Irman Gusman Tegaskan Pariwisata Tak Cukup Jual Keindahan, Harus Dongkrak Ekonomi Rakyat!

Irman Gusman Tegaskan Pariwisata Tak Cukup Jual Keindahan, Harus Dongkrak Ekonomi Rakyat!
Irman menekankan bahwa keberhasilan pariwisata harus diukur lebih jauh daripada sekadar angka kedatangan wisatawan. (Fotdok: Novrianto). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Senator RI asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan tingginya jumlah kunjungan wisatawan. Pariwisata harus menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Pesan tajam ini menjadi sorotan dalam Special Speech bertajuk “The Resilience of Indonesia Tourism: Daya Saing Pariwisata dan Ketangguhan Ekonomi Daerah” pada The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) di Prama Sanur Beach, Bali, Sabtu (17/10/2026).

Mengusung tema “Reimagining Tourism: In a Fragmented World”, Irman menekankan bahwa keberhasilan pariwisata harus diukur lebih jauh daripada sekadar angka kedatangan wisatawan. Pertanyaan terpenting adalah seberapa besar perputaran uang dari sektor pariwisata benar-benar dirasakan masyarakat lokal. Menurutnya, pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu pilar strategis ekonomi nasional, bukan hanya sektor pendukung yang ramai dikunjungi tetapi belum tentu memberikan manfaat ekonomi secara merata.

Indonesia memiliki modal pariwisata yang besar, mulai dari bentang alam yang memukau, kekayaan budaya, hingga keunikan destinasi di berbagai daerah. Namun, potensi tersebut tidak akan maksimal tanpa konektivitas transportasi yang memadai, promosi yang tepat sasaran, pelayanan berkualitas, dan kebijakan yang terintegrasi. Irman menegaskan, destinasi yang menarik harus didukung kemudahan akses dan kenyamanan wisatawan agar mampu bersaing sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Persoalan paling mendasar, menurut Irman, adalah memastikan manfaat pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada pelaku usaha besar. Belanja wisatawan semestinya ikut menggerakkan petani yang memasok bahan pangan, nelayan yang menyediakan hasil laut, perajin yang menghasilkan produk lokal, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan keterhubungan yang kuat antara industri pariwisata dan ekonomi masyarakat, setiap kunjungan wisatawan berpeluang menciptakan efek berganda yang lebih luas bagi daerah.

“Keindahan alam adalah modal, tetapi ketangguhan lahir dari kepemimpinan. Kita harus memastikan wisatawan mudah datang, nyaman tinggal, dan kehadirannya membawa manfaat nyata bagi masyarakat setempat,” tegas Irman. Pesan tersebut menyoroti pentingnya kepemimpinan dan tata kelola yang mampu mengubah potensi destinasi menjadi kesejahteraan. Tanpa perencanaan yang tepat, kekayaan alam dan budaya berisiko belum memberikan dampak ekonomi optimal bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan wisata.

Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu juga mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya destinasi wisata, tetapi perlu dilibatkan dalam pengelolaan sekaligus memperoleh kesempatan ekonomi yang adil. Prinsip pariwisata berkelanjutan menjadi penting agar daya tarik destinasi tetap terjaga dan manfaatnya dapat dinikmati dalam jangka panjang.

Dalam rangkaian ITMW ke-2, Irman turut menyerahkan penghargaan kepada sejumlah kepala daerah yang dinilai berprestasi dalam pengembangan pariwisata, yakni dari Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Kuantan Singingi, Kota Pekanbaru, Kabupaten Badung, Kabupaten Kulon Progo, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya daerah dalam mengembangkan potensi wisata serta memperkuat kontribusi sektor ini terhadap perekonomian. Bagi daerah, tantangan berikutnya adalah memastikan promosi dan peningkatan kunjungan berjalan seiring dengan pertumbuhan usaha lokal dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, saat membuka kegiatan, menyoroti pentingnya pembenahan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, dan dukungan kebijakan pembiayaan dari pemerintah pusat untuk memperkuat daya saing pariwisata. Sementara itu, Founder and Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, menekankan penguatan promosi digital, pemberdayaan komunitas lokal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Ia juga menyebut Bali sebagai rujukan bagi daerah lain dalam pengelolaan pariwisata. Selain konferensi dan diskusi digitalisasi serta kecerdasan artifisial (AI), ITMW 2026 menghadirkan kompetisi meracik kopi dan aksi konservasi lingkungan, termasuk pelepasan tukik.

Melalui forum tersebut, Irman mendorong penguatan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk membangun pariwisata Indonesia yang tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan. Tantangan pariwisata ke depan bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan memastikan setiap peluang yang tercipta mampu menggerakkan UMKM, memperluas lapangan usaha, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan warga. Pariwisata yang benar-benar berhasil bukan hanya membuat destinasi semakin terkenal, tetapi juga membuat masyarakat di sekitarnya semakin sejahtera. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »