Pokir Muhammad Khalil Al Khair Bukan Cuma Soal Fisik, Basurah Adat Jadi Perhatian

Pokir Muhammad Khalil Al Khair Bukan Cuma Soal Fisik, Basurah Adat Jadi Perhatian
Wakil Wali Kota (Wawako) Maigus Nasir dan Anggota DPRD Kota Padang Muhammad Khalil Al Khair terlihat salam kompak di acara basurah adat. (Foto: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Tidak semua perjuangan menjaga adat dilakukan melalui seremoni besar. Di Kuranji, upaya mempertahankan tradisi Minangkabau dilakukan melalui sebuah lomba yang mengangkat Basurah Adat Bawah Payuang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari realisasi Pokok-pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD Kota Padang Muhammad Khalil Al Khair. Lomba Basurah Adat Bawah Payuang ditutup di samping Gedung Serbaguna Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 26–27 September 2026, itu diikuti 15 kelompok Basurah Adat. Para peserta menampilkan tata cara dan prosesi adat kematian yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Muhammad Khalil Al Khair mengatakan, Basurah Adat bukan sekadar tradisi yang ditampilkan dalam sebuah perlombaan. Di baliknya terdapat peran para pelaku adat yang selama ini mengabdikan diri untuk membantu masyarakat dalam menjalankan berbagai prosesi adat.

Menurut Khalil, para pelaku Basurah Adat menjalankan tugas tersebut dengan penuh keikhlasan dan pengabdian. Karena itu, keberadaan mereka dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah Kota Padang.

“Harapan kami sebagai wakil rakyat, yang mewakili ninik mamak dan guru-guru kita, ke depan ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Padang terhadap orang-orang yang menjalankan tugas Basurah Adat,” ujar Khalil.

Ia menjelaskan, keberadaan Basurah Adat sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama ketika ada warga yang meninggal dunia.

Dalam prosesi tersebut, terdapat berbagai tahapan yang membutuhkan orang-orang yang memahami tata cara adat. Mulai dari proses memandikan, mengurus hingga mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman, semuanya memiliki tata cara yang perlu dipahami dan dijalankan.

“Ketika ada orang meninggal dunia, tentu ada proses memandikan, mengurus hingga mengantarkan ke pemakaman. Karena itu, keberadaan orang-orang yang memahami dan menjalankan adat sangat penting kita berikan dukungan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Melalui realisasi Pokir tersebut, Khalil berharap kegiatan Basurah Adat tidak berhenti sebagai ajang perlombaan. Lebih jauh, kegiatan itu diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat keberadaan para pelaku adat sekaligus mendorong generasi muda agar mengenal dan memahami warisan budaya Minangkabau.

Bagi masyarakat Minangkabau, hilangnya orang-orang yang memahami tata cara adat bukan hanya berarti berkurangnya pelaku sebuah tradisi. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun juga berisiko ikut terputus apabila tidak ada regenerasi.

Karena itu, Lomba Basurah Adat Bawah Payuang di Kuranji menjadi salah satu momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman. Pokir pun diarahkan tidak hanya untuk pembangunan yang bersifat fisik, tetapi juga mendukung kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »