Jejak Tabot Rejang: Antara Keyakinan, Tradisi, dan Catatan Lama

Jejak Tabot Rejang: Antara Keyakinan, Tradisi, dan Catatan Lama
Ia hadir setiap tahun, menyatukan unsur religius, budaya, dan sejarah dalam satu rangkaian peristiwa yang hidup dan diwariskan lintas generasi. 

DI
berbagai daerah di pesisir barat Sumatra, terutama di Bengkulu, perayaan Tabot telah lama dikenal sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Ia hadir setiap tahun, menyatukan unsur religius, budaya, dan sejarah dalam satu rangkaian peristiwa yang hidup dan diwariskan lintas generasi. 

Dalam pemahaman yang berkembang luas, tradisi ini kerap dikaitkan dengan peristiwa Karbala—sebuah tragedi besar dalam sejarah Islam yang melibatkan Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Kaitan tersebut telah menjadi bagian dari narasi yang diyakini dan dijaga oleh masyarakat hingga hari ini.

Namun, sebuah catatan lama menghadirkan sudut pandang yang menarik untuk dibaca secara hati-hati.

Pada tahun 1909, sebuah tulisan berjudul Redjangsch Offerfeest dimuat dalam majalah Belanda Eigen Haard. Catatan ini ditulis oleh August van Balgooij, yang merekam kisah yang hidup di tengah masyarakat Rejang pada masa itu. Dalam naskah tersebut, muncul tokoh Bagindo Ali bersama dua putranya, Asan dan Oesin—nama-nama yang secara bunyi mengingatkan pada Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.

Akan tetapi, ketika isi kisah itu ditelusuri lebih jauh, alur ceritanya berkembang dalam latar dan pola peristiwa yang berbeda dari kronik Karbala yang dikenal luas. Tidak ditemukan penanda tempat, waktu, maupun rangkaian peristiwa yang secara langsung merujuk pada tragedi tersebut. Sebaliknya, kisah bergerak dalam ruang lokal, dengan konflik dan penyelesaian yang membentuk praktik simbolik yang kemudian diwariskan.

Di titik inilah pembacaan menjadi penting

Catatan ini tidak serta-merta meniadakan pemahaman yang telah hidup di masyarakat. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan bahwa tradisi yang ada hari ini terbentuk melalui proses panjang—di mana ingatan keagamaan, penyerapan nama, dan pengalaman lokal saling bertemu dan membentuk narasi yang khas.

Dengan kata lain, apa yang hari ini dipahami sebagai satu kesatuan, bisa jadi merupakan hasil dari pertemuan berbagai lapisan sejarah: antara pengaruh besar dari dunia Islam dan konstruksi budaya setempat.

Bagi masyarakat, tradisi tidak hanya soal asal-usul, tetapi juga tentang makna yang terus dijaga. Tabot bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan praktik yang hidup—yang mengikat identitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang diyakini.

Karena itu, membaca kembali catatan lama seperti yang ditulis oleh August van Balgooij bukan untuk membantah keyakinan, melainkan untuk memperkaya pemahaman. Ia mengingatkan bahwa di balik sebuah tradisi, sering kali tersimpan perjalanan sejarah yang tidak tunggal, melainkan berlapis.

Dan justru di situlah nilai pentingnya:
tradisi tetap hidup, sementara pemahaman terus bertumbuh.

Redjangsch Offerfeest, DOOR AUGUST VAN BALGOOI

Pada zaman yang sangat lampau—begitu lampau sehingga tidak ada catatan mengenai kisah ini dalam buku-buku—hidup seorang pengikut setia Nabi Muhammad bernama Bagindo Ali, bersama dua orang putranya, Asan dan Oesin, yang ia didik dengan penuh kebijaksanaan dan ketakwaan. Di atas segalanya, rasa jijik dan kebencian terhadap orang-orang kafir tertanam kuat di hati mereka. Di sela-sela waktu makan, mereka senantiasa melantunkan doa kepada Allah dan Rasul-Nya (semoga nama-Nya dimuliakan), atau Bagindo Ali menceritakan kepada putra-putranya tentang mukjizat yang disaksikannya dari Nabi Muhammad (yang namanya senantiasa dipuji sepanjang masa), serta ajaran-ajaran luhur yang ditanamkan oleh Nabi suci itu ke dalam hati para pengikutnya.

Namun demikian, Allah Mahabesar, dan jalan-Nya tidak dapat dipahami oleh manusia yang lemah bagaikan cacing, yang akan dibutakan seandainya berani mencoba memahami kehendak-Nya. Maka terjadilah, atas kehendak Allah Yang Mahakekal, sekelompok kaum kafir melintasi negeri itu dengan melakukan pembunuhan dan pembakaran, tanpa mengampuni orang-orang tua maupun ibu-ibu muda yang masih menyusui anaknya. Kabar tentang kesucian Bagindo Ali dan kedua putranya juga sampai kepada mereka. Karena rasa takut yang besar, mereka tidak berani berperang secara terbuka melawan ketiganya yang suci itu, melainkan berusaha dengan tipu daya untuk memisahkan mereka agar dapat dibunuh satu per satu. Dengan cara demikian, kaum kafir berhasil meracuni Asan hingga mati.

Bagindo Ali, sang ayah, diliputi kesedihan yang sangat mendalam. Namun kemudian ia menyadari bahwa seandainya bukan atas kehendak Allah, putranya tidak akan gugur, bahkan oleh racun yang paling mematikan sekalipun. Maka ia pun berdoa:

“Wahai Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah hamba-Mu yang hina ini atas luapan kesedihan yang lahir dari hati yang lemah dan duniawi, yang belum mampu melepaskan diri dari hal-hal fana di lembah air mata ini. Wahai Muhammad, Nabiku, jadilah engkau perantara bagi hamba-Mu yang tidak layak ini di hadapan Allah Yang Maha Esa. Aku memohon kepada-Nya, sebagaimana aku bersimpuh memohon kepadamu, agar Dia juga memanggil putra sulungku kepada-Nya, sebagai tanda bahwa Dia tidak mencatat keraguan hatiku yang lemah ini dalam Kitab Kehidupan Kekal di surga.”

Setelah doanya yang tulus itu, Bagindo Ali bangkit. Tampak cahaya di matanya yang telah tua, dan harapan kembali turun ke dalam hatinya. Dengan suara lembut namun tegas ia berkata kepada putranya yang masih tersisa, Oesin, dan kepada pelayannya: “Pergilah dan berperanglah melawan kaum kafir. Jika Allah—yang nama-Nya senantiasa dipuji—mengabulkan permohonanku, maka kalian tidak akan kembali lagi ke dunia ini. Semoga berkah Allah Yang Mahatinggi dan Rasul-Nya menyertai kalian.”

Oesin menerima perintah ayahnya dengan penuh rasa syukur, karena sesuai dengan dorongan semangat mudanya yang berkobar. Ia mengenakan pedang, mengenakan sorban suci dari Mekah, lalu berangkat ke medan perang, diikuti oleh pelayannya yang setia, yang namanya tidak lagi tersimpan dalam catatan.

Dalam sengitnya pertempuran, pelayan itu kehilangan tuannya. Ketika hari hampir tenggelam di ufuk, ia berdiri kebingungan seorang diri di medan perang, di samping jenazah Oesin yang telah kehilangan kepala dan satu lengannya. Sambil menangis dan berdoa, ia mencari di sekitar tempat itu hingga akhirnya menemukan lengan yang hilang, yang kemudian ia tempatkan kembali dengan hati-hati pada tubuh jenazah. Setelah itu ia kembali meratap:

“Wahai Allah Yang Mahakuasa, yang nama-Nya senantiasa dimuliakan hingga akhir zaman, bagaimana mungkin tuanku yang tercinta menghadap kepada-Mu tanpa kepalanya, yang gugur dalam pengabdian suci melawan kaum kafir yang terkutuk! Wahai Muhammad yang terpuji, bagaimana mungkin aku menyampaikan aib ini kepada Bagindo Ali yang suci! Bantulah aku dengan pertolongan-Mu yang agung!”

Angin senja bertiup di atas padang luas itu. Dengan harapan yang besar, pelayan tersebut melihat dari kejauhan kain sorban yang tertiup angin. Ia segera berlari ke arah itu dan dengan penuh haru bersujud sambil memanjatkan doa kepada Allah Yang Mahatinggi ketika menemukan kepala tuannya. Dengan hati-hati ia membawanya kembali, lalu meletakkannya di atas tubuh jenazah, dengan wajah menghadap ke arah timur.

Sepanjang malam ia berjaga sambil berdoa di sisi jasad tuannya. Pada pagi hari ia berniat menggali kubur dan kembali kepada Bagindo Ali untuk menyampaikan kabar duka tentang kematian putranya.

Namun ketika fajar mulai merekah di ufuk, ia menyaksikan dengan penuh keheranan bahwa dari langit turun sebuah bangunan. Bangunan itu seluruhnya terbuat dari marmer putih yang indah, dihiasi ukiran dan batu berwarna, serta di sekelilingnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan huruf emas. Bangunan itu turun dari langit hingga mencapai jenazah tuannya, sehingga cahaya dari keindahan itu membuat pelayan tersebut terpesona dan tunduk penuh rasa takut dan hormat sambil melafalkan nama Allah dan Rasul-Nya.

Ketika ia kembali menengadah, bangunan itu bersama jenazah telah lenyap dalam cahaya langit yang gemerlap.

"Allah Mahabesar dan Muhammad adalah Rasul-Nya; tidak ada Tuhan selain Allah, dan segala puji bagi-Nya,” seru sang pelayan, lalu bergegas menuju Bagindo Ali untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Peristiwa itu terjadi pada hari ke-10 bulan Muharam.

Sejak saat itu, setiap tahun, mulai hari pertama Muharam—hari keberangkatan tuannya ke medan perang—pelayan tersebut membuat tiruan bangunan yang dilihatnya itu. Pada hari kesepuluh Muharam ia mempersembahkannya ke air sebagai ungkapan syukur, dan ia mewasiatkan kepada anak-anak serta keturunannya untuk melakukan hal yang sama setelah wafatnya, selama masih ada keturunan yang hidup atas karunia Allah dan Rasul-Nya.

Penutup 

Pada akhirnya, membaca tradisi seperti Tabot Rejang melalui catatan-catatan lama bukan soal mengubah keyakinan yang telah hidup di masyarakat, melainkan memperluas cara pandang terhadap bagaimana sebuah tradisi terbentuk dan bertahan. Di antara teks, ingatan, dan praktik budaya, selalu ada ruang yang memperlihatkan bahwa sejarah tidak pernah berdiri tunggal, melainkan bergerak dalam lapisan-lapisan makna yang terus berkembang seiring waktu.

Sumber naskah dan gambar : Eigen Haard; Geïllustreerd Volkstijdschrift, 1909, no. 16, 17-04-1909
Penyunting: Marjafri

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »