BENTENGSUMBAR.COM - Kekuasaan bukan tiket untuk berbuat sesuka hati. Jabatan bukan pula tameng untuk menghindari pertanggungjawaban. Dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis, pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan, menzalimi rakyat, merusak kehidupan masyarakat, atau mengkhianati amanah menghadapi peringatan yang sangat keras.
Al-Qur’an bahkan mempertanyakan apa yang akan dilakukan manusia ketika diberi kekuasaan: apakah memperbaiki keadaan atau justru membuat kerusakan di muka bumi dan memutus hubungan kekeluargaan.
Peringatan itu tercantum dalam Surah Muhammad ayat 22–23. Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Ayat tersebut kemudian menggambarkan akibat berat bagi mereka yang melakukan kerusakan dan memutus hubungan: laknat Allah serta tertutupnya kemampuan untuk menerima kebenaran.
Pesannya sangat tegas: kekuasaan yang digunakan untuk merusak bukanlah kemuliaan, melainkan jalan menuju kehinaan. Semakin besar kewenangan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula amanah dan pertanggungjawaban yang melekat di belakangnya.
Peringatan lebih keras kembali muncul dalam Surah Al-Qasas ayat 41–42. Allah menyebut orang-orang yang dijadikan pemimpin tetapi justru menyeru manusia menuju neraka. Mereka tidak akan mendapatkan pertolongan pada hari kiamat, bahkan disebut mendapatkan laknat di dunia dan pada hari kiamat termasuk orang-orang yang dijauhkan dari rahmat Allah.
Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa pemimpin tidak hanya membawa dirinya sendiri menuju pertanggungjawaban, tetapi dapat menyeret banyak orang melalui keputusan dan arah kepemimpinannya. Ketika kekuasaan digunakan untuk menyesatkan, menzalimi, atau mengarahkan masyarakat kepada keburukan, konsekuensinya tidak berhenti di dunia.
Al-Qur’an juga menggambarkan penyesalan orang-orang yang dahulu mengikuti para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan mereka. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 67–68, mereka mengakui telah menaati para pemimpin dan pembesar hingga akhirnya tersesat. Mereka kemudian memohon kepada Allah agar para pemimpin tersebut diberi azab dua kali lipat dan laknat yang besar.
Peringatan tersebut sekaligus menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang berada di lingkaran kekuasaan. Jabatan boleh berakhir, kekuasaan bisa berpindah, dan popularitas bisa lenyap, tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak dapat dihindari.
Rasulullah SAW juga memberikan ancaman serius terhadap pemimpin yang mengkhianati rakyat. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa seorang hamba yang diberi kewenangan memimpin rakyat, lalu meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, akan mendapatkan ancaman berupa diharamkannya surga baginya.
Hadis ini menunjukkan betapa berat dosa mengkhianati amanah kepemimpinan. Rakyat bukan angka dalam laporan, bukan sekadar suara ketika pemilihan, dan bukan alat untuk melanggengkan kekuasaan. Mereka adalah manusia yang haknya wajib dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, Al-Qur’an dan hadis tidak menggambarkan kekuasaan sebagai kemewahan tanpa batas. Sebaliknya, kekuasaan adalah amanah yang bisa menjadi jalan menuju kemuliaan apabila digunakan untuk keadilan, tetapi dapat menjadi jalan menuju kebinasaan apabila digunakan untuk kezaliman dan kepentingan diri sendiri.
Pesannya jelas: jangan bangga hanya karena sedang berkuasa. Takutlah jika kekuasaan itu justru menjadi sebab datangnya laknat Allah. Sebab ketika jabatan telah berakhir dan semua atribut kekuasaan ditanggalkan, yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban atas setiap amanah dan keputusan yang pernah dibuat. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »
