untuk "Ngopi Lamak" (ngobrol penuh inspirasi land of Minangkabau) disana.
Dan juga beliau disaat Ngopi Lamak dengan saya, mengatakan akan berangkat langsung ke Dubai malam nanti untuk cuping kopi di sana atas undangan oleh pembeli di sana buat persetasikan kopi dan traceability bersama buyer dari Dubai, Hongkong dan Rusia. Dan beliau jadi pembicara utama untuk acara seminar kopi internasional yang diselenggarakan di gedung Dubai Multi Commodities Centre (DMCC)
Dengan kopi, menjalin hubungan yang harmonis antara negara.
Beliau bercerita, bulan lalu, Koperasi Produsen Petani Alam Korintji (ALKO) bersama mitra Jepang, Saka no Tochu Co., Ltd, mendapat dukungan pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (Japanese Government) - METI (kementrian Perdaganagn Jepang) meluncurkan studi kelayakan dekarbonisasi rantai pasok kopi dan rempah di Kabupaten Kerinci, Jambi yang bertempat di Koperasi Alam Korintji.
Acara peluncuran resmi ini dihadiri langsung oleh Bupati Kerinci, Monadi ,S.Sos,.M.Si, yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya menjadikan Kerinci sebagai sentra “Kopi Ramah Karbon” pertama di Indonesia.
Kegiatan ini sekaligus menandai pengiriman ekspor kulit manis (cinnamon) dari Kerinci ke Kobe, Jepang, menggunakan sistem traceability berbasis blockchain yang transparan dan berorientasi pada pengurangan emisi karbon.
Indonesia - Jepang, dari Jalan Kaki, Rendang dan Kopi
Mendengar paparan dari Suryono tentang bagaimana hubungan yang harmonis terjalin sampai saat ini dengan para buyer kopi disana dan bahkan pemerintah Jepang turut mensupport kegiatannya membuat saya merinding. Karena banyak nilai historis dengan negara Sakura tersebut. Khususnya dengan Nippon Senin Kyokai dan Japan Walking Association (JWA)
Dan mengingatkan kembali cerita lama tahun 2002, ketika kepariwisataan diIndonesia terpuruk akibat Bom Bali, saya melakukan promosi wisata jalan kaki membawa bendera Merah Putih bersama Japan Walking Association (JWA) mengelilingi Pulau Kyusu di Jepang yang akhirnya ditulis dalam sebuah buku berbahasa Jepang dengan judul Kyusu Romance Walking. Dan bahkan pada tahun yang sama saya diberi kehormatan oleh JWA untuk membuka acara jalan kaki terbesar didunia " The 26th Japan Three - Day March" yang diadakan diTokyo.
Dan bulan lalu yang membuat saya sangat senang ada juga acara yang sangat luar biasa dalam mempromosikan Indonesia khususnya Minangkau untuk market Jepang adalah "Marandang Dunia" . Sangat brilian dan tepat sasaran!
Acara yang spetakular tersebut yang diadakan di Yoyogi Park, Tokyo, tempat digelarnya Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) 2025. Dari kejauhan, barisan panjang pengunjung tampak mengular menunggu giliran mencicipi rendang hasil kegiatan Marandang Dunia yang dimotori Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM).
Terima kasih Suryono atas 2 jam Ngopi Lamak dan inspirasinya. Banyak cara untuk mengenalkan Indonesia kenegara lain yang efisien dan tepat sasaran. Beberapa tahun yang lalu dengan program Gastroventure (gastronomy adventures) akhirnya Gordon Ramsay ahli masakan no.1 dunia akhirnya datang ke Ranah Minang!
*Penulis Ridwan Tulus adalah pemerhati pariwisata asal Sumatera Barat, tanah Minangkabau.
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »