| Dibuat oleh tangan-tangan kreatif warga binaan, batik ini bukan hanya menghadirkan corak yang khas, tetapi juga membawa kisah sejarah Sawahlunto ke atas selembar kain. (Fotdok: Instagram lkpn.sawahlunto). |
Dibuat oleh tangan-tangan kreatif warga binaan, batik ini bukan hanya menghadirkan corak yang khas, tetapi juga membawa kisah sejarah Sawahlunto ke atas selembar kain.
Kini, gaung Batik Tangsi semakin berkibar. Pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia melalui berbagai jalur pemasaran, termasuk platform Shopee.
Permintaan yang meningkat membuat proses produksi nyaris tidak pernah berhenti. Bahkan, sejumlah pemesan harus rela masuk dalam daftar tunggu.
Untuk pasar lokal, peminatnya datang dari berbagai kalangan, mulai dari kolektor batik, masyarakat umum, instansi pemerintah, hingga sektor perhotelan seperti SAKA Hotel.
Kasubsi Admisi dan Orientasi Lapas Narkotika Kelas III Sawahlunto, Doni Octa Sanjaya, S.H., mengaku dirinya sendiri masih menunggu antrean atas batik yang telah dipesannya.
"Saya sendiri memesan Batik Tangsi warna hitam, tetapi masih menunggu giliran karena produksinya mengikuti antrean pesanan," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (2/7/2026).
Pemandangan itu menjadi sesuatu yang menarik. Sebuah produk yang lahir dari balik jeruji kini justru dicari banyak orang.
Berawal dari Sebuah Gagasan
Batik Tangsi merupakan buah pemikiran Kepala Lapas Narkotika Kelas III Sawahlunto, Ressy Setiawan, yang mulai bertugas di Sawahlunto pada 12 Juni 2025.
Saat mengenal lebih dekat sejarah kota tambang yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia, ia melihat potensi yang belum banyak disentuh.
Menurutnya, sejarah Sawahlunto tidak hanya layak dikenang melalui bangunan tua, museum, atau rel kereta api, tetapi juga dapat diabadikan melalui karya seni yang memiliki nilai ekonomi.
Dari gagasan itulah lahir Batik Tangsi, sebuah karya yang memadukan pembinaan kemandirian warga binaan dengan upaya memperkenalkan sejarah Sawahlunto kepada masyarakat luas.
Program tersebut kemudian berkembang menjadi unit pembinaan kemandirian "Jemari Jeruji" Batik Tangsi, yang diresmikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat pada 6 Januari 2026.
Ketika Sejarah Menjadi Motif
Batik Tangsi tidak sekadar menghadirkan corak yang indah. Setiap motif memiliki cerita.
Motif Mak Itam terinspirasi dari lokomotif uap legendaris Sawahlunto yang dahulu mengangkut batubara dari Ombilin.
Lokomotif itu menjadi simbol kekuatan, kerja keras, dan perjalanan panjang kota tambang yang kini diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Motif Orang Rantai mengangkat sejarah pekerja paksa pada masa kolonial Belanda. Di tangan para warga binaan, kisah kelam tersebut dimaknai kembali sebagai simbol refleksi, perjuangan, dan harapan untuk memperbaiki kehidupan.
Sementara Motif Lingkaber mengambil inspirasi dari elemen-elemen khas kehidupan pemasyarakatan yang diolah menjadi motif dengan nilai filosofis tentang pembinaan dan perubahan diri.
Melalui tiga motif utama itu, Batik Tangsi tidak hanya menjual keindahan visual, tetapi juga membawa narasi sejarah Sawahlunto kepada siapa pun yang mengenakannya.
Dari Lapas ke Panggung Nasional dan Internasional
Perjalanan Batik Tangsi tidak berhenti di ruang produksi lapas.
Karya tersebut telah tampil dalam sejumlah ajang bergengsi, di antaranya Indonesian Prison Products and Arts Festival (IPPA Fest) dan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Bali.
Keikutsertaan itu menjadi bukti bahwa hasil karya warga binaan mampu berdiri sejajar dengan berbagai produk kreatif lainnya.
Tak hanya itu, Batik Tangsi juga menjadi media pembelajaran. Mahasiswa dari Universitas Bung Hatta, Universitas Nahdlatul Ulama, pelajar MAN Sijunjung, serta sejumlah institusi pendidikan lainnya datang untuk melihat langsung proses pembuatannya.
Mereka tidak sekadar belajar teknik membatik, tetapi juga melihat bagaimana pembinaan di lembaga pemasyarakatan dapat melahirkan kreativitas, keterampilan, dan harapan baru.
Lebih dari Sekadar Kain
Di tengah meningkatnya permintaan pasar, Batik Tangsi telah berkembang menjadi lebih dari sekadar produk kerajinan.
Setiap lembar kain membawa identitas Sawahlunto sebagai kota tambang bersejarah. Setiap goresan malam yang dituangkan para warga binaan menjadi media untuk merawat ingatan tentang Mak Itam, Orang Rantai, dan perjalanan panjang kota yang pernah menjadi pusat industri batubara Hindia Belanda.
Di balik jeruji besi, tangan-tangan yang tengah menjalani proses pembinaan justru sedang menuliskan kisah lain—kisah tentang kreativitas, kesempatan untuk berubah, dan kebanggaan terhadap sejarah daerah.
Ketika selembar Batik Tangsi dikenakan seseorang di luar Sawahlunto, yang ikut terbawa bukan hanya motifnya, melainkan juga sepotong cerita tentang sebuah kota warisan dunia yang terus hidup melalui karya anak bangsanya.
Kini, orderan terus mengalir. Namun, bagi Batik Tangsi, keberhasilan sesungguhnya bukan sekadar banyaknya pesanan yang datang, melainkan ketika setiap lembar kain mampu menjadi duta kecil yang memperkenalkan sejarah Sawahlunto kepada Indonesia, bahkan dunia. (*)
Pewarta: Marjafri
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »