342 Guru SD di Padang Dibekali Cegah Perundungan, Yopi Krislova Dorong Sekolah Aman dan Bebas Kekerasan

342 Guru SD di Padang Dibekali Cegah Perundungan, Yopi Krislova Dorong Sekolah Aman dan Bebas Kekerasan
Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova, menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengenali dan mencegah berbagai bentuk perundungan, kekerasan, maupun intoleransi. (Fotdok: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pencegahan perundungan di sekolah tidak cukup hanya dengan imbauan. Guru perlu memiliki kemampuan mengenali tanda-tanda kekerasan, memahami langkah penanganan, dan membangun lingkungan belajar yang membuat setiap anak merasa aman. Untuk memperkuat upaya tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang membekali 342 guru Sekolah Dasar (SD) melalui pendampingan pencegahan perundungan, kekerasan, dan intoleransi di Gedung Youth Center Padang, 20–21 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung hingga Rabu (21/10/2026) ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat perlindungan peserta didik sejak jenjang sekolah dasar. Melalui peningkatan kapasitas tenaga pendidik, Disdikbud Padang mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta terbebas dari tindakan perundungan dan kekerasan. Upaya ini penting agar sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi anak untuk tumbuh tanpa tekanan dan rasa takut.

Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova, menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengenali dan mencegah berbagai bentuk perundungan, kekerasan, maupun intoleransi. Menurutnya, kemampuan tersebut perlu diperkuat agar pendidik dapat mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekolah. “Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman dan kapasitas para guru agar mampu mengenali berbagai bentuk perundungan, kekerasan, maupun intoleransi, sekaligus memahami langkah pencegahan dan penanganan yang tepat di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Perundungan di lingkungan pendidikan perlu ditangani secara serius karena dapat mengganggu kenyamanan belajar dan perkembangan peserta didik. Karena itu, guru dituntut lebih peka terhadap perubahan perilaku murid, hubungan antarteman, serta situasi yang berpotensi mengarah pada kekerasan. Dengan pemahaman yang memadai, sekolah diharapkan mampu melakukan pencegahan sejak dini, merespons laporan secara tepat, dan memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan yang layak.

Pendampingan ini juga menegaskan pentingnya membangun budaya sekolah yang mengedepankan sikap saling menghormati, toleransi, kepedulian, dan penghargaan terhadap perbedaan. Guru bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam membentuk karakter peserta didik. Lingkungan belajar yang positif diharapkan dapat mendorong murid berani menyampaikan persoalan, menghargai sesama, serta memahami bahwa kekerasan dan perundungan tidak dapat dibenarkan.

Langkah Disdikbud Padang tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Melalui pendampingan ini, penerapan budaya sekolah yang aman dan nyaman didorong agar berjalan secara berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan, khususnya sekolah dasar. Penguatan kebijakan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari guru, pihak sekolah, orang tua, hingga masyarakat, agar perlindungan anak menjadi tanggung jawab bersama.

Yopi berharap pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di sekolah masing-masing. “Kami berharap para guru dapat menerapkan pemahaman yang diperoleh melalui pendampingan ini di sekolah masing-masing, sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai bagi seluruh warga sekolah,” katanya. Penerapan di lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

Ia juga menekankan bahwa setiap murid harus memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut terhadap perundungan, kekerasan, ataupun tindakan intoleransi. “Harapan kita, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya sekolah yang aman dan nyaman, sehingga setiap anak dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara optimal tanpa rasa takut terhadap perundungan, kekerasan, maupun tindakan intoleransi,” tutur Yopi. Pesan tersebut mempertegas pentingnya menghadirkan sekolah yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan penghormatan terhadap martabat setiap anak.

Melalui pendampingan terhadap 342 guru SD ini, Disdikbud Kota Padang memperkuat upaya pencegahan perundungan dengan menempatkan peningkatan kapasitas pendidik sebagai salah satu langkah penting. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan tersebut diterapkan secara konsisten, disertai kepedulian dan penanganan yang tepat di lingkungan sekolah. Dengan kolaborasi seluruh warga pendidikan, cita-cita mewujudkan sekolah aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan diharapkan semakin nyata, sehingga anak-anak Padang dapat belajar dan berkembang dengan lebih percaya diri. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »