| Dalam Surah Al-Baqarah ayat 268, Allah berfirman bahwa setan menjanjikan dan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan serta mendorong mereka berbuat keji dan kikir. (Foto: Int). |
Al-Qur’an telah mengingatkan manusia tentang salah satu jebakan terbesar ketika menghadapi persoalan ekonomi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 268, Allah berfirman bahwa setan menjanjikan dan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan serta mendorong mereka berbuat keji dan kikir. Sebaliknya, Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya.
Pesan ayat tersebut terasa sangat relevan ketika tekanan ekonomi membuat seseorang hidup dalam ketakutan. Takut kehilangan pekerjaan, takut tidak mampu membayar utang, takut kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, hingga takut masa depan menjadi gelap. Dalam kondisi seperti itu, manusia bisa tergoda mengambil jalan yang keliru.
Al-Qur’an bahkan menunjukkan bahwa ketakutan terhadap kemiskinan dapat menjadi pintu masuk bagi perilaku kikir dan tindakan yang tidak dibenarkan. Karena itu, persoalan kemiskinan tidak cukup dilihat hanya dari sisi materi. Ada dimensi moral dan spiritual yang ikut dipertaruhkan ketika seseorang berada dalam tekanan ekonomi berkepanjangan.
Peringatan serupa juga dikenal dalam sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Nu'aim: “Kemiskinan itu hampir saja menjadi kekafiran.” Ungkapan tersebut sering dikutip untuk menggambarkan betapa beratnya tekanan kemiskinan terhadap kehidupan seseorang. Namun, secara keilmuan hadis, ungkapan ini perlu dipahami secara hati-hati dan tidak dijadikan alasan untuk menghakimi orang miskin sebagai orang yang kehilangan iman.
Justru pesan pentingnya adalah bahwa kemiskinan merupakan ujian berat yang membutuhkan kepedulian, bukan penghinaan. Orang yang sedang berada dalam kesulitan ekonomi membutuhkan jalan keluar, kesempatan bekerja, perlindungan sosial, dan dukungan masyarakat agar tidak terdorong mengambil jalan yang merusak dirinya maupun orang lain.
Di sisi lain, ayat tersebut juga menjadi peringatan keras bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Jangan sampai ketakutan kehilangan harta membuat hati semakin keras. Kekayaan yang seharusnya menjadi sarana berbagi justru bisa berubah menjadi sumber keserakahan ketika manusia lebih percaya pada ancaman kemiskinan daripada janji karunia Allah.
Di sinilah pertarungan sesungguhnya berlangsung: antara rasa takut yang membuat manusia menggenggam hartanya erat-erat dan keyakinan yang mendorongnya berbagi serta berbuat kebajikan. Allah menjanjikan ampunan dan karunia, sementara manusia diuji dengan pilihan yang dibuatnya ketika berhadapan dengan harta dan kekurangan.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dapat melahirkan persoalan yang berlapis. Ketika kebutuhan dasar sulit dipenuhi, seseorang dapat menjadi rentan terhadap utang, eksploitasi, penipuan, maupun berbagai keputusan berisiko. Karena itu, melawan kemiskinan juga berarti memperkuat ketahanan keluarga dan masyarakat.
Kemiskinan tidak boleh romantisasi, tetapi juga tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan mereka yang mengalaminya. Yang harus dilawan adalah kondisi yang membuat manusia kehilangan kesempatan untuk hidup layak, sementara yang harus dijaga adalah iman, akal sehat, dan martabat manusia.
Surah Al-Baqarah ayat 268 akhirnya menghadirkan pesan yang sangat tajam: ketika ketakutan terhadap kemiskinan datang, jangan biarkan ketakutan itu mengendalikan seluruh keputusan hidup. Setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar “seberapa miskin kita?”, tetapi juga “apa yang kita lakukan ketika kemiskinan mengetuk pintu?” Apakah ketakutan membuat kita kikir dan kehilangan arah, atau justru mendorong kita untuk berikhtiar, saling menolong, dan tetap menggantungkan harapan kepada Allah?
(*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »