| Khusus KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. (Foto: Armaidi). |
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tinggal menghitung hari.
Selain Panitia Muktamar NU ke-35 yang semakin sibuk, juga masing-masing kandidat bersama Tim semakin sibuk bagaimana mendapatkan dukungan suara dari PWNU/PCNU se-Indonesia.
Sepertinya sudah menjadi tradisi di setiap kali Muktamar NU, selalu muncul “geger” mengenai siapa yang bakal memimpin organisasi terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan.
Baik ketika calon kuat hanya dua orang maupun ketika jumlahnya lebih dari dua, dinamika perebutan kursi Ketua Umum PBNU selalu menarik perhatian.
Jika calon kuat hanya dua orang, “geger”-nya mungkin tidak terlalu kuat dibandingkan ketika kandidat yang muncul lebih banyak.
Salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU lima tahun mendatang adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Selain itu, juga muncul nama-nama lain seperti KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) petahana yang kini menjabat Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, Prof. KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).
Masing-masing nama tersebut tentu memiliki kapasitas, pengalaman, latar belakang, dan rekam jejak ke-NU-an yang tidak perlu diragukan.
Mereka adalah tokoh-tokoh NU yang sudah tidak asing lagi, baik di lingkungan internal NU maupun di luar NU.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kemampuan untuk memimpin serta membawa NU melangkah lima tahun ke depan.
Khusus KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum.
Dari garis ibunya, nasabnya tersambung kepada Nyai Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari yang menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama ahli falak sekaligus penulis kitab Amtsilah Tasrifiyah.
Sementara dari garis ayah, nasabnya tersambung kepada KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.
Gus Kikin merupakan Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029.
Ia terpilih secara aklamasi dalam Konferwil NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024.
Peluang
Masing-masing calon tentu telah menyusun strategi dan membangun komunikasi untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya dari PCNU, PCINU, dan PWNU se-Indonesia.
Beragam cara, strategi, pertemuan, dan kegiatan dilakukan oleh masing-masing kandidat.
Karena itu, menarik untuk membaca peluang masing-masing kandidat menjelang Muktamar ke-35 NU.
Nama Gus Kikin mulai mencuat beberapa bulan belakangan menjelang Muktamar.
Tidak seperti nama lain yang sudah muncul jauh-jauh hari menjelang Muktamar NU ke-35 bakal digelar.
Gus Kikin sendiri tidak mau mencari jabatan Ketua Umum, apalagi jabatan di organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Gus Kikin tidak meminta dirinya untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU.
Kemudian dirinya diminta untuk maju calon Ketua Umum PBNU oleh kiai-kiai yang ingin melihat perubahan terjadi di jajaran PBNU.
Bagi Gus Kikin karena ini diminta, bukan meminta, maka sebuah amanah organisasi yang harus diterima dan dijalankan.
Sebagai warga nahdliyin, keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, tentu bagi Gus Kikin ini panggilan yang harus terima dan mewujudkan cita-cita Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang mendirikan NU.
Dengan mengusung Qanun Asasi, Gus Kikin ingin mengembalikan prinsip-prinsip mendasar NU yang sudah ditulis Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Bagaimana fondasi NU yang ditulis, dilaksanakan dan dipikirkan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari kembali dihidupkan Gus Kikin.
Apalagi memasuki abad ke-2 NU, tentu sangat tepat mengingatkan kembali sejarah pendirian NU, sejarah yang menjadi fondasi dalam menggerakkan NU ke depannya.
Qanun Asasi yang sudah ditulis berpuluh tahun lalu, kemudian tercecer-cecer.
Sekarang sudah berhasil dikumpulkan Gus Kikin menjadi lebih lengkap sebagai panduan menjalankan roda organisasi NU ke depannya.
Gus Kikin dengan kikih dan kemana-mana mensosialisasi prinsip-prinsip yang terkandung dalam Qanun Asasi tersebut.
Salah satu yang turut juga mensosialisasikan tersebut adalah melalui Pesantren Tebuireng bersama Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) dengan menggelar Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Tampil sebagai keynote speaker Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani, sementara KH Ma’ruf Amin (Wapres RI 2019-2024) turut hadir sebagai pembicara.
Dipilihnya Gedung MPR RI sebagai tempat kegiatan tentu memiliki makna tersendiri.
Gedung tersebut merupakan simbol lembaga permusyawaratan dan kehidupan kebangsaan Indonesia.
Kehadiran Ketua MPR RI dan tokoh nasional seperti KH Ma’ruf Amin juga memberikan bobot tersendiri terhadap kegiatan yang digagas oleh Pesantren Tebuireng dan IKAPETE.
Gus Kikin sendiri menyampaikan pemikiran-pemikirannya terkait Al-Qanun Al-Asasi NU.
Sebelum memasuki ruang sidang MPR RI, peserta mendapatkan buku yang ditulis Gus Kikin berjudul Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi, Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, diterbitkan Pustaka Tebuireng, setebal xvii + 214 halaman, cetakan pertama tahun 2026.
Buku tersebut menguraikan secara rinci Al-Qanun Al-Asasi, yang menjadi salah satu landasan pemikiran penting dalam perjalanan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagaimana dirumuskan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
Gus Kikin yang tampil pada awal Halaqah Kebangsaan menguraikan pemikiran-pemikirannya mengenai arah pengembangan NU ke depan.
Ia seakan ingin menghadirkan kembali semangat Al-Qanun Al-Asasi sebagai landasan dalam menggerakkan NU memasuki abad keduanya.
Penulis yang hadir pada Halaqah Kebangsaan yang diselenggarakan Sabtu, 8 Agustus 2026, mendengar Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani menegaskan bahwa Qanun Asasi yang disusun Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menempatkan NU bukan sebagai musuh atau ancaman bagi keutuhan bangsa.
Sebaliknya, NU harus menjadi solusi bagi problematika umat, menjadi kekuatan yang menjaga persatuan, serta mampu merangkul berbagai kelompok masyarakat.
Semangat tersebut pula yang kemudian mendorong para santri pada masa perjuangan kemerdekaan untuk bergabung dalam berbagai laskar perjuangan, termasuk Hizbullah dan Sabilillah.
Bergabung dalam barisan perjuangan tersebut merupakan bagian dari keyakinan untuk membela negara.
Ahmad Muzani juga menceritakan dinamika perjuangan bangsa pada masa pendudukan Jepang. Banyak santri kemudian bergabung dalam berbagai organisasi dan laskar perjuangan.
Di antara tokoh yang disebut adalah KH Yusuf Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari.
Semangat membela negara dan merebut kemerdekaan menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut.
Selain itu, KH Hasyim Asy’ari menyadari bahwa perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditempuh melalui kekuatan bersenjata, tetapi juga membutuhkan perjuangan politik.
Kecintaan terhadap tanah air kemudian menjadi bagian penting yang melekat dalam gerakan NU.
“Dengan demikian, Qanun Asasi ini adalah semangat filosofi yang hidup sepanjang zaman. Indonesia beruntung ada Nahdlatul Ulama. Indonesia beruntung karena ada Qanun Asasi,” tutur Ahmad Muzani.
Sementara itu, KH Ma’ruf Amin menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir dalam Halaqah Kebangsaan tersebut.
Sebagai alumni Pesantren Tebuireng, kehadirannya menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi keilmuan dan perjuangan pesantren.
Menurut Ma’ruf Amin, peran NU dalam moderasi beragama, kebangsaan, dan keumatan memiliki akar kuat dalam pemikiran KH Hasyim Asy’ari.
Dalam Muqaddimah Qanun Asasi, NU ditegaskan sebagai organisasi yang memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, melakukan berbagai perbaikan, dan membawa kebaikan.
Karena itu, NU bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi memiliki gerakan besar yang menyentuh berbagai aspek kehidupan: agama, kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan budaya.
Dalam konteks keumatan, NU memiliki dua tugas besar yang perlu terus dijalankan, yaitu himayatul ummah atau menjaga umat dan taqwiyatul ummah atau memperkuat umat.
Dalam dimensi kebangsaan, menanamkan kecintaan terhadap tanah air telah menjadi bagian penting dari tradisi perjuangan NU.
Semangat Yalal Wathan dan konsep hubbul wathan minal iman menjadi bagian dari khazanah perjuangan tersebut.
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 juga menjadi salah satu momentum penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Gus Kikin, dengan mengusung dan mensosialisasikan Qanun Asasi dalam berbagai momentum NU di berbagai tingkatan, menunjukkan perhatian kuat terhadap akar sejarah dan nilai dasar organisasi.
Gagasan tersebut dapat dibaca sebagai upaya untuk menguatkan kembali NU agar tetap berpijak pada khittah dan nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendirinya.
NU yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa Indonesia, dan umat manusia menjadi tantangan besar ketika organisasi ini memasuki abad kedua.
Dalam konteks inilah, sosok pemimpin dengan latar belakang pesantren, pengalaman organisasi, kemampuan membangun komunikasi kebangsaan, dan kedekatan dengan berbagai kalangan menjadi penting untuk diperhitungkan.
Gus Kikin memiliki sejumlah modal tersebut. Sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029, ia memiliki basis pesantren sekaligus pengalaman memimpin organisasi NU di tingkat wilayah.
Dengan mengusung Qanun Asasi, terlihat bagaimana Gus Kikin ingin mewujudkan NU lebih fokus pada tujuan sosial kemasyarakatan, pendidikan, perbaikan kehidupan umat yang lebih sejahtera, bukan menyeret NU ke ranah kepentingan politik praktis dan kekuasaan kelompok tertentu.
Sehingga semakin dekat pelaksanaan Muktamar NU ke-35, berbagai kekuatan personal NU yang sebelumnya mendukung Gus Yahya di Muktamar NU ke-34 Lampung, kini mulai beralih ke Gus Kikin.
Tentu dukungan yang terus mengalir ke Gus Kikin semakin memperkuat Gus Kikin dengan timnya untuk mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU.
Pengalaman beberapa Muktamar NU, jika pendukung “piawai” sudah bergabung, sudah pertanda kemenangan berada di kandidat tersebut.
Gus Kikin ternyata sudah mendapatkan dukungan dari pendukung “piawai” muktamar NU tersebut.
Tinggal kita menjalani dan menyaksikan dengan tersenyum-senyum Muktamar NU ke-35.
Tidak perlu ribut, gaduh, dan terjadi gesekan-gesekan di sana-sini.
Bukankah kita sama-sama warga nahdiyyin. Selamat bermuktamar. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »