Muhammad Dwi Richie Jemput APBN 2027, Bidik Revitalisasi Sentra Perikanan hingga Kampung Nelayan Batang Arau
On Kamis, Oktober 15, 2026
| Sekretaris Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang Muhammad Dwi Richie menyerahkan proposal ke Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Hendra Yusran Siry, dan lainnya. (Fotdok: Tommi). |
Langkah Muhammad Dwi Richie ini menjadi bagian dari tindak lanjut arahan Wali Kota Padang, Fadly Amran, yang meminta perangkat daerah aktif mencari peluang pendanaan dari pemerintah pusat. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, strategi jemput bola dinilai penting untuk membuka ruang percepatan pembangunan, terutama bagi sektor yang bersentuhan langsung dengan penghidupan nelayan, pembudi daya ikan, dan pelaku usaha perikanan.
Dalam kunjungan kerja yang berlangsung pada 13–16 Oktober 2026 tersebut, Muhammad Dwi Richie bersama tim memaparkan sejumlah usulan strategis kepada jajaran KKP RI. Agenda yang dibawa tidak sekadar menyangkut pembangunan fasilitas, tetapi juga penguatan rantai usaha perikanan, peningkatan nilai tambah produk, pengembangan budi daya, hingga perluasan akses pasar bagi hasil perikanan lokal.
Salah satu usulan yang menjadi perhatian adalah revitalisasi UPT Sentra Pengolahan Perikanan (SPP) Pasia Nan Tigo. Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak KKP RI, dengan rencana memprioritaskan alokasi anggaran melalui APBN 2027. Jika terealisasi, revitalisasi ini diharapkan meningkatkan kualitas pengolahan hasil perikanan, memperkuat daya saing produk, dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas, termasuk pasar berorientasi ekspor.
Muhammad Dwi Richie juga mendorong pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih Tematik di kawasan Batang Arau. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan aktivitas perikanan dengan wisata bahari, kuliner olahan ikan, serta kawasan Kota Tua. Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata Padang. Pihak KKP RI menyatakan kesiapan untuk meninjau langsung lokasi yang diusulkan.
Tak berhenti pada sektor pengolahan dan kawasan pesisir, Muhammad Dwi Richie turut memperjuangkan pengembangan Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) dan Minapadi. Kedua program ini diarahkan untuk mendorong produktivitas budi daya ikan sekaligus memperkuat pasokan pangan bergizi. Strategi tersebut juga dirancang agar pembudi daya lokal memiliki peluang pasar yang lebih pasti melalui keterhubungan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami berupaya menjemput peluang dukungan dari pemerintah pusat agar program prioritas sektor perikanan di Kota Padang bisa direalisasikan. Harapannya, dukungan ini dapat memperkuat fasilitas pengolahan, mengembangkan usaha perikanan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor ini,” ujar Muhammad Dwi Richie. Ia menegaskan, pihaknya juga merencanakan kerja sama antara pembudi daya ikan lokal dan 74 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kota Padang agar hasil panen terserap dengan baik sekaligus membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Selain itu, Muhammad Dwi Richie bersama tim membahas usulan pengembangan budi daya rumput laut dan ikan kerapu. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan membuka peluang investasi dan memperluas potensi usaha perikanan daerah, terutama untuk rumput laut yang berorientasi ekspor. Dalam rangkaian pertemuan itu, tim Pemko Padang berkoordinasi dengan Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Hendra Yusran Siry, Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Erwin Dwiyana, Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan Ady Chandra, serta jajaran direktur teknis terkait.
Melalui langkah jemput bola yang dikoordinasikan bersama tim tersebut, Muhammad Dwi Richie berharap usulan program prioritas perikanan Kota Padang memperoleh dukungan dalam APBN 2027. Perjuangan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing hasil perikanan, memperluas serapan pasar, dan mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Meski demikian, realisasi program tetap bergantung pada proses penilaian dan penetapan anggaran pemerintah pusat. Bagi Padang, hasil dari upaya ini akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong sektor perikanan agar semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. (*)
Editor: Zamri Yahya, WU