 |
| Al-Qur’an sudah mengingatkan manusia agar tidak bertindak ceroboh terhadap sebuah berita, seperti dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. (Foto: Int). |
JEMPOL bisa menjadi senjata. Bukan karena ukurannya, tetapi karena apa yang dilakukan dengannya. Satu kali menekan tombol share mungkin hanya membutuhkan waktu sedetik. Namun, akibatnya bisa menjalar ke mana-mana: nama baik seseorang hancur, keluarga dipermalukan, perselisihan meledak, bahkan kebohongan berubah menjadi “kebenaran” hanya karena terus diulang.
Yang lebih mengerikan, banyak orang merasa tidak sedang berdosa ketika menyebarkan kabar yang belum jelas. Kalimatnya sederhana: “Saya cuma meneruskan.” Seolah-olah tanggung jawab berhenti di tangan orang yang pertama membuat informasi. Padahal, ketika seseorang tahu sebuah berita belum tentu benar tetapi tetap menyebarkannya, ia ikut mengambil bagian dalam rantai penyebaran informasi tersebut.
Al-Qur’an sudah mengingatkan manusia agar tidak bertindak ceroboh terhadap sebuah berita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepada kamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (ceroboh), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” Ayat ini bukan sekadar nasihat untuk dibaca saat pengajian. Ia adalah peringatan keras agar manusia tidak menjadi pelaku kerusakan akibat informasi yang tidak diperiksa.
Hari ini, masalahnya semakin parah. Judul bombastis dibaca tanpa isi. Potongan video dianggap sebagai fakta utuh. Foto lama disebarkan seolah kejadian baru. Pesan berantai tanpa sumber dipercaya hanya karena dikirim oleh orang yang dikenal. Bahkan kabar yang jelas-jelas belum terverifikasi tetap disebarkan karena dianggap “sayang kalau tidak ikut membagikan”.
Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas dalam HR. Muslim: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” Bayangkan: seseorang tidak perlu menciptakan kebohongan sendiri untuk masuk dalam lingkaran dusta. Cukup dengan kebiasaan menceritakan segala sesuatu yang didengarnya tanpa memastikan kebenarannya.
Lebih keras lagi, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kalian menjauhi dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, jangan menganggap remeh sebuah unggahan. Jangan mengira dosa hanya lahir dari kebohongan yang sengaja dibuat. Kecerobohan dalam menyampaikan informasi juga dapat membawa manusia kepada kerusakan yang lebih besar.
Pertanyaannya sekarang: ketika berita itu ternyata bohong, siapa yang bertanggung jawab? Orang yang membuatnya? Ya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang ikut menyebarkannya? Apakah cukup berkata, “Saya tidak tahu itu hoaks”? Tidak semua akibat dapat dibatalkan dengan kalimat tersebut. Sebab, sebelum menyebarkan, manusia diberi akal untuk berpikir dan diberi tuntunan untuk melakukan tabayun.
Di media sosial, manusia sering mengejar kecepatan dan mengorbankan kebenaran. Ingin menjadi yang pertama mengunggah, yang pertama membagikan, yang pertama berkomentar. Padahal dalam urusan informasi, menjadi yang pertama bukanlah kemuliaan jika yang pertama itu justru menyebarkan kebohongan.
Lebih buruk lagi jika informasi tersebut menyangkut kehormatan seseorang. Tuduhan terhadap seseorang bukan permainan. Fitnah bukan hiburan. Membuka aib bukan prestasi. Dan mempermalukan orang lain di ruang publik bukan tanda keberanian. Ketika informasi yang disebarkan ternyata keliru, kerusakan terhadap kehormatan manusia belum tentu dapat diperbaiki hanya dengan satu kalimat klarifikasi.
Karena itu, sebelum jempol bergerak, gunakan kepala. Sebelum membagikan berita, periksa sumbernya. Sebelum ikut menghakimi seseorang, pastikan faktanya. Dan sebelum merasa paling tahu, ingat bahwa informasi yang salah dapat menyeret orang lain ke dalam masalah, sementara orang yang menyebarkannya bisa saja hanya duduk santai di balik layar.
Jangan menjadi manusia yang rajin menyebarkan berita tetapi malas mencari kebenaran. Jangan menjadi orang yang takut ketinggalan informasi tetapi tidak takut menyebarkan kebohongan. Jangan pula berlindung di balik kalimat “cuma share” ketika yang dibagikan ternyata mencelakakan orang lain.
Sebab, satu klik mungkin terlihat kecil di layar. Tetapi jika di balik klik itu ada kebohongan, fitnah, penghinaan, atau kerugian terhadap orang lain, persoalannya tidak lagi kecil.
Jadi, sebelum menekan tombol “bagikan”, tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya sedang menyebarkan kebenaran, atau sedang membantu kebohongan menemukan lebih banyak korban?
Di situlah kualitas iman dan akhlak diuji—bukan ketika kita mampu berbicara banyak, tetapi ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya. (*)