| Mereka memohon kepada Allah agar para pemimpin tersebut mendapatkan azab berlipat ganda. (Foto: int). |
Salah satu gambaran paling tegas tentang pemimpin yang membawa pengikutnya menuju kebinasaan terdapat dalam QS. Hud ayat 98. Ayat tersebut menggambarkan Fir'aun sebagai pemimpin zalim yang pada hari kiamat berjalan di depan kaumnya dan membawa mereka menuju neraka.
“Ia (Fir'aun) berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.”
Kisah Fir'aun menjadi peringatan keras bahwa kekuasaan yang digunakan untuk kesombongan, penindasan dan menyesatkan manusia bukanlah kemuliaan. Jabatan yang seharusnya digunakan untuk menegakkan keadilan justru dapat menjadi jalan menuju kebinasaan apabila dipakai untuk kepentingan diri sendiri dan menzalimi orang lain.
Peringatan serupa juga tergambar dalam QS. Al-Ahzab ayat 67-68, ketika orang-orang yang telah mengikuti para pemimpin dan pembesar yang menyesatkan mereka menyesal pada hari kiamat. Mereka memohon kepada Allah agar para pemimpin tersebut mendapatkan azab berlipat ganda.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
Ancaman terhadap pemimpin yang mengkhianati rakyat juga ditegaskan dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat, kemudian meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, mendapatkan ancaman yang sangat berat.
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan wewenang untuk memimpin rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya persoalan amanah dalam kepemimpinan. Menipu rakyat bukan hanya persoalan etika pemerintahan, tetapi juga menyangkut pertanggungjawaban seorang pemimpin di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bahkan memberikan doa khusus terhadap pemimpin yang justru menyulitkan masyarakat. Dalam HR. Muslim, beliau bersabda:
“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam umatku lalu dia menyulitkan mereka, maka persulitlah dia.”
Pesan hadis tersebut sangat kuat. Pemimpin seharusnya hadir untuk memberikan kemudahan, perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat, bukan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menekan, menyusahkan atau mengambil keuntungan dari rakyat.
Karena itu, kekuasaan dalam perspektif Islam bukanlah tiket menuju kehormatan tanpa batas. Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula amanah dan tanggung jawab yang harus dipikul. Keputusan seorang pemimpin dapat menentukan nasib banyak orang dan setiap kezaliman terhadap rakyat bukan sesuatu yang dianggap ringan dalam ajaran Islam.
Di sisi lain, Islam juga menempatkan pemimpin yang adil pada kedudukan yang sangat mulia. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebut salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah pemimpin yang adil.
Maka, peringatan Al-Qur’an dan hadis tersebut semestinya menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang kekuasaan. Jabatan boleh berakhir, kekuasaan bisa berpindah tangan, dan pujian manusia dapat menghilang. Namun, pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tidak dapat dihindari.
Bagi pemimpin, pertanyaannya bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih, tetapi bagaimana amanah itu dijalankan: apakah membawa keadilan bagi rakyat atau justru menjadi jalan menuju kezaliman dan kebinasaan. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA TERBARU
Anda sedang membaca berita terbaru
Anda sedang membaca berita terbaru
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »