"Adek Nan Tuo": Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Maanta Marapulai Koto Laweh

"Adek Nan Tuo": Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Maanta Marapulai Koto Laweh
Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan Nagari Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya. (Foto: Oktariyoni). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Kekayaan budaya Minangkabau kembali ditampilkan dalam Pawai Budaya dan Festival Kuliner yang digelar Senin (20/4/2026). Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan Nagari Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya, yang mengangkat tradisi unik bernama "Adek Nan Tuo" atau dikenal juga sebagai "Ayam Hitam, Tabang Malam" dalam prosesi Maanta Marapulai.

Wali Nagari Koto Laweh, Kasyati, S.P., menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan salah satu dari tiga cara pelaksanaan pernikahan (manjeloan) yang dikenal di nagarinya, yaitu Adat Nan Tuo, Adat Manangah, dan Adat Nan Bungsu.

"Khusus untuk Adat Nan Tuo, pelaksanaannya dilakukan secara sangat sederhana, hanya dalam satu malam saja. Pakaian yang dikenakan oleh kedua mempelai pun diwajibkan berwarna hitam," ujar Kasyati.

Oleh karena itulah tradisi ini dikenal dalam gurindam lama dengan sebutan "Ayam Hitam Tabang Malam", yang bermakna: "Pai malam, pulang malam, kukuaknyo sajo kadangaran" (Berangkat malam, pulang malam, hanya suaranya yang terdengar).

Simbolisme dalam Hantaran

Setiap barang yang dibawa dalam arak-arakan memiliki makna filosofis yang sangat dalam:

1. Ayam Gadang (Dari Pihak Bako)
Ayam ini melambangkan sosok laki-laki yang sudah dewasa, baligh, berakal, dan berakhlak mulia, yang siap memikul tanggung jawab. Ayam yang dipilih harus memiliki kriteria khusus:

- Bulu yang bagus: Melambangkan kebersihan dan kerapian penampilan.
- Sisik kaki yang bagus: Melambangkan ketajaman akal budi dan karakter.
- Taji yang tajam: Melambangkan ilmu pengetahuan (sarak, undang, adat) sebagai senjata untuk membela keluarga dan nagari.
- Pial yang bagus: Melambangkan kewibawaan dan kehormatan.
- Kukuak yang bagus, nyaring, dan balenggek: Melambangkan tutur kata yang baik, bijaksana, dan dihargai.
- Mata yang melek: Melambangkan ketajaman pandangan untuk melihat kebenaran dan selalu waspada.
- Telinga yang nyaring: Melambangkan kepekaan untuk mendengar keluhan, menerima nasihat, dan sigap terhadap ancaman.

Filosofi ini diperkuat dalam pepatah: "Kok malam didanga-danga, kok siang dicaliak-caliak" yang artinya senantiasa waspada dan teliti dalam bertindak.

2. Karambia, Beringin, dan Gagang Siriah (Dibawa Induak Bako)

- Karambia Tumbuah: Melambangkan ketulusan hati dan keikhlasan berbuat baik tanpa mengharap balasan.
- Beringin: Melambangkan keteguhan dan kemampuan menjadi pelindung serta naungan bagi orang banyak, layaknya pohon besar yang meneduhkan.
- Gagang Siriah: Melambangkan kemampuan membuka wawasan dan beradaptasi dalam pergaulan.

3. Nasi Kunik (Dari Pihak Bako)

Nasi berwarna kuning ini melambangkan bahwa calon suami berasal dari keturunan yang baik dan memiliki keteguhan hati yang kokoh, tidak mudah goyah menghadapi tantangan hidup.

4. Buyiang, Pisang Sadulang, Ikan Gadang, dan Hantaran Lainnya (Dari Pihak Ibu)

Buyiang yang terbuat dari rotan dan dibungkus kain songket berisi beras, melambangkan pentingnya menjaga kerahasiaan rumah tangga, yang sebaiknya hanya diketahui oleh suami dan istri.

Melalui tradisi "Adek Nan Tuo" ini, masyarakat Nagari Koto Laweh terus mewariskan nilai-nilai luhur tentang kedewasaan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang. (BO)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »