Arosuka Diterjang Galodo, Pemkab Solok Bergerak Total: 513 Warga Mengungsi, Pemulihan Terus Dikebut

Arosuka Diterjang Galodo, Pemkab Solok Bergerak Total: 513 Warga Mengungsi, Pemulihan Terus Dikebut
Pemkab Solok menetapkan status tanggap darurat melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026 tertanggal 22 September 2026. (Foto: Oktryoni). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Bencana longsor dan material lumpur, batu serta kayu menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Senin malam, 21 September 2026. Hujan deras sejak sore memicu longsoran di kawasan hulu Sungai Batang Laso hingga menghantam Kompleks Perkantoran Pemkab Solok dan permukiman warga.

Di tengah bencana besar tersebut, Pemerintah Kabupaten Solok bergerak cepat. Di bawah kepemimpinan Bupati Jon Firman Pandu dan Wakil Bupati H. Candra, penanganan dilakukan secara terpadu bersama BPBD, TNI, Polri, Basarnas, tenaga kesehatan, PMI, serta berbagai instansi terkait.

Pemkab Solok menetapkan status tanggap darurat melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026 tertanggal 22 September 2026. Masa tanggap darurat yang semula ditetapkan 14 hari kemudian diperpanjang hingga 12 Oktober 2026.

Duka mendalam mengiringi bencana Arosuka. Dua warga meninggal dunia, yakni Daffi Arahman (21) yang ditemukan pada 22 September dan Agusra (59) yang ditemukan pada 25 September 2026.

Dua warga lainnya mengalami luka berat dan harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Padang. Muhammad Nur Zen (56) dirujuk ke Semen Padang Hospital, sedangkan Affan Alqadri (26) mendapat perawatan di ICU RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming juga meninjau langsung RSUD Arosuka pada 25 September 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah pusat terhadap korban bencana dan penanganan dampak longsor di Kabupaten Solok.

Sebanyak 513 warga terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut. Mereka tersebar di sejumlah titik, termasuk Rumah Pabrik Tahu sebanyak 10 orang, Petshop 15 orang, serta 488 orang yang memilih pengungsian mandiri.

Dampak bencana juga menghantam pusat pemerintahan. Sejumlah gedung mengalami kerusakan berat, di antaranya Kantor Permanen Sekretariat DPRD, Dinas Pariwisata, Dinas PUPR, DPMN, dan Pos Jaga Satpol PP.

Kerusakan juga terjadi pada rumah warga, lahan pertanian, jalan, jembatan hingga kendaraan. Tercatat 19 rumah rusak berat, 9 rusak sedang, 33 rusak ringan, 13 terendam dan 10 lainnya berada dalam kondisi rawan. Sekitar 42 hektare sawah dan 15 hektare lahan kering turut terdampak.

Penanganan dilakukan lintas sektor. TNI, Polri, Basarnas, BPBD, PMI, Kejaksaan, tenaga kesehatan dan berbagai organisasi perangkat daerah bergerak bersama. Dapur umum, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendataan korban dan pembersihan kawasan terus dilakukan.

Alat berat seperti excavator, dump truck, wheel loader dan water tanker juga dikerahkan untuk mempercepat pemulihan. Setelah pembersihan Masjid Kayu Aro rampung, perhatian diarahkan pada pembersihan sungai sekaligus upaya mengurangi risiko bencana susulan.

Bupati Jon Firman Pandu menegaskan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Menurutnya, setelah tanggap darurat berakhir, pekerjaan besar berupa rehabilitasi, rekonstruksi dan mitigasi bencana harus segera dilanjutkan agar masyarakat dapat kembali bangkit dan ancaman serupa dapat diminimalkan. (80) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »