| Siang itu, matahari di atas Kota Solok seakan sedang semangat-semangatnya membakar aspal. (Foto Ilustrasi). |
Tanpa pikir panjang, saya langsung membelokkan kemudi menuju SPBU terdekat. Sialnya, pemandangan di sana tidak kalah panas: antrean kendaraan sudah mengular panjang, persis seperti antrean sembako murah.
"Sabar... sabar... daripada mogok di tengah jalan," batin saya mencoba berdamai dengan keadaan.
Satu per satu kendaraan di depan bergerak maju. Menit berganti jam, keringat mulai terasa dingin meski AC mobil menyala. Saya perhatikan petugas SPBU yang tampak kewalahan melayani arus kendaraan yang tak putus-putus. Dalam hati, saya merasa iba, tapi rasa haus akan bensin jauh lebih besar saat itu.
Detik-detik yang dinantikan pun tiba. Mobil di depan saya baru saja selesai mengisi. Petugas itu memberikan isyarat tangan agar saya segera maju ke posisi nozzle nomor 1. Hati saya bersorak, rasanya seperti menang undian!
Saya majukan mobil perlahan, menurunkan kaca jendela, dan sudah menyiapkan uang di tangan.
"Isi, Bang..." Baru saja dua kata itu keluar dari mulut saya.
Tiba-tiba, suara mesin pompa yang tadinya menderu halus berubah menjadi bunyi putus-putus yang menyakitkan telinga: KREK... TUT... TUT...
Petugas itu terdiam. Ia mencoba menekan-nekan tombol di mesin, tapi layarnya malah menunjukkan angka nol yang tidak bergerak. Ia menoleh ke arah saya dengan tatapan penuh rasa bersalah bercampur bingung.
"Aduh, mohon maaf sekali, Pak... Sepertinya stoknya baru saja habis total," ucapnya dengan nada lemas.
Saya tertegun sejenak. Pikiran saya mendadak kosong. Hah? Serius? Rasanya seperti sudah sampai di depan pelaminan, tapi pengantinnya malah kabur. Sudah antre selama itu, giliran tinggal satu jengkal lagi, eh... tangki pendam SPBU-nya malah menyerah.
"Waduh, Bang... Kok bisa pas banget giliran ambo (saya) yang habis? Tadi mobil depan masih lancar jaya," tanya saya setengah tidak percaya, antara mau marah atau mau ketawa meratapi nasib.
"Iya, Pak, memang nasib. Sensornya baru saja mengunci karena stok di bawah batas minimal. Mesinnya otomatis mati, Pak," jelas si petugas sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Saya hanya bisa menghela napas panjang sedalam sumur. Mau ngomel pun, bensin tidak akan mendadak muncul dari lubang selang. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga dan bensin yang entah cukup atau tidak, saya terpaksa memundurkan mobil keluar dari jalur antrean.
Sepanjang jalan menuju SPBU lain, saya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. Ternyata hidup memang penuh kejutan yang kadang tidak lucu. Pelajarannya cuma satu: Jangan pernah menunda isi bensin sampai tetes terakhir, karena nasib apes tidak pernah kirim pesan singkat sebelum datang!
Moral Cerita: Kadang, kesabaran kita diuji justru di garis finis. Tetaplah tersenyum, meski yang didapat cuma angin, bukan bensin. (BO)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »