| Kisah Madjoe Pahit yang dituturkan dalam tulisan ini menarik perhatian karena memiliki sejumlah unsur yang sangat dekat dengan tradisi Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti yang dikenal dalam tradisi lisan Sumatra bagian selatan. (Foto: Marjafri). |
Kisah Madjoe Pahit yang dituturkan dalam tulisan ini menarik perhatian karena memiliki sejumlah unsur yang sangat dekat dengan tradisi Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti yang dikenal dalam tradisi lisan Sumatra bagian selatan. Namun, kisah yang dimuat dalam Java-post; weekblad van Nederlandsch-Indië, 6 April 1917, tampil dengan nama tokoh, alur, tokoh lawan, serta sejumlah tempat yang berbeda.
Kisah ini dicatat oleh Pastoor Donat Verhoeven, yang menulis dari Tandjong Sakti. Ia menyebut bahwa sebelumnya pernah mendengar nama Madjoe Pahit, tetapi belum mengetahui alasan tokoh tersebut begitu terkenal dalam ingatan masyarakat setempat. Setelah melakukan penelusuran melalui pertanyaan kepada penduduk, ia kemudian menuliskan cerita yang didengarnya.
Dalam kisah tersebut, Madjoe Pahit digambarkan sebagai seorang pemuda dari Palembang yang memperoleh sakti setelah bertemu dengan para dewe dari Boekit Segoentong. Sejak memperoleh kesaktian itu, ucapannya mempunyai akibat yang luar biasa. Orang-orang dapat berubah menjadi kera, manusia dan kerbau menjadi batu, sementara manusia lainnya berubah menjadi binatang. Perjalanan Madjoe Pahit kemudian membawanya melalui sejumlah tempat di wilayah Sumatra bagian selatan, antara lain Moeara Rambong, Tandjong Sakti, Batoe Rantjing, Sebakas, Besemah, hingga Oeloe Padang Goetji.
Pada bagian akhir, muncul tokoh Matè Empat atau Mr. Vieroog, seorang manusia dengan dua mata di bagian depan dan dua mata di bagian belakang kepala. Ia diturunkan ke bumi untuk menghadapi Madjoe Pahit. Pertarungan kesaktian keduanya kemudian berakhir dengan kematian Madjoe Pahit dan, setelah itu, kematian Matè Empat ketika mencicipi lidah Madjoe Pahit yang disebut sangat pahit.
Kemiripan unsur-unsur tersebut dengan cerita Si Pahit Lidah/Serunting Sakti tentu menarik untuk dicermati. Namun, tulisan ini tidak secara eksplisit menyebut Madjoe Pahit sebagai Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti. Karena itu, kisah berikut sebaiknya dibaca terlebih dahulu sebagaimana ia dicatat pada sumber tahun 1917, dengan nama, tempat, tokoh, dan alurnya tetap dipertahankan.
Dengan demikian, kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang tokoh sakti. Ia juga merupakan catatan tertulis mengenai sebuah tradisi cerita yang hidup di wilayah Tandjong Sakti dan sekitarnya pada awal abad ke-20. Kemiripannya dengan tradisi Si Pahit Lidah membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan, perbedaan, dan kemungkinan persebaran berbagai versi kisah tersebut di Sumatra bagian selatan.
Berikut adalah kisah Madjoe Pahit sebagaimana dimuat dalam Java-post; weekblad van Nederlandsch-Indië, tahun ke-15, nomor 14, 6 April 1917.
SEBUAH CERITA DARI BENGKOELENSCHE
Pastoor Donat Verhoeven menulis dari Tandjong Sakti
Dulu dalam sebuah surat saya pernah menyebut nama MADJOE PAHIT. Sampai saat ini belum jelas bagi saya, apa yang membuat bangsawan pribumi ini begitu terkenal di kalangan anak cucu (generasi penerus) di sini. Setelah bertanya-tanya, sekarang saya mengetahuinya. Mungkin apa yang sampai ke telinga saya ini juga menarik perhatian Anda. Jika Anda berkenan, maukah Anda mendengarkannya sebentar?
Seberapa jauh kisah ini di masa lalu, tentu saja tidak ada yang tahu. MADJOE PAHIT adalah seorang pemuda dari Palembang yang menjalani kehidupan yang sangat saleh/tertutup, namun sayangnya, ia belum mendapatkan sakti (kekuatan supranatural).
Para dewa (makhluk halus tingkat tinggi) akhirnya berkenan turun dari Bukit Seguntong (Bukit Seguntang) menemui MADJOE PAHIT untuk bercakap-cakap dengannya. Setelah mengobrol tentang berbagai hal, mereka menyuruhnya untuk menjulurkan lidah. Seketika itu juga, mereka meludahi mulutnya.
Tidak lama kemudian, MADJOE PAHIT pulang ke rumah dan menyuruh orang rumah menyiapkan makanan; perutnya sudah keroncongan karena kelaparan.
Seketika itu juga, saudara perempuannya mengambil beras yang diperlukan dan pergi ke sungai untuk mencucinya. Karena menganggap saudara perempuannya pergi terlalu lama, MADJOE PAHIT menjadi marah dan berucap: "Biarlah saudara perempuanku mati di tepi air itu dan tidak usah kembali lagi ke rumah ini."
Keesokan paginya, orang-orang benar-benar menemukan mayat saudara perempuan MADJOE PAHIT di tepi air. Untuk pertama kalinya, MADJOE PAHIT menyadari bahwa dia kini memiliki kekuatan sakti, tetapi di saat yang sama dia mulai menangis dan meratap dengan hebat: "Aduh! Aduh! Adik perempuanku mati. Sungguh malapetaka! Sungguh malapetaka!"
Untuk mengalihkan kesedihannya, dia menyandang tas perjalanannya di punggung dan pergi mengembara.
Di Muara Rambong, MADJOE PAHIT bertemu dengan banyak orang. Saat dia bertanya mengapa orang-orang berkumpul di sana, tidak ada yang memberinya jawaban. Hal ini membuat MADJOE PAHIT kehilangan kesabaran. Dengan suara yang menggelegar lantang, dia berteriak: "Biarlah semua orang di sini menjadi kera!" Dan... dalam sekejap mata, semua orang menumbuhkan ekor kecil dan benar-benar berubah menjadi kera....
Tidak lama kemudian, MADJOE PAHIT tiba di Tanjung Sakti. Dia pergi ke Batu Rancing dan bertemu dengan seorang pria yang sedang membawa kerbaunya ke sungai untuk memandikan binatang itu hingga bersih. MADJOE PAHIT menyapa pria itu dengan salam yang biasa digunakan: "Mau ke mana, Pak Tua?"
Namun, si Pak Tua tidak menjawab, dan MADJOE PAHIT kembali tersulut amarahnya, seraya berkata: "Engkau dan kerbaumu bersama-sama akan menjadi batu besar!" Sampai hari ini, orang-orang masih menunjukkan sebuah batu besar yang sangat mirip dengan kepala kerbau dengan tanduk yang besar. Namun, sesuatu yang mirip dengan wujud manusia tidak dapat ditemukan di sana.
"Mungkin manusia-batu itu dulunya telah hanyut tersapu banjir," kata orang-orang pribumi kami.
MADJOE PAHIT terus melanjutkan perjalanannya dan akhirnya tiba di Sebakas, tempat di mana banyak orang tinggal, karena pada masa itu di sana terdapat sebuah dusun yang sangat bagus dan makmur.
Kembali lagi MADJOE PAHIT tidak dapat menahan rasa ingin tahunya, lalu bertanya: "Mengapa orang-orang berkumpul di sini?"
Tidak ada yang menjawab. "Semua orang di sini menjadi binatang!" seru MADJOE PAHIT. Atau menurut versi orang lain: "Orang-orang yang tampan dan baik menjadi dewa di atas Sebakas, sedangkan orang-orang lainnya menjadi binatang!"
Setelah kejadian itu, MADJOE PAHIT pergi ke Besemah dan bertemu dengan seorang pria dari dusun BABAS NJAME atau TANJONG AGRẺ yang sedang bersama seekor kerbau. Ketika pria ini juga tidak menjawab pertanyaannya, dia tiba-tiba berubah menjadi batu, persis seperti yang diperintahkan oleh MADJOE PAHIT.
Setelah itu, 7 dewa, 8 diwata, dan 9 paroli (para tetua/makhluk suci) bermusyawarah. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa jika MADJOE PAHIT dibiarkan lebih lama lagi berada di bumi, semua manusia akan punah dan dalam waktu singkat akan berubah menjadi batu atau binatang.
Untuk mencegah hal ini, mereka memutuskan: "Sangat baik jika seorang pria bermata empat turun ke bumi dengan tujuan untuk menyingkirkan MADJOE PAHIT."
Pria yang memiliki dua mata di depan dan dua mata di belakang kepalanya itu pun turun dan bertemu dengan MADJOE PAHIT di Hulu Padang Guci. Di sana, MATÈ EMPAT (Tuan Bermata Empat) langsung mengajaknya mengobrol.
MATÈ EMPAT bertanya: "Apakah kamu memiliki kekuatan supranatural?"
"Tentu saja," jawab MADJOE, "Aku memiliki kekuatan supranatural yang sangat besar."
"Maukah kita menguji, siapa yang memiliki kekuatan supranatural paling tinggi?" usul MATÈ EMPAT. Dan MADJOE PAHIT menjawab: "Setuju!"
Di dekat sana berdiri sebuah pohon besar yang disebut "nan reboe" (pohon merbau/rebo), dan kini MATÈ EMPAT mengusulkan kepada MADJOE PAHIT: "Salah satu dari kita harus tidur terlebih dahulu di bawah pohon nan reboe ini, sementara yang lain memanjat ke atas pohon dan menjatuhkan sebuah dahan ke bawah. Jika jatuhnya dahan itu melukai orang yang berada di bawah pohon, maka orang yang berada di atas pohon itulah yang memiliki kekuatan supranatural tertinggi."
MADJOE PAHIT memerintahkan MATÈ EMPAT untuk tetap berada di bawah pohon, sementara dia sendiri yang memanjat ke atas pohon.
Setelah beberapa saat, MADJOE PAHIT menjatuhkan sebatang dahan ke bawah, tetapi karena MATÈ EMPAT juga memiliki dua mata di belakang kepalanya, dia melihat dahan itu datang dan segera menghindar dengan cepat.
Sekarang giliran dibalik; MADJOE PAHIT tinggal di bawah pohon dan MATÈ EMPAT memanjat ke atasnya. Karena mata MADJOE PAHIT hanya menghadap ke tanah, dia tidak bisa melihat dahan tersebut jatuh, akibatnya dia terhantam oleh dahan itu dan.... tewas.
Maka MATÈ EMPAT keluar sebagai pemenang. Namun, dia belum merasa puas dan berpikir dalam hatinya: "Mengapa MADJOE PAHIT bisa memiliki kekuatan sakti? Mungkin karena namanya berarti 'Lidah Pahit', rahasianya ada pada lidahnya. Ayo, coba kuperiksa apakah lidahnya benar-benar pahit atau tidak."
Seketika itu juga dia mengambil potongan kecil dari lidah tersebut, mencicipinya dan.... mati pada saat itu juga, karena rasa pahit yang luar biasa dari lidah tersebut....
* Marjafri - Jurnalis, Pegiat budaya, Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture & Tourism
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »