| Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Arsal Ismail, didampingi General Manager PTBA Unit Pertambangan Ombilin (PTBA UPO) Sawahlunto, Yulfaizon, meninjau langsung lokasi tersebut, Jumat (17/4/2026). |
Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi riil di lapangan, menyusul sorotan publik terhadap belum optimalnya penataan kawasan yang berada dalam kuasa penggunaan lahan PTBA serta dampaknya terhadap aktivitas usaha para pedagang.
Dalam peninjauan tersebut, Dirut PTBA juga didampingi Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto, Rovay Abdam, bersama sejumlah pejabat pemerintah daerah. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peresmian Saka Ombilin Heritage Hotel, yang sebelumnya merupakan kantor tambang batubara lama di kawasan tersebut.
Dalam dialog langsung di lokasi, Arsal Ismail berdiskusi dengan perwakilan pedagang, termasuk Dewi, Bendahara Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto (Apesisto). Percakapan tersebut mengungkap kondisi riil yang dihadapi pedagang selama delapan bulan terakhir.
“Kalau malam masih buka?” tanya Arsal.
“Buka, Pak. Tapi kalau hujan, becek. Pengunjung tidak ada yang datang, bahkan siang hari. Sudah delapan bulan kami di sini. Harapan kami, mohon ada penataan agar kami bisa beraktivitas normal dan ada rezeki untuk hidup sehari-hari,” jawab Dewi.
Kondisi becek, genangan air saat hujan, serta fasilitas yang belum memadai menjadi persoalan utama yang dikeluhkan pedagang. Situasi tersebut berdampak langsung pada menurunnya jumlah pengunjung dan omzet usaha.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Sawahlunto, Rovanly Abdams, menyatakan bahwa secara perencanaan, penataan kawasan sebenarnya telah siap, termasuk desain dan dukungan anggaran.
“Semua sudah ada, termasuk desain dan anggaran. Namun karena faktor regulasi, pelaksanaannya belum bisa dilakukan. Meskipun sudah ada izin prinsip dari PTBA namun masih diperlukan pendampingan dari pihak kejaksaan, ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Arsal Ismail menekankan pentingnya mencari solusi bersama agar persoalan yang berkembang tidak berlarut-larut.
“Kita sama-sama cari yang terbaik lah ya. Ke depan, kalau hak pakai sudah bisa, kan tidak ada isu lagi,” ujarnya.
Di sisi lain, para pedagang menyampaikan harapan agar segera ada kejelasan penataan, mengingat kondisi saat ini dinilai semakin menyulitkan, terutama saat musim hujan.
“Kami ingin kembali ke Lapangan Segitiga karena kondisi di sini seperti ini, Pak. Sebenarnya tempat ini nyaman, tapi karena belum ada penataan, kami kesulitan berjualan, apalagi saat hujan,” ujar Dewi.
Menutup dialog, Arsal Ismail meminta para pedagang untuk bersabar sembari menunggu proses yang sedang berjalan.
“Bersabar ya. Kita sama-sama berdoa di bulan Syawal ini, semoga rezeki bertambah dan ekonomi membaik,” katanya.
Kunjungan ini memperlihatkan bahwa berbagai keluhan yang berkembang di masyarakat memiliki dasar kondisi riil di lapangan. Namun demikian, penyelesaian masih bergantung pada kejelasan aspek regulasi dan penggunaan lahan yang hingga kini belum sepenuhnya tuntas. (*)
Pewarta: Marjafri
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »