Pengalaman Sembuh dari Stroke, Istighfar hingga Terapi Tradisional Jadi Ikhtiar

stroke menjadi cerita yang menarik
Berbagai ikhtiar dilakukan, mulai dari memperbanyak ibadah, mengatur pola makan, mengonsumsi obat, hingga menjalani terapi tradisional. (Foto: Int). 

PENGALAMAN
seseorang dalam menjalani proses pemulihan dari stroke menjadi cerita yang menarik untuk dibagikan. 

Berbagai ikhtiar dilakukan, mulai dari memperbanyak ibadah, mengatur pola makan, mengonsumsi obat, hingga menjalani terapi tradisional.

Dalam pengalaman saya, salah satu hal yang dilakukan adalah memperbanyak istighfar dan shalawat. 

Selain itu, ia juga mengamalkan zikir “afdhāludz dzikri fa’lam annahu” sedikitnya masing-masing 100 kali. 

Amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain memperbanyak zikir, saya mengaku mengonsumsi obat tradisional Tiongkok Angkung.

Menurut pengalaman saya, ketika terkena stroke, harga obat tersebut mencapai sekitar Rp1,3 juta per butir. 

Saya mengonsumsi sebanyak tiga butir dengan jarak pemberian sekitar satu minggu.

Ikhtiar berikutnya adalah menjalani urut atau pijat tradisional. Terapi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya membantu proses pemulihan setelah mengalami stroke.

Saya juga menerapkan pola puasa medis. Menurut pengalaman saya, pola tersebut dapat menjadi pilihan bagi mereka yang belum mampu menjalankan puasa sunnah maupun puasa Nabi Daud AS. 

Caranya dengan menerapkan jendela makan selama sekitar 12 hingga 18 jam, sementara di luar waktu makan hanya mengonsumsi minuman tanpa gula.

Kalau tidak mampu puasa sunnah atau puasa Daud, bisa mencoba puasa medis dengan jendela makan 12–18 jam. Selebihnya hanya boleh minum teh tawar, air putih, atau kopi pahit.

Pengalaman tersebut menjadi kesaksian pribadi mengenai berbagai ikhtiar yang dijalani dalam menghadapi stroke. Namun, pengalaman setiap orang dapat berbeda. 

Pengobatan stroke sebaiknya tetap dilakukan dengan pendampingan dan anjuran dokter, sementara ibadah, pengaturan pola hidup, dan terapi lainnya dapat menjadi bagian dari ikhtiar sesuai kondisi masing-masing. (*) 

Diceritakan oleh: Zamri Yahya, WU, Pimpinan Redaksi BentengSumbar.com dan anggota DKP PWI Sumatera Barat.

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA TERBARU
Anda sedang membaca berita terbaru
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »