Generasi Muda Minang Kehilangan Adab di Ruang Digital

Generasi Muda Minang Kehilangan Adab di Ruang Digital
Penulis: Zulkifli, Wakil sekretaris DPD Gerindra Sumbar. 

HARI
ini kita dihadapkan pada kenyataan yang memprihatinkan. Sebagian generasi muda Minangkabau tidak lagi menjadikan adab sebagai pijakan, terutama dalam bertutur di media sosial. Kata-kata kotor, hinaan, bahkan caci maki, justru dianggap sebagai bentuk keberanian dan kebanggaan. Ini bukan sekadar perubahan zaman—ini adalah kemunduran nilai.

Padahal, sejak dahulu leluhur Minangkabau telah mengajarkan bahwa perbedaan adalah hal yang lumrah. “Basilang kayu dalam tungku, mako api ka hiduik”—perbedaan justru melahirkan kehidupan. Namun perbedaan itu tidak pernah dibungkus dengan kebencian, apalagi penghinaan. Lisan tetap dijaga, adat tetap dijunjung, dan marwah diri tetap dipelihara.

Kini, yang terjadi justru sebaliknya. Perbedaan pendapat berubah menjadi ajang saling menjatuhkan. Diskusi kehilangan arah, narasi kehilangan makna. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi ilmu dan gagasan, berubah menjadi arena konflik tanpa adab. Seolah-olah semakin kasar seseorang berbicara, semakin tinggi pula pengakuan yang ia dapatkan.

Jika kita menengok ke belakang, tokoh-tokoh Minangkabau seperti Buya Hamka memberikan teladan yang sangat jelas. Beliau dikenal kritis, tajam dalam berpikir, dan berani dalam menyampaikan pendapat. Namun satu hal yang tidak pernah hilang adalah adab. Tidak ada cacian dalam kritiknya, tidak ada hinaan dalam perbedaan pandangannya. Semua disampaikan dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan tanggung jawab.

Di sinilah letak persoalan generasi hari ini. Bukan pada keberanian berbicara, tetapi pada hilangnya kendali dalam bertutur. Padahal dalam adat Minangkabau dikenal “kato nan ampek”—aturan dalam berbicara sesuai tempat dan lawan bicara. Ada batas, ada etika, ada kehormatan yang harus dijaga.

Ketika lisan tidak lagi terjaga, maka yang runtuh bukan hanya sopan santun, tetapi juga jati diri. Minangkabau bukan sekadar identitas geografis atau suku, tetapi nilai. Jika nilai itu hilang, maka yang tersisa hanyalah nama tanpa makna.

Generasi muda Minang harus kembali pada akar. Berbeda pendapat adalah keniscayaan, tetapi menghina bukanlah jalan. Kritik adalah bagian dari kecerdasan, tetapi mencaci adalah tanda kehilangan arah. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mencerdaskan, bukan merendahkan.

Jika tidak, maka kita sedang menyaksikan satu hal yang lebih berbahaya dari sekadar pergeseran zaman: hilangnya marwah Minangkabau dari generasinya sendiri. (*) 

Penulis: Zulkifli, Wakil sekretaris DPD Gerindra Sumbar

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »