| Dalam masa kampanye, Mahyeldi–Vasko membawa narasi kesinambungan sekaligus percepatan. |
Tahun 2025 menjadi tahun pertama yang menentukan. Bukan karena hasil besar sudah harus terlihat, melainkan karena arah sedang ditentukan.
Janji Kampanye dan Harapan yang Menggantung
Dalam masa kampanye, Mahyeldi–Vasko membawa narasi kesinambungan sekaligus percepatan.
Infrastruktur diposisikan sebagai tulang punggung pembangunan. Fly Over Sitinjau Lauik—ikon lama dari kemacetan dan risiko kecelakaan—kembali diangkat sebagai simbol keseriusan. Tol Padang–Pekanbaru dijanjikan dipercepat, bukan hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai urat nadi konektivitas ekonomi Sumatera.
Di sektor pertanian, Mahyeldi menegaskan komitmen mempertahankan alokasi anggaran 10 persen dari APBD. Pendidikan, UMKM, dan Nagari Creative Hub dijual sebagai jawaban atas stagnasi ekonomi berbasis kreativitas. Di atas semua itu, ada satu benang merah: penyelarasan dengan Asta Cita Presiden Prabowo–Gibran, termasuk program Makan Bergizi Gratis.
Janji-janji ini membentuk ekspektasi besar. Bukan hanya di ruang publik Sumbar, tetapi juga di kalangan perantau yang selalu merasa memiliki saham emosional atas kampung halaman.
Seratus Hari Pertama: Politik Gerak Cepat
Selepas pelantikan, Mahyeldi menyatakan tidak ingin menunggu waktu. Seratus hari pertama dijadikan etalase niat. Pemerintahan baru ingin terlihat bekerja—cepat, terkoordinasi, dan responsif. Vasko, bahkan sebelum resmi dilantik, disebut telah menjembatani komunikasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.
Dalam konteks politik daerah, narasi “bergerak cepat” penting. Ia memberi sinyal kepada birokrasi bahwa masa adaptasi telah selesai. Namun kecepatan juga mengandung risiko: kebijakan bisa melaju lebih cepat daripada kesiapan teknis dan sosialnya.
Di sinilah ujian awal kepemimpinan Mahyeldi–Vasko mulai terasa.
Infrastruktur sebagai Simbol, Bukan Sekadar Beton
Fly Over Sitinjau Lauik dan Tol Padang–Pekanbaru bukan sekadar proyek. Keduanya adalah simbol lama dari janji yang tertunda. Setiap gubernur hampir selalu menyebutnya. Bedanya, Mahyeldi–Vasko kini beroperasi di bawah pemerintahan pusat yang kuat dan terpusat, dengan agenda pembangunan nasional yang agresif.
Kedekatan visi dengan pemerintah pusat membuka peluang, tetapi juga menimbulkan pertanyaan: sejauh mana kepentingan Sumbar akan berdiri sebagai prioritas, bukan sekadar bagian dari peta besar nasional?
Tahun 2025 belum memberi jawaban final. Namun arah komunikasi dan diplomasi politik yang dibangun Vasko memberi sinyal bahwa kepemimpinan ini memahami pentingnya jejaring di luar daerah.
Pertanian, UMKM, dan Janji Kesejahteraan
Di luar proyek besar, Mahyeldi–Vasko menempatkan pertanian dan UMKM sebagai sektor penyangga. Alokasi anggaran pertanian dipertahankan, sementara UMKM didorong melalui narasi kreativitas nagari. Nagari Creative Hub digadang-gadang menjadi pusat inovasi lokal—tempat tradisi dan ekonomi kreatif bertemu.
Namun 2025 juga diwarnai kebijakan efisiensi anggaran nasional. Ruang fiskal daerah menyempit. Janji kesejahteraan harus berdamai dengan realitas kas. Di sinilah kecermatan manajerial diuji. Apakah program akan menjadi selektif dan berdampak, atau sekadar merata tapi tipis?
UMKM dan pertanian adalah sektor yang sensitif terhadap kebijakan pusat, harga pangan, dan distribusi. Kepemimpinan daerah tidak bisa bekerja sendiri. Dan Mahyeldi tampak sadar akan itu ketika berulang kali mengajak bupati, wali kota, dan perantau untuk terlibat.
Gaya Kepemimpinan dan Politik Konsensus
Mahyeldi dikenal dengan gaya kepemimpinan yang religius dan berhati-hati. Vasko hadir sebagai figur yang lebih muda, komunikatif, dan bergerak di ranah jejaring. Kombinasi ini menciptakan dinamika baru: antara stabilitas dan akselerasi.
Tahun 2025 menunjukkan bahwa kepemimpinan Sumbar tidak diarahkan pada politik konfrontasi. Konsensus lebih diutamakan. Namun konsensus juga punya sisi gelap: ia bisa mengaburkan konflik yang seharusnya diselesaikan secara terbuka.
Di daerah dengan tradisi adat yang kuat, kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal simbol dan bahasa. Setiap langkah dibaca bukan hanya secara administratif, tetapi juga kultural.
Menutup Tahun, Membaca Arah
Sebagai kaleidoskop, 2025 adalah potongan awal, belum gambar utuh. Mahyeldi–Vasko belum bisa dinilai dari hasil besar, tetapi dari arah dan konsistensi.
Janji kampanye telah diterjemahkan ke dalam program prioritas. Komunikasi dengan pusat terjalin. Narasi kesejahteraan terus diulang.
Namun publik Sumbar—yang kritis dan terbiasa menunggu lama—tidak hanya ingin mendengar niat. Mereka ingin melihat perubahan yang terasa, meski kecil.
Tahun 2025 adalah tahun menanam. Apakah yang ditanam Mahyeldi–Vasko akan tumbuh menjadi pembangunan yang adil dan berkelanjutan, atau kembali menjadi janji yang berpindah tangan ke periode berikutnya, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Yang pasti, Sumatera Barat telah memasuki fase baru. Dan sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling cepat bergerak, tetapi siapa yang paling mampu menjawab harapan rakyatnya.
(***)
Penulis: Muhibbullah Azfa Manik
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »