| Imbalan 150 Gulden untuk Menangkap Thaib, Tokoh Utama Perlawanan yang Diburu Pemerintah Kolonial. (Fotdok: Marjafri). |
DI tengah berkecamuknya Perlawanan Rakyat Silungkang, pemerintah kolonial mengejar para pemimpin pergerakan yang melarikan diri. Salah satu buronan paling dicari adalah Thaib (Taib), pemimpin utama gerakan perlawanan Silungkang. Begitu pentingnya peran Thaib dalam perlawanan ini, hingga pemerintah kolonial memberikan imbalan sebesar 150 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya.
Penyamaran Cerdik Thaib dalam Pelarian
Sebagai tokoh utama yang diburu, Thaib bergerak secara rahasia untuk menghindari kepungan musuh. Dalam pelariannya melalui wilayah Kinari, Solok, dengan tujuan menuju Padang Panjang, ia melakukan strategi penyamaran yang matang agar tidak terdeteksi oleh aparat kolonial.
Saat bepergian, Thaib membekali diri dengan dokumen-dokumen palsu untuk mengelabui pemeriksaan, yaitu:
• Tanda terima pajak tahun 1926 atas nama Amirat.
• Surat keterangan rodi (kerja wajib) atas nama Amirat.
• Surat pernyataan yang mencantumkan nama yang sama.
Dengan menggunakan nama samaran Amirat dan membawa uang sebesar 50 gulden, Thaib berhasil menembus pengawasan dan naik ke atas kereta api yang berangkat pukul setengah empat dari Solok menuju Padang Panjang.
Drama Penangkapan di Singkarak
Pelarian Thaib akhirnya terhenti di Stasiun Singkarak akibat sebuah faktor ketidaksengajaan. Di dalam gerbong nomor 1 yang ia tumpangi, terdapat seorang penumpang lain yang mengenali wajahnya. Penumpang tersebut adalah seorang gadis muda, putri dari kepala stasiun Singkarak, yang bersekolah di Solok. Gadis itu mengenali Thaib karena ayahnya dahulu pernah tinggal di Siloengkang.
Setibanya di Singkarak, gadis tersebut langsung melaporkan pengamatannya kepada sang ayah. Mengetahui bahwa Thaib adalah tokoh besar yang sedang diburu, kepala stasiun segera bertindak cepat dengan memanggil bantuan seorang petugas polisi lapangan. Mereka langsung menuju gerbong tempat Thaib berada dan berhasil menangkapnya tanpa kesulitan.
Thaib kemudian diserahkan kepada asisten demang Singkarak untuk selanjutnya dipindahkan ke Sawahlunto. Atas keberhasilan penangkapan tokoh utama ini, pemerintah kolonial mencairkan imbalan 150 gulden dengan pembagian:
• 110 gulden diberikan kepada kepala stasiun dan putri mudanya yang sigap.
• 25 gulden diberikan kepada petugas polisi lapangan.
• 15 gulden diberikan kepada asisten demang.
Tertangkapnya Sengit Salim Emek di Kubang
Aksi perburuan kolonial terhadap tokoh perlawanan Silungkang tidak berhenti pada Thaib. Di tempat lain, Kepala nagari Kubang bersama pasukan marechaussee dan dubalang (petugas keamanan setempat) melakukan pengepungan terhadap Salim Emek, seorang tokoh lainnya yang memiliki peran penting dalam gerakan perlawanan Silungkang.
Berbeda dengan Thaib, Salim Emek memberikan perlawanan bersenjata yang sangat sengit saat hendak ditangkap. Ia menolak menyerah dan melepaskan tembakan menggunakan pucuk revolver miliknya, yang mengenai dan melukai lutut salah seorang dubalang.
Menghadapi perlawanan bersenjata tersebut, anggota pasukan marechaussee langsung melepaskan tembakan balasan yang menerjang lengan atas kanan Salim Emek. Tokoh perlawanan itu akhirnya berhasil diringkus, dan aparat kolonial menyita sebuah pistol otomatis beserta enam butir peluru sebagai barang bukti. Peristiwa ini berakhir dengan dibawanya Salim Emek dan dubalang yang terluka ke rumah sakit di Sawahlunto.
Epilog
Penangkapan Thaib menjadi bukti nyata betapa berartinya peran sang pemimpin dalam menggoncang kekuasaan kolonial di Silungkang. Nilai imbalan sebesar 150 gulden yang bersedia digelontorkan oleh pemerintah kolonial untuk menangkapnya menegaskan bahwa Thaib bukanlah sekadar buronan biasa, melainkan tokoh utama perlawanan yang pergerakannya sangat ditakuti. Meskipun pelariannya dengan nama samaran Amirat harus terhenti di Stasiun Singkarak dan uang hadiah tersebut akhirnya dibagi-bagikan kepada mereka yang menangkapnya, sejarah mencatat bahwa kolonial terpaksa membayar mahal demi meringkus tokoh utama perlawanan Silungkang pada malam tahun baru 1927 tersebut.
---------------
keterangan gambar: Gambar di atas merupakan ilustrasi visual (rekonstruksi digital) dan bukan foto dokumentasi asli dari peristiwa sejarah yang sebenarnya.
(Sumber: Krantentitel Sumatra-bode, 04-03-1927)
*marjafri - Jurnalis, Pegiat Budaya, Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »