Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Buku “Prangko dan Filateli” Telusuri Makna di Balik Lembar Kecil Prangko

Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Buku “Prangko dan Filateli” Telusuri Makna di Balik Lembar Kecil Prangko
Buku tersebut diserahkan penulisnya, Armaidi Tanjung kepada Ketua PD PFI Sumatera Barat Ir. Amli Kamal. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Jelang Pencanangan Hari Filateli Nasional (HFN) 2026 oleh Menteri Kebudayaan R.I yang juga Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PP PFI) Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc pada Minggu 29 Maret 2026 mendatang di Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, salah seorang Penasehat Pengurus Daerah PFI Sumatera Barat menerbitkan buku berjudul “Prangko dan Filateli (Kumpulan Tulisan 1987-2025).”

Buku tersebut diserahkan penulisnya, Armaidi Tanjung kepada Ketua PD PFI Sumatera Barat Ir. Amli Kamal di kediamannya, Komplek Mawar Putih Kuranji Padang, Kamis (26/3/2026). Amli Kamal menyambut baik terbitnya buku tersebut. 

“Tahun 2026 ini PFI genap berusia 104 tahun. Buku ini tentu menambah literatur bacaan tentang prangko dan filateli. Juga dokumentasi sejarah perfilatelian di Sumatera Barat, karena dibagian akhir memuat aktifitas PFI di Sumatera Barat yang pernah diikuti penulisnya,” kata Amli Kamal yang memulai hobi filateli sejak di bangku SMP ini.

Buku setebal x + 196 halaman, ISBN: 978-634-7390-05-9, diberi pengantar oleh Ketua Umum  PP PFI Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. Dalam pengantarnya menyebutkan, buku Prangko dan Filateli karya Armaidi Tanjung ini mengajak kita melihat lebih jauh dari sekadar nominal dan gambar, melainkan menelusuri makna di balik setiap lembar kecil yang pernah berkelana melintasi batas ruang dan waktu.

Buku kumpulan tulisan yang ditulis Armaidi Tanjung, sekaligus berita-berita aktivitas Armaidi Tanjung yang terkait dengan prangko dan filateli pada rentang waktu cukup panjang (1987-2025).

’’Sebagai penulis yang akrab dengan dunia jurnalistik dan kebudayaan, Armaidi Tanjung menghadirkan filateli  sebagai hobi, dan laku intelektual. Ia menempatkan prangko sebagai teks visual yang bisa dibaca, ditafsirkan, bahkan diperdebatkan. Dalam setiap tulisan, kita menemukan ketelitian seorang pengamat, kepekaan seorang pencatat zaman, serta kegigihan seorang kolektor yang mencintai detail,’’ tulis Fadli Zon. 

Dikatakan, buku ini   menyajikan informasi tentang prangko tahun terbit, seri, tema, dan nilai sejarahnya serta menyuguhkan narasi yang hidup. 

Prangko dan filateli di sini menjadi pintu masuk memahami peristiwa nasional, tokoh-tokoh penting, kekayaan budaya, hingga dinamika sosial yang melatarbelakanginya. 

Melalui pendekatan  komunikatif dan bernas, pembaca diajak menyadari bahwa filateli adalah jendela kecil menuju cakrawala besar.

’’Lebih dari itu, karya ini menjadi semacam dokumentasi kesetiaan penulis terhadap dunia literasi dan koleksi. Di tengah era digital serba cepat, ketika korespondensi fisik semakin jarang, Armaidi Tanjung justru mengingatkan kita pada romantika surat-menyurat, pada jejak tinta stempel pos, pada perjalanan panjang sebuah pesan dari satu kota ke kota lain. Ada nilai kesabaran, ketekunan, dan rasa hormat terhadap sejarah yang terasa kuat di dalamnya,’’ sebut  Fadli Zon.

Tentunya buku ini layak dibaca   para kolektor dan pegiat filateli, dan  siapa saja yang mencintai sejarah, budaya, serta jejak visual bangsa. 

Ia menjadi bukti bahwa benda sekecil prangko dapat menyimpan cerita sebesar peradaban, tambahnya.

Penulis buku, Armaidi Tanjung menyebutkan, buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian I: Prangko, dari Sejarah Hingga Penerbitan 15 tulisan.  

Bagian II: Filateli, Filatelis dan Upaya Pengembangannya 9 tulisan. Bagian III: Serba Serbi Prangko dan Filateli, 6 tulisan. Bagian IV: Lomba Karya Tulis Filateli II/1988, 3 tulisan. Bagian V: Berita dan Aktifitas Perkumpulan Filatelis, 18 berita
Melalui buku ini, pembaca diajak menelusuri prangko sebagai “teks kecil” yang memuat narasi besar: tentang peristiwa nasional, tokoh-tokoh penting, nilai-nilai kebangsaan, hingga dinamika komunikasi manusia sebelum era digital mengambil alih ruang-ruang surat-menyurat.

Filateli, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar hobi, melainkan cara membaca dunia dengan kesabaran, ketelitian, dan rasa hormat pada jejak masa lalu. Juga sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Filatelis Indonesia yang pernah diikuti dan dilakukan oleh Penulis,’’ tutur Armaidi Tanjung mantan Sekretaris PD PFI Sumatera Barat di era-1990-an. (R/*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »