Setelah Perang Dunia I, Satu Generasi Mencari Makna Hidup Dalam The Sun Also Rises
On Senin, Oktober 05, 2026
Oleh Nurul Nafisah Khairiyyah. Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. (Foto: Ist). |
PAMPLONA, Spain, summer 1926. Gerald Murphy, Sara Murphy, Pauline Pfeiffer, Ernest Hemingway and Hadley Hemingway. Photograph in the Ernest Hemingway Photograph Collection, John F. Kennedy Presidential Library and Museum, Boston. / Wikimedia Commons
Bertahun-tahun setelah Perang Dunia I, sekelompok ekspatriat menjalani kehidupan di antara kafe, pesta, alkohol, perjalanan, dan hubungan yang rumit di Paris dan Spanyol. Kehidupan Jake Barnes, Brett Ashley, Robert Cohn, Mike Campbell, dan Bill Gorton menunjukkan sebuah generasi yang berusaha menemukan makna dan arah hidup setelah perang, tetapi masih menghadapi ketidakpuasan, konflik emosional, dan pencarian akan sesuatu yang dapat membuat hidup mereka terasa berarti.
Jake Barnes, seorang jurnalis Amerika yang tinggal di Paris, membawa luka fisik akibat perang. Ketika seorang perempuan bertanya apa yang terjadi kepadanya, Jake hanya menjawab, “Aku terluka dalam perang.” Jawaban tersebut menghubungkan kehidupan pribadinya dengan dampak perang. Luka tersebut juga memengaruhi hubungannya dengan Brett Ashley, perempuan yang ia cintai tetapi tidak dapat ia miliki dalam hubungan seperti pasangan pada umumnya.
Dampak perang juga terlihat dari cara Jake dan teman-temannya menjalani kehidupan. Mereka sering bertemu di kafe, minum, menghadiri pesta, bepergian, dan mencari hiburan. Namun, berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu membuat mereka menemukan tujuan hidup.
Robert Cohn menjadi salah satu contohnya. Meskipun memiliki uang dan kesempatan untuk bepergian, ia merasa hidupnya berlalu begitu saja tanpa benar-benar dijalani. “Aku tidak tahan memikirkan bahwa hidupku berlalu begitu cepat dan aku sebenarnya tidak benar-benar menjalaninya,” kata Cohn kepada Jake. Ia percaya bahwa pergi ke Amerika Selatan mungkin dapat memberikan perubahan yang ia butuhkan. Namun, Jake menjawab, “Kamu tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri hanya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.”
Ketidakpuasan Cohn berlanjut ketika kelompok tersebut bepergian ke Spanyol. Perjalanan itu seharusnya memberikan kesempatan untuk memancing, menikmati pesta San FermÃn di Pamplona, dan menjauh sejenak dari kehidupan di Paris. Namun, konflik pribadi justru mengikuti mereka. Cohn semakin tertekan karena Brett dan akhirnya pergi setelah terlibat dalam konfrontasi dengan Pedro Romero. Setelah itu, Cohn menangis di kamar hotel dan mengatakan bahwa ia telah mengalami ‘neraka’ karena Brett serta merasa bahwa “Semuanya sudah hilang.”
Hubungan Brett juga menunjukkan ketidakstabilan emosional yang terjadi dalam kelompok tersebut. Ia pernah menjadi V.A.D. selama perang dan menikah selama masa perang setelah laki-laki yang dicintainya meninggal karena disentri. Hubungannya dengan Jake menjadi rumit akibat luka perang yang dialami Jake, sementara hubungannya dengan laki-laki lain juga terus menimbulkan konflik baru.
Perjalanan para tokoh dari Paris ke Spanyol bukan hanya menunjukkan perpindahan tempat. Perjalanan tersebut juga menggambarkan usaha mereka untuk menemukan kesenangan dan tujuan hidup melalui perjalanan, pertemanan, hubungan romantis, minuman keras, olahraga, dan perayaan. Namun, berbagai masalah yang mereka bawa dari kehidupan sebelumnya tetap mengikuti mereka.
Novel tersebut memperlihatkan sebuah generasi yang telah melewati perang tetapi masih hidup dengan berbagai dampaknya. Luka Jake, ketidakpuasan Cohn, serta hubungan yang tidak stabil di antara para tokoh menunjukkan bagaimana mereka berusaha membangun kehidupan yang bermakna di dunia yang telah berubah.
Pandangan mengenai fenomena Lost Generation juga disampaikan oleh Dzakirah Ghina Amanda, mahasiswa Farmasi Universitas Andalas. Saat ditanya tentang istilah Lost Generation, Dzakirah menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada generasi yang mengalami dampak besar dari Perang Dunia I hingga merasa kehilangan arah, tujuan, dan makna hidup.
Menurutnya, generasi tersebut mengalami kekecewaan, trauma, serta kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah perang. Kondisi ini terlihat pada tokoh Jake, Brett, dan Robert yang menjalani kehidupan penuh perjalanan, pesta, dan hubungan yang rumit, tetapi tetap merasa tidak puas.
Saat ditanya tentang perjalanan dan kehidupan baru yang dijalani para tokoh, Dzakirah menilai bahwa keduanya dapat menjadi usaha untuk menemukan makna hidup sekaligus bentuk pelarian. Namun, dalam cerita, ia melihat sisi pelarian lebih dominan. Perjalanan dari Paris ke Spanyol, pesta, minuman, dan hubungan dengan orang lain memang memberikan hiburan sementara, tetapi masalah dan luka masa lalu tetap mengikuti mereka.
| Mereka kemudian merasa bingung mengenai bagaimana harus menjalani kehidupan setelah berbagai pengalaman yang telah mereka lalui. (Foto: Ist). |
Dzakirah juga memberikan pandangannya mengenai alasan seseorang dapat kehilangan arah setelah mengalami pengalaman berat. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menimbulkan trauma, kehilangan, dan kekecewaan yang kemudian mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Hal-hal yang sebelumnya dianggap penting mungkin tidak lagi terasa berarti. Akibatnya, seseorang dapat merasa kosong, bingung menentukan masa depan, atau mencari kesenangan untuk melupakan masalah. Kondisi serupa, menurut Dzakirah, terlihat pada para tokoh yang terus mencari kebahagiaan melalui perjalanan, pesta, dan hubungan, tetapi masih membawa luka dari masa lalu.
Sementara itu, Nurul Zahrah Azizah, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Ketika ditanya mengenai pengertian Lost Generation, Nurul mengatakan bahwa istilah tersebut dapat menggambarkan orang-orang yang merasa kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami kejadian yang berat.
Mereka kemudian merasa bingung mengenai bagaimana harus menjalani kehidupan setelah berbagai pengalaman yang telah mereka lalui.
Mengenai perjalanan yang dilakukan para tokoh, Nurul melihat bahwa kehidupan baru tidak selalu hanya menjadi bentuk pelarian. Ia mengakui bahwa pada awalnya perjalanan tersebut bisa menjadi cara untuk menjauh dari hal-hal yang membuat mereka tertekan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan baru juga dapat memberikan pengalaman dan membantu seseorang menemukan tujuan baru. “Nggak selalu berarti mereka benar-benar lari dari masa lalu,” ujarnya.
Menurut Nurul, perjalanan juga dapat menjadi proses untuk perlahan melanjutkan hidup dan menemukan kembali diri sendiri.
Saat ditanya mengapa seseorang dapat kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami pengalaman berat, Nurul menjelaskan bahwa pengalaman tersebut dapat membuat seseorang berubah dan mempertanyakan kembali berbagai hal dalam hidupnya.
Sesuatu yang sebelumnya dianggap penting bisa saja tidak lagi terasa berarti. Ia juga menilai bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk menerima apa yang telah terjadi. Karena itu, perasaan bingung dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya dapat menjadi bagian dari proses sebelum seseorang menemukan kembali arah hidupnya.
Pandangan lain disampaikan oleh Annisa Zalfa Zahirah, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Putra Indonesia “YPTK”. Ia juga memahami Lost Generation sebagai orang-orang yang kehilangan arah atau tujuan hidup setelah mengalami hal-hal yang berat. Menurut Annisa, kondisi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan semangat, merasa bingung, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa depan.
Dalam melihat perjalanan yang dilakukan para tokoh, Annisa menilai bahwa dampaknya bergantung pada bagaimana seseorang menyikapi masa lalu. Jika seseorang mampu belajar dari pengalaman yang telah dilewati, perjalanan dapat membantunya menemukan kembali makna hidup.
Namun, jika perjalanan hanya digunakan untuk melarikan diri dari masa lalu, hal tersebut justru dapat menjadi bentuk pelarian. Dengan demikian, perjalanan tidak secara otomatis memberikan makna baru, tetapi bergantung pada bagaimana seseorang menghadapi dan memahami pengalaman hidupnya.
Annisa juga menambahkan bahwa pengalaman berat terkadang membuat seseorang sulit melihat hal-hal positif karena masih terpikir oleh kejadian yang telah dilewati. Akibatnya, seseorang dapat merasa tidak memiliki tujuan atau tidak mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan. Namun, menurutnya, kehilangan arah tersebut juga bergantung pada bagaimana setiap individu menghadapi masalah yang dialaminya.
Perjalanan mereka juga menunjukkan bahwa meninggalkan suatu tempat tidak selalu berarti meninggalkan masalah dari masa lalu. Seperti yang dikatakan Jake kepada Cohn, “Kamu tidak bisa melarikan diri dari dirimu sendiri hanya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” (*)