29 Mahasiswa IAI Sumbar Pariaman Resmi Jadi Kader PMII, Dituntut Kritis dan Adaptif

29 Mahasiswa IAI Sumbar Pariaman Resmi Jadi Kader PMII, Dituntut Kritis dan Adaptif
Ketua Komisariat PMII IAI Sumbar Pariaman, Fajra Indratul Fadly Tuanku Kuniang dan anggota baru dari Komisariat Institut Agama Islam Sumatera Barat (IAI Sumbar) Pariaman. (Fotdok: Armaidi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Menjadi mahasiswa bukan sekadar datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, lalu pulang tanpa keterlibatan dalam persoalan sosial. Mahasiswa dituntut memiliki kepekaan, keberanian berpikir kritis, serta kemampuan menawarkan solusi. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan utama dalam Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Institut Agama Islam Sumatera Barat (IAI Sumbar) Pariaman.

Sebanyak 29 mahasiswa dan mahasiswi IAI Sumbar Pariaman resmi menjadi anggota PMII setelah mengikuti Mapaba selama dua hari, Sabtu hingga Minggu malam (31 Oktober–1 November 2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Nahdatul Ulum, Desa Kajai, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman.

Namun, keanggotaan baru ini bukan sekadar penambahan jumlah kader organisasi. Lebih dari itu, Mapaba diharapkan menjadi titik awal pembentukan mahasiswa yang memiliki karakter, wawasan luas, kepedulian sosial, serta keberanian mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Ketua Komisariat PMII IAI Sumbar Pariaman, Fajra Indratul Fadly Tuanku Kuniang, menegaskan bahwa mahasiswa yang telah mengikuti Mapaba harus serius menjalani proses kaderisasi. Ia mengingatkan agar kader tidak terjebak menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kuliah pulang-kuliah pulang, tanpa mengembangkan kemampuan berpikir dan kepekaan terhadap lingkungan.

Menurutnya, mahasiswa harus tampil sebagai kelompok intelektual yang kritis sekaligus adaptif. Kritik yang disampaikan tidak boleh berhenti pada menyampaikan ketidakpuasan, tetapi harus disertai gagasan dan solusi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Fajra juga menekankan pentingnya budaya membaca dan berdiskusi sebagai fondasi pengembangan intelektualitas kader. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun melalui kebiasaan belajar, memperluas wawasan, dan menuangkan pemikiran melalui tulisan. "Jika kita ingin melihat dunia maka membacalah, jika kita ingin dilihat dunia maka menulislah," tuturnya.

Pesan lainnya disampaikan Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pariaman, Idrian, S.Kom., CHST. Saat pembukaan Mapaba, ia mengingatkan bahwa kader PMII juga perlu menguasai keterampilan di luar ilmu organisasi. Kemampuan digital marketing, desain grafis, menjadi konten kreator, serta berbagai keterampilan lainnya dinilai penting untuk menghadapi tantangan era modern.

Idrian juga mengingatkan agar kader PMII tidak menjadi aktivis yang sekadar mengikuti arus atau kepentingan pihak tertentu. Keberanian menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, menurutnya, harus berpijak pada hati nurani rakyat, bukan karena arahan senior ataupun kepentingan pribadi. Ia menegaskan, kader harus aktif, kritis, dan memiliki pendirian.

Mapaba yang dibuka Ketua Cabang PMII Kota Pariaman, Annisa Fitri, tersebut ditutup pada Minggu malam (1 November 2026) pukul 23.00 WIB. Dengan resminya 29 mahasiswa menjadi anggota, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan keaktifan organisasi, tetapi membuktikan bahwa kader PMII mampu tumbuh menjadi mahasiswa berpengetahuan, terampil, berintegritas, dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat. (*) 

Pewarta: Armaidi Tanjung
Editor: Zamri Yahya, WU

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »