HEADLINE
Gubernur Mahyeldi Apresiasi Dukungan Dunia Usaha Meriahkan Hari Jadi Sumbar ke-81    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Gubernur Mahyeldi Apresiasi Dukungan Dunia Usaha Meriahkan Hari Jadi Sumbar ke-81
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan BUMN, dalam memeriahkan Hari Jadi Sumbar ke-81. (Foto: Budi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan BUMN, dalam memeriahkan Hari Jadi Sumbar ke-81. Menurutnya, partisipasi tersebut menunjukkan bahwa peringatan hari jadi bukan hanya menjadi agenda Pemerintah Provinsi Sumbar, tetapi juga momentum bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Mahyeldi mengatakan, dukungan para pihak melalui berbagai program dan kegiatan memberikan nilai tambah dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Sumbar ke-81. Selain memeriahkan peringatan, kolaborasi tersebut juga menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut mengambil bagian dalam memeriahkan Hari Jadi Sumatera Barat ke-81. Dukungan ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap daerah,” ujar Mahyeldi di Padang, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan merupakan bagian penting dalam membangun Sumbar. Semangat kebersamaan tersebut diharapkan tidak hanya hadir dalam momentum hari jadi, tetapi dapat terus berkembang dalam berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mahyeldi menilai berbagai bentuk dukungan tersebut mencerminkan semangat gotong royong dalam memeriahkan Hari Jadi Sumbar. Ia berharap semakin banyak pihak mengambil bagian sehingga momentum hari jadi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.

“Semoga semangat kolaborasi ini terus kita jaga dan kita perkuat. Hari Jadi Sumatera Barat adalah momentum untuk memperkuat rasa memiliki, kebersamaan, dan komitmen kita bersama untuk terus memajukan Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.

Salah satu dukungan tersebut datang dari PT Bluebird Tbk melalui Bluebird Pool Padang. Kepala Cabang Bluebird Pool Padang, Eko Febrianto mengatakan pihaknya memberikan program apresiasi khusus bagi masyarakat dalam rangka Hari Jadi Sumbar ke-81 berupa potongan tarif sebesar Rp10.000 untuk setiap perjalanan.

Program tersebut berlaku mulai 1 hingga 15 Oktober 2026 untuk seluruh layanan Bluebird di wilayah Sumbar. Masyarakat dapat memperoleh promo dengan melakukan pemesanan melalui aplikasi MyBluebird menggunakan kode “HUTSUMBAR81”, dengan metode pembayaran non-tunai melalui e-wallet.

Eko mengatakan, program tersebut merupakan bentuk dukungan Bluebird terhadap peringatan Hari Jadi Sumbar ke-81 sekaligus upaya memberikan kemudahan mobilitas bagi masyarakat selama rangkaian peringatan berlangsung.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan kemudahan akses mobilitas bagi masyarakat, mendorong partisipasi dalam rangkaian Hari Jadi, serta memperkuat sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan PT Bluebird Tbk,” katanya.

Dukungan serupa juga diberikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumbar. Vice President Divisi Regional II Sumbar, Lutfi Wijaya mengatakan KAI turut memeriahkan Hari Jadi Sumbar ke-81 melalui sejumlah kegiatan yang melibatkan langsung para pelanggan.

Kegiatan tersebut antara lain Sapa Pelanggan di Stasiun Padang, pembagian suvenir dan cokelat bagi penumpang anak-anak, serta edukasi kepada penumpang mengenai layanan pelanggan dan produk digitalisasi KAI. (adpsb/bud)

Enam Kelurahan di Padang Diusulkan Jadi Kampung Redam, Program KemenHAM untuk Perkuat Perdamaian    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Enam Kelurahan di Padang Diusulkan Jadi Kampung Redam, Program KemenHAM untuk Perkuat Perdamaian
Kegiatan dipimpin Menteri HAM RI Natalius Pigai dari Kota Semarang, Jawa Tengah, dan diikuti Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa secara daring dari Gedung Putih Kediaman Resmi Wali Kota Padang. (Foto: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Enam kelurahan di Kota Padang diusulkan menjadi calon Kampung Rekonsiliasi dan Perdamaian (Kampung Redam). Program Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) RI ini diarahkan untuk memperkuat perdamaian sekaligus mencegah potensi konflik di tingkat masyarakat.

Peluncuran Kampung Redam dilakukan serentak se-Indonesia oleh KemenHAM RI, Rabu (30/9/2026). Kegiatan dipimpin Menteri HAM RI Natalius Pigai dari Kota Semarang, Jawa Tengah, dan diikuti Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa secara daring dari Gedung Putih Kediaman Resmi Wali Kota Padang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kanwil KemenHAM Sumatera Barat Dewi Nofyenti, unsur Forkopimda Kota Padang, serta pimpinan OPD terkait di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Kehadiran lintas instansi ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam penguatan hak asasi manusia dan perdamaian di tingkat lokal.

Raju Minropa menyampaikan, Pemko Padang telah mengusulkan enam kelurahan dari tiga kecamatan sebagai calon Kampung Redam. Keenam kelurahan tersebut berada di Kecamatan Padang Selatan, Padang Barat, dan Koto Tangah dan sebelumnya telah melalui koordinasi serta sosialisasi dengan pemangku kepentingan setempat.

Program ini tidak hanya berbicara tentang perdamaian, tetapi juga diarahkan untuk menghadirkan penyelesaian persoalan dan akses keadilan hingga tingkat kampung dan kelurahan. Karena itu, masyarakat akan menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan sosial tetap harmonis.

Menteri HAM RI Natalius Pigai menegaskan Kampung Redam merupakan program strategis KemenHAM yang telah masuk dalam Renstra KemenHAM 2025–2029. Program tersebut dirancang sebagai instrumen berbasis masyarakat untuk meminimalkan ketidakadilan dan meredam potensi konflik.

Namun, enam kelurahan yang diusulkan Kota Padang belum otomatis berstatus Kampung Redam. KemenHAM masih akan melakukan verifikasi sebelum penetapan melalui keputusan Menteri HAM. Secara nasional, Pigai menyebut terdapat 174 titik yang diusulkan dari 81 kabupaten/kota di 28 provinsi untuk diverifikasi.

Kepala Kanwil KemenHAM Sumbar Dewi Nofyenti menyebut enam kelurahan di Kota Padang diproyeksikan menjadi bagian dari penetapan Kampung Redam di Sumatera Barat. Setelah penetapan, koordinasi dengan pemerintah daerah dan kelurahan akan dilakukan untuk menyusun tindak lanjut serta program kerja.

Kampung Redam diharapkan menjadi ruang nyata untuk memperkuat perdamaian, perlindungan HAM, pencegahan konflik, dan akses keadilan dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. Bagi Kota Padang, program ini membuka peluang pengembangan model kampung yang mengedepankan semangat “Merawat Perdamaian, Menjunjung Hak Asasi Manusia.” (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Detik-detik Terakhir Perlawanan Sultan Taha Syaifuddin    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Detik-detik Terakhir Perlawanan Sultan Taha Syaifuddin
26 April 1904 menjadi penutup perjalanan hidup Sultan Taha Syaifuddin. (Foto Ilustrasi: Marjafri). 

PADA
April 1904, hutan pedalaman Jambi perlahan berubah menjadi lingkaran pengepungan.

Dari Muara Tebo, Penapalan, Remaji, Pelayangan hingga Betung Bedarah, gerakan pasukan berlangsung hampir bersamaan. Sungai menjadi jalur pergerakan, jalan setapak menjadi petunjuk, sementara rimba yang rapat menyembunyikan sebuah rahasia: di suatu tempat di antara aliran Sungai Besar dan anak-anak sungainya, Sultan Taha Syaifuddin masih bertahan.

Belum ada kepastian mengenai tempat persembunyian itu. Hanya dua kemungkinan yang berhasil dipetakan. Kedua tempat tersebut ditandai sebagai titik A dan B, masing-masing berada di sebelah barat laut dan barat daya Betung Bedarah, di sekitar aliran Sungai Batang Hari (Lihat Peta).

Salah satunya diyakini kuat menjadi tempat Sultan Taha berlindung.

Pada 21 April, setelah komandan markas Muara Tebo dievakuasi, Kapten von Schauroth mengambil alih komando di tempat itu. Keesokan harinya, 22 April, informasi dari Kontrolir Burgdorffer membawa pengejaran memasuki tahap yang lebih menentukan.

Sebuah operasi besar mulai disusun.

Rencana itu tidak hanya mengandalkan kekuatan pasukan. Setiap gerakan harus dilakukan dengan perhitungan. Arah perjalanan perlu disamarkan. Jalur penyeberangan harus ditutup. Penduduk harus dicegah agar tidak membawa kabar ke dalam hutan. Bahkan para pemasok makanan yang telah diketahui membantu persembunyian Sultan tidak segera ditangkap.

Penangkapan terlalu dini dapat membangunkan seluruh jaringan yang selama ini menopang persembunyian.

Pada pagi 23 April, Letnan Dua Badings bergerak bersama seorang Demang setempat dan 25 personel bersenjata bayonet. Kapal Tegal membawa rombongan menuju Teluk Curana. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pematang, di tepi Sungai Tabir.

Hari berikutnya, perjalanan diteruskan menuju Bangko Pintas.

Pada 25 April, langkah-langkah pasukan mulai memasuki jalur setapak yang mengarah ke titik persembunyian B.

Gerakan menuju Bangko Pintas sengaja dibuat seperti patroli biasa. Arah perjalanan harus menimbulkan kesan bahwa pasukan hanya bergerak menuju Sungai Tabir sebagaimana patroli-patroli sebelumnya. Tidak boleh ada tanda yang menunjukkan bahwa sebuah operasi pengepungan sedang berlangsung.

Di sebuah persimpangan yang ditandai sebagai titik C, sebagian kekuatan kemudian dipisahkan. Jalur menuju Penapalan harus diamankan untuk menjaga hulu Sungai Besar di sisi kanan.

Letnan Badings bersama kekuatan utama mengambil jalur menuju Betung Bedarah.

Malam 25 menuju 26 April telah ditetapkan sebagai saat pemasangan jebakan. Seluruh jalur penyeberangan dari tepi kanan menuju tepi kiri Sungai Besar harus ditutup. Jalur itu diyakini mengarah ke sebuah anak sungai di sebelah kiri Sungai Besar, tempat persembunyian Sultan diperkirakan berada.

Pada 26 April, kawasan tersebut akan disisir.

Demang Muara Tabir ikut memegang peranan penting dalam gerakan itu dengan menyediakan pemandu jalan lokal. Pergerakan Letnan Badings juga harus diselaraskan dengan satuan patroli lain yang bergerak serentak dari Betung Bedarah pada malam yang sama.

Sementara pengejaran dari arah Sungai Tabir berlangsung, kekuatan lain mulai berdatangan.

Pada 24 April, satu kompi pasukan mobilisasi yang dipanggil dari Muara Tembesi tiba di Muara Tebo. Keesokan harinya, Letnan Dua Van Staden ten Brink bersama 40 personel bersenjata bayonet, di bawah komando Ajudan Bintara Müssig, berangkat menggunakan kapal Seng Bie menuju Penapalan.

Kapten von Schauroth telah lebih dahulu meninggalkan Muara Tebo pada pagi yang sama menggunakan kapal uap Otto. Pasukan Van Staden ten Brink harus menunggu instruksi lanjutan.

Di Pelayangan, sebuah unit patroli yang sebelumnya berkekuatan 12 personel diperkuat menjadi 30 personel. Gerakan menuju Penapalan kembali diselimuti tipu daya. Seolah-olah hanya akan menginap dan bermalam di tempat tersebut.

Di Remaji, 15 personel pasukan Tungkal di bawah pimpinan Pembantu Letnan Ferwerda juga bersiap. Kapal uap Otto akan membawa kekuatan itu masuk ke dalam operasi.

Lingkaran mulai terbentuk.

Namun, di tengah penyusunan operasi, ditemukan persoalan yang dapat mengacaukan seluruh perhitungan.

Peta ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan di lapangan.

Jalur setapak dari Bangko, Tabir, yang harus dilalui pasukan Letnan Badings ternyata berada di antara Sungai Selangki dan Sungai Besar, bukan di tepi kanan Sungai Besar sebagaimana informasi awal.

Kesalahan itu diketahui ketika pasukan sudah bergerak.

Pesan koreksi tidak dikirim.

Bukan karena kesalahan itu dianggap tidak penting, melainkan karena sebuah pesan yang dikirim melalui kurir di tengah perjalanan dapat menjadi petunjuk bagi penduduk mengenai operasi yang sedang berlangsung. Pasukan Badings juga sudah harus mencapai posisi untuk memasang jebakan.

Di tengah ketidakpastian medan itu, informasi lain justru mempersempit pencarian.

Pada 14 April, Sultan Taha terlihat menaiki perahu-perahu kecil menyusuri Sungai Besar.

Nama-nama penduduk yang baru-baru ini memasok makanan ke tempat persembunyian juga telah diketahui.

Namun tidak seorang pun segera ditangkap.

Jaringan itu dibiarkan tetap bergerak. Penangkapan yang terlalu cepat justru dikhawatirkan membuka rencana pengepungan dan membuat persembunyian Sultan berubah menjadi tempat kosong sebelum pasukan tiba.

Maka seluruh kekuatan terus bergerak.

Ketika jumlah pasukan di lapangan dianggap telah cukup untuk menutup ruang gerak persembunyian, pengepungan penuh mulai dilaksanakan. Pasukan diangkut menggunakan kapal uap Otto, kemudian dibagi menjadi empat kekuatan yang bergerak menuju sasaran masing-masing.

Pasukan pertama berada di bawah Sersan Eropa Jacobi. Kekuatan itu terdiri atas sepuluh personel.

Dari Penapalan, jalur setapak ditempuh ke arah selatan hingga mencapai sebuah aliran sungai kecil. Di sana, pertemuan dengan pasukan Letnan Van Staden ten Brink dari arah berlawanan telah direncanakan.

Malam adalah waktu yang tepat untuk merancang jebakan.

Jalur pelarian Sultan ke arah utara dari persembunyian A harus ditutup. Pada saat yang sama, jalur-jalur setapak rahasia yang mungkin mengarah ke persembunyian harus dicari.

Keesokan harinya, titik A harus ditembus. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Betung Bedarah dengan bantuan seorang gids.

Namun ada satu ketentuan yang berlaku bagi seluruh kekuatan.

Tidak boleh ada tembakan yang dilepaskan terlalu cepat.

Salah tembak antarpasukan dapat terjadi dalam gelapnya hutan. Lebih penting lagi, satu suara tembakan yang terlalu dini dapat memberi tahu Sultan bahwa pengepungan telah tiba di sekitar persembunyiannya.

Pasukan kedua berada di bawah Letnan Van Staden ten Brink dengan kekuatan 15 personel.

Perahu kompi ditarik kapal uap Otto hingga ke muara Sungai Api. Pendaratan dilakukan di sebelah selatan muara. Dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui jalur setapak ke arah barat daya menuju anak sungai di sebelah kanan Sungai Api.

Di tempat itulah pasukan Van Staden ten Brink dijadwalkan bertemu dengan pasukan Jacobi.

Dua kekuatan itu akan bersama-sama menutup jalur pelarian menuju utara dari persembunyian A.

Pasukan ketiga bergerak dari wilayah Remaji.

Kekuatan tersebut terdiri atas 15 personel pasukan mobilisasi di bawah Ajudan Bintara Müssig dan 28 personel di bawah Sersan Eropa Slotman.

Slotman mendapat tugas mengepung seluruh kawasan dusun di tepi kanan Betung Bedarah. Penduduk harus digiring dan diisolasi di dalam beberapa rumah.

Sementara itu, pasukan Müssig bergerak melalui jalur setapak menuju sasaran yang lebih jauh: persembunyian A.

Pasukan keempat adalah pasukan Tungkal di bawah Pembantu Letnan Ferwerda, berkekuatan 15 personel.

Dari Remaji, pasukan tersebut diangkut menggunakan kapal uap Otto. Sesampainya di Betung Bedarah, perjalanan diteruskan menggunakan perahu menuju jalur setapak di sebelah selatan dusun yang mengarah ke Sungai Tabir.

Sasaran akhirnya adalah persembunyian B.

Rute yang ditempuh Letnan Badings juga telah diberitahukan kepada satuan ini agar dua kekuatan tidak saling bertemu secara keliru di tengah hutan.

Sementara pasukan-pasukan bergerak masuk ke wilayah pengepungan, Otto tetap berjaga di antara tepian kiri dan kanan dusun Betung Bedarah. Sejumlah prajurit ditempatkan untuk mencegah penduduk menyeberangi Sungai Batang Hari.

Tidak boleh ada orang yang lolos membawa kabar kepada Sultan.

Malam pun turun.

Setiap kekuatan membawa seorang pemandu jalan. Dalam rencana, para pemandu itu seharusnya menjadi mata yang mengenal medan. Namun hutan segera memperlihatkan persoalan lain.

Tidak seluruh pemandu dapat memberikan bantuan yang diharapkan.

Ada yang benar-benar tidak mengetahui medan. Ada pula yang justru melakukan penyesatan. Jalan yang seharusnya mendekatkan pasukan kepada sasaran dapat berubah menjadi jalan yang membawa pasukan menjauh.

Ketidakjujuran dan kesalahan arah itu beberapa kali berhasil diketahui sebelum menimbulkan akibat yang lebih besar.

Pasukan Jacobi berhasil memasang jebakan sepanjang malam. Namun pertemuan dengan Pasukan II tidak terjadi.

Tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan musuh.

Jalur rahasia menuju persembunyian A juga tidak ditemukan.

Ketika pagi tiba, pasukan Jacobi kembali menuju tepi Sungai Batang Hari melalui jalur setapak.

Pasukan Van Staden ten Brink menghadapi keadaan yang lebih sulit. Bulan telah terbenam menjelang pukul 02.00. Kegelapan membuat hutan hampir tidak memberikan petunjuk. Pemandu jalan kehilangan arah.

Menjelang pagi, perjalanan dihentikan dan pasukan memutuskan untuk mundur.

Pasukan ketiga juga tidak mencapai sasaran.

Pemandu jalan terbukti sengaja menyesatkan komandan pasukan. Pergerakan berakhir tanpa menemukan tempat persembunyian yang dicari.

Sementara itu, pasukan Ferwerda berhasil menemukan sebuah tempat persembunyian di jalur menuju Bangko Pintas.

Tetapi tempat itu telah kosong.

Para pengikut Sultan telah meninggalkannya.

Tidak ada kontak dengan pasukan Letnan Badings. Pasukan Ferwerda akhirnya mundur menuju Betung Bedarah.

Satu demi satu jalur pengepungan gagal memberikan hasil.

Namun perjalanan Letnan Badings membawa perkembangan berbeda.

Pada 25 April sekitar pukul 16.00, pasukan Badings mencapai titik C.

Pemeriksaan ulang terhadap pemandu jalan membuka fakta penting. Sungai Besar ternyata mengalir di sebelah timur persimpangan tersebut, bukan di sebelah barat sebagaimana informasi awal.

Posisi itu terlalu penting untuk ditinggalkan.

Sebelas personel kemudian ditinggalkan di persimpangan.

Tugasnya menjaga titik tersebut sepanjang sisa hari, memasang jebakan pada malam hari untuk menutup kedua akses jalan, kemudian kembali menuju Sungai Batang Hari pada keesokan paginya.

Badings melanjutkan perjalanan hanya dengan 14 personel.

Sasaran berikutnya adalah tepi kanan Sungai Besar.

Jalur penyeberangan harus ditutup.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, tingkah pemandu kembali menimbulkan kecurigaan. Pengetahuan mengenai medan menunjukkan bahwa posisi gubuk Sultan Taha sebenarnya mungkin telah diketahui.

Namun perjalanan terus berputar.

Waktu berjalan.

Hutan semakin gelap.

Baru menjelang pukul 19.30 sebuah jalur setapak ditemukan. Pemandu menyatakan jalur itu menuju persembunyian Sultan.

Perangkap segera dipasang.

Sepanjang malam jalur itu diawasi.

Tidak ada pergerakan.

Tidak ada tanda pelarian.

Fajar akhirnya muncul di antara pepohonan.

Letnan Badings kemudian membawa sembilan personel pemukul untuk menembus titik yang diduga sebagai pusat persembunyian Sultan.

Sekali lagi, pemandu jalan membawa pasukan berputar di dalam hutan.

Satu jam berlalu tanpa hasil.

Badings akhirnya memutuskan kembali ke titik pertahanan awal.

Lima personel masih berada di sana bersama barang-barang logistik.

Pada titik itulah pencarian memasuki tahap yang berbeda.

Seorang prajurit bumiputera bernama Amit berada dalam rombongan yang dibawa oleh sang Demang.

Seragam militer dilepaskan.

Pakaian adat sipil Jambi dikenakan.

Amit kemudian bergerak masuk ke dalam hutan bersama seorang pengikut Demang.

Bukan sebagai prajurit.

Bukan sebagai bagian dari pasukan yang bergerak terbuka.

Penyamaran itu dimaksudkan untuk menembus kawasan yang selama berjam-jam gagal ditemukan oleh pasukan bersenjata.

Amit bergerak seorang diri ke dalam jantung hutan untuk mencari gubuk rahasia Sultan Taha.

Empat puluh lima menit kemudian, Amit kembali.

Sebuah area tebangan pohon telah ditemukan di tengah hutan lebat.

Ada suara anak-anak kecil yang terdengar dari kawasan tersebut.

Petunjuk itu segera mengubah arah pengejaran.

Letnan Badings membawa sembilan personel pemukul.

Amit berada di depan sebagai penunjuk jalan. Sang Demang ikut mendampingi.

Langkah demi langkah ditempuh dengan senyap.

Semakin dalam memasuki hutan, semakin dekat posisi yang dicari.

Akhirnya kompleks persembunyian terlihat.

Letaknya tepat di tepi anak sungai sebelah kanan Sungai Besar.

Pasukan berhenti di balik vegetasi.

Gubuk-gubuk kayu berada di hadapan.

Formasi kemudian dipecah menjadi dua kelompok. Dua arah pengepungan disiapkan agar penggerebekan dapat dilakukan secara serentak.

Tidak ada lagi jalan untuk memperlebar lingkaran.

Sasaran berada di depan mata.

Tanggal 26 April 1904 menjadi hari terakhir Sultan Taha Syaifuddin berada di persembunyian tersebut.

Penggerebekan berlangsung cepat.

Seorang penjaga yang berada di luar gubuk menyadari kepungan. Senapan segera diangkat.

Tembakan pertama pasukan Belanda mendahului.

Penjaga itu tewas.

Suara tembakan memecah keheningan hutan.

Para penghuni gubuk berhamburan keluar dan berusaha melarikan diri menuju rimba.

Dua kelompok pasukan Badings segera melepaskan tembakan dari dua arah.

Pasukan bergerak maju hingga mencapai sisi luar kompleks persembunyian. Tembakan terus diarahkan kepada para pengikut yang berusaha melarikan diri.

Setelah itu tembakan dihentikan.

Pos-pos penjagaan taktis dipasang mengelilingi kawasan.

Barulah penggeledahan dimulai.

Pondok-pondok kayu diperiksa satu demi satu.

Tiga jenazah ditemukan.

Setelah dilakukan identifikasi, salah satu jenazah dikenali sebagai mantan Sultan Jambi, Sultan Taha Syaifuddin.

Seorang laki-laki dan dua perempuan dari pihak gerilya ditemukan dalam keadaan terluka.

Di pihak pasukan Belanda tidak terdapat personel yang terluka ataupun gugur.

Dari kompleks persembunyian ditemukan berbagai barang.

Satu pucuk senapan otomatis modern jenis bayonet Model 95, satu pucuk senapan isi belakang, dua pucuk senapan sundut kuno, serta sejumlah besar pasokan amunisi berhasil disita. Di antaranya terdapat 21 butir amunisi tiruan buatan lokal untuk senapan M.95.

Berbagai senjata tajam tradisional juga ditemukan.

Yang tidak kalah penting adalah stempel-stempel resmi yang menjadi tanda kedaulatan Sultan Taha.

Keterangan lain mengenai penyitaan tersebut mencatat enam buah stempel kerajaan, termasuk stempel resmi negara Jambi yang dikenal sebagai “Tjap Matjan”, atau Cap Macan.

Penggerebekan telah berakhir.

Tetapi jenazah Sultan Taha masih berada jauh di dalam hutan.

Pasukan Letnan Badings bergerak kembali menuju titik logistik awal. Perjalanan keluar dari belantara dilakukan menuju tepian Sungai Batang Hari, tempat kapal uap roda buritan Otto telah menunggu untuk membawa pasukan pemukul kembali ke Muara Tebo.

Medan yang berat dan pertempuran yang baru saja berlangsung telah menguras tenaga.

Jenazah para korban ditinggalkan sementara di lokasi penggerebekan.

Dari Muara Tebo kemudian dikirim pasukan bantuan khusus untuk mengambil jenazah-jenazah tersebut dan membawanya keluar dari hutan.

Sesampainya di Muara Tebo, identitas jenazah Sultan Taha kembali diperiksa.

Wajah jenazah diperhadapkan kepada para pemandu jalan dan beberapa kepala suku pribumi yang sedang berada dalam tahanan Belanda.

Pengenalan dilakukan di bawah sumpah.

Kesaksian diberikan.

Jenazah tersebut dibenarkan sebagai jasad Sultan Taha Syaifuddin.

Perjalanan panjang itu pun sampai pada akhirnya.

Sultan Taha kemudian dimakamkan di wilayah Muara Tebo dengan pengawalan militer.

Demikianlah jejak terakhir Sultan Taha Syaifuddin berakhir pada 26 April 1904—setelah sebuah operasi pengepungan yang melibatkan Muara Tebo, Bangko Pintas, Penapalan, Remaji, Pelayangan, Betung Bedarah, Sungai Tabir, Sungai Besar, Batang Hari dan jaringan jalur setapak di pedalaman Jambi.

Kesalahan peta, gelapnya hutan, kegagalan sejumlah satuan, pemandu yang kehilangan arah, pemandu yang melakukan penyesatan, penyamaran Amit, hingga penemuan sebuah kompleks kecil di tepi anak sungai akhirnya membawa pengejaran itu menuju titik terakhir.

Di tengah belantara Jambi, jauh dari pusat kekuasaan, di antara pondok-pondok kayu dan aliran sungai yang menjadi bagian dari medan perjuangan, ditemukan jasad seorang Sultan yang selama bertahun-tahun bertahan di pedalaman.

26 April 1904 menjadi penutup perjalanan hidup Sultan Taha Syaifuddin.

Oléh: Marjafri - Jurnalis, Pegiat Budaya, ketua komunitas anak nagari Sawahlunto "art, social culture and tourism

17 Tahun Gempa Padang 30 September 2009, HKB 2026 Jadi Alarm Kesiapsiagaan Bencana    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

17 Tahun Gempa Padang 30 September 2009, HKB 2026 Jadi Alarm Kesiapsiagaan Bencana
Peringatan ini juga dihadiri Sekretaris Utama BNPB Rustian, unsur Forkopimda Kota Padang, serta Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa bersama para asisten dan kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Padang. (Foto: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Tujuh belas tahun berlalu, tetapi gempa Padang 30 September 2009 masih menjadi pengingat kuat bagi masyarakat tentang besarnya risiko bencana. Pesan itu kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Kota Padang 2026.

Peringatan HKB Kota Padang digelar di Monumen Gempa Padang, Rabu (30/9/2026). Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengenang para korban gempa yang mengguncang Kota Padang pada 30 September 2009.

Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin langsung rangkaian peringatan. Kegiatan diawali dengan doa bersama dan mengheningkan cipta tepat pukul 17.15 WIB, waktu terjadinya gempa 17 tahun silam.

Suasana haru kemudian dilanjutkan dengan penaburan bunga di depan Monumen Gempa Padang. Para pegiat kebencanaan dan perwakilan keluarga korban turut hadir dalam momentum penghormatan tersebut.

Peringatan ini juga dihadiri Sekretaris Utama BNPB Rustian, unsur Forkopimda Kota Padang, serta Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa bersama para asisten dan kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kota Padang.

Turut hadir Ketua LKAAM Sumatera Barat Fauzi Bahar Dt. Sati, yang juga pernah menjabat sebagai Wali Kota Padang periode 2004–2014. Kehadiran para pemangku kepentingan memperkuat pesan bahwa kesiapsiagaan bencana membutuhkan kerja bersama.

Fadly Amran menegaskan, peringatan HKB bukan sekadar mengenang tragedi masa lalu. Momentum tersebut harus menjadi pelajaran untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja.

Menurut Fadly, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Perencanaan, koordinasi, komunikasi, dan edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Salah satu langkah yang terus disiapkan Pemko Padang adalah tsunami drill. Latihan ini diarahkan untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami.

“Peringatan ini mengingatkan kita bahwa ketika bencana kembali terjadi, masyarakat harus lebih siap, mampu menekan risiko, dan bangkit dengan cepat,” ujar Fadly Amran.

Ia menambahkan, melalui Program Unggulan Padang Sigap, koordinasi dan komunikasi antarpemangku kepentingan terus diperkuat. Tujuannya agar seluruh unsur memiliki kesiapan yang lebih baik ketika menghadapi potensi bencana.

Sementara itu, Sestama BNPB Rustian mengingatkan bahwa Kota Padang memiliki risiko bencana yang tinggi. Namun, risiko tersebut dapat dikurangi melalui kerja bersama seluruh unsur pentahelix kebencanaan.

Rustian menilai peringatan HKB penting untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus memastikan masyarakat memahami jalur evakuasi, tempat evakuasi, dan langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi.

Tujuh belas tahun setelah gempa 30 September 2009, pesan yang dibawa dari Monumen Gempa Padang tetap sama: jangan lengah. Peringatan HKB 2026 menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana, edukasi masyarakat, tsunami drill, dan pemahaman jalur evakuasi harus terus diperkuat demi mengurangi risiko dan melindungi masyarakat Kota Padang. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Gubernur Mahyeldi: Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Gubernur Mahyeldi: Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat
Mahyeldi saat menghadiri Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami tingkat Provinsi Sumbar Tahun 2026 di Balai Naras, Lapangan Parkir Josal Football Academy, Cubadak Air Utara, Kota Pariaman, Rabu (30/9/2026). (Foto: Budi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menegaskan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar program atau kegiatan seremonial.

Hal itu disampaikan Mahyeldi saat menghadiri Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami tingkat Provinsi Sumbar Tahun 2026 di Balai Naras, Lapangan Parkir Josal Football Academy, Cubadak Air Utara, Kota Pariaman, Rabu (30/9/2026).

Menurut Mahyeldi, pelaksanaan gladi yang mencakup Tabletop Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), dan Field Training Exercise (FTX) merupakan momentum penting untuk menguji kesiapan pemerintah dan seluruh unsur terkait dalam menghadapi potensi bencana. Hasil evaluasi dari setiap tahapan harus menjadi dasar untuk terus memperbaiki sistem penanggulangan bencana di Sumbar.

“Keberhasilan gladi ini justru diukur dari berapa banyak pembelajaran yang dapat kita peroleh untuk memperkuat kesiapsiagaan kita di masa depan,” ujar Mahyeldi.

Ia menjelaskan, TTX menguji pemahaman terhadap skenario, pembagian peran, kebijakan, serta mekanisme pengambilan keputusan. Selanjutnya, CPX menguji alur komando, koordinasi, komunikasi, pelaporan, dan mobilisasi sumber daya. Sementara FTX memastikan seluruh rencana tersebut dapat diterapkan secara operasional di lapangan.

Karena itu, Mahyeldi meminta seluruh hasil evaluasi dari ketiga tahapan tersebut didokumentasikan secara lengkap, termasuk kendala, keterlambatan, ketidaksesuaian prosedur, maupun keterbatasan sumber daya. Seluruh catatan tersebut harus ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten dan kota bersama perangkat daerah terkait.

“Jangan menunggu bencana datang untuk belajar berkoordinasi. Jangan menunggu sirene berbunyi untuk mencari jalur evakuasi. Jangan menunggu keadaan darurat untuk menentukan siapa berbuat apa. Semua itu harus kita siapkan dari sekarang,” tegasnya.

Mahyeldi juga menekankan pentingnya memperkuat sistem komando dan koordinasi lintas instansi melalui SOP yang dipahami oleh seluruh unsur. Sistem komunikasi kedaruratan juga harus terus diuji dan diperkuat melalui sinergi BPBD, BMKG, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, organisasi kemanusiaan, dan relawan.

Menurutnya, hasil pembelajaran gladi tidak boleh berhenti di lokasi pelaksanaan, tetapi harus dibawa oleh masing-masing pemerintah kabupaten dan kota ke wilayahnya untuk disosialisasikan kepada OPD maupun masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana dapat semakin terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Semakin banyak yang terlibat dan semakin sering dilaksanakan, semakin baik, sehingga proses internalisasi terhadap kebencanaan itu betul-betul menjadi sesuatu yang melekat dalam keseharian kita,” katanya.

Mahyeldi menambahkan, ancaman gempa bumi dan tsunami tidak mengenal batas administrasi sehingga kesiapsiagaan juga harus dibangun melalui kerja sama lintas daerah. Pada saat yang sama, kebutuhan dasar masyarakat terdampak, seperti konsumsi, tempat pengungsian yang layak, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya, harus menjadi perhatian utama dalam penanganan darurat.

“Kesiapsiagaan kita menghadapi musibah bencana ini harus menjadi budaya kita, harus menjadi hal yang melekat dalam keseharian kita,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Utama BNPB, Rustian mengapresiasi Pemprov Sumbar dan BPBD yang telah menguji Rencana Kontinjensi (Renkon) gempa bumi dan tsunami. Ia menekankan agar Renkon terus diperbarui dan diuji secara berkala sehingga tetap sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.

Rustian juga mengingatkan pentingnya memastikan kesiapan jalur dan tempat evakuasi serta skenario rujukan kesehatan. Rumah sakit yang berada di lokasi aman perlu disiapkan untuk mendukung pelayanan apabila fasilitas kesehatan lainnya terdampak bencana.

“Bencana ini kita tidak tahu kapan terjadinya, dan yang pasti akan terjadi. Karena itu kita tidak boleh takut, tetapi harus siap,” katanya.

Walikota Pariaman, Yota Balad mengatakan gladi tersebut merupakan bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat. Menurutnya, manusia tidak dapat mencegah alam berkehendak, tetapi dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.

Ia mengajak masyarakat menjadikan gladi tersebut sebagai momentum untuk memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa dan tsunami terjadi, termasuk mengenali jalur serta titik evakuasi, dengan semangat “Siap untuk Selamat.” (adpsb/rmz/bud)

Buku Sumatera Barat Dilirik Library of Congress di IIBF 2026, IKAPI Bawa Karya Ranah Minang ke Panggung Internasional    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Buku Sumatera Barat Dilirik Library of Congress di IIBF 2026, IKAPI Bawa Karya Ranah Minang ke Panggung Internasional
Sekretaris IKAPI Sumatera Barat Armaidi Tanjung menyebut keikutsertaan dalam IIBF 2026 bukan sekadar memajang buku. (Foto: Ist). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kabar menarik datang dari Indonesia International Book Fair (IIBF 2026). Buku-buku karya penerbit Sumatera Barat mendapat perhatian dari perwakilan Library of Congress American Embassy saat mengunjungi stand IKAPI Sumatera Barat di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

IIBF 2026 berlangsung 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Assembly Hall & Lower Level JICC. Ajang internasional ini mempertemukan penerbit, penulis, pegiat literasi, pembaca, komunitas, hingga berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap dunia perbukuan.

Kehadiran IKAPI Sumatera Barat menjadi momentum memperkenalkan buku-buku berkonten lokal Sumatera Barat dan Minangkabau kepada khalayak yang lebih luas. Beragam karya tentang sejarah, Islam, kebudayaan, pemikiran, dan kekayaan lokal Ranah Minang turut dipamerkan.

Sekretaris IKAPI Sumatera Barat Armaidi Tanjung menyebut keikutsertaan dalam IIBF 2026 bukan sekadar memajang buku. Menurutnya, ajang tersebut menjadi ruang untuk memperluas jejaring, bertukar gagasan, membuka peluang kolaborasi, sekaligus memperkuat ekosistem perbukuan Indonesia.

Perhatian khusus muncul ketika Ade Farida, S.S., M.I.Kom, staf Library of Congress American Embassy, bersama sejumlah timnya mampir ke stand IKAPI Sumatera Barat. Mereka menyeleksi sejumlah buku yang diterbitkan penerbit anggota IKAPI Sumatera Barat, terutama karya dengan konten lokal Sumatera Barat dan Minangkabau.

Jika proses tersebut berlanjut ke koleksi Library of Congress, karya-karya lokal Sumatera Barat berpeluang hadir di salah satu jaringan perpustakaan paling dikenal di dunia. Hal ini menjadi ruang baru bagi karya penulis dan penerbit daerah untuk dikenal di luar Indonesia.

Momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa buku lokal Sumatera Barat memiliki ruang di panggung internasional. Bukan hanya penulis yang berperan, tetapi juga penerbit, editor, distributor, toko buku, komunitas, perpustakaan, dan pembaca yang bersama-sama menjaga agar gagasan terus hidup.

Di tengah pesatnya era digital, Armaidi menilai kehadiran buku tetap penting sebagai media penyebaran ilmu pengetahuan, gagasan, sejarah, dan kebudayaan. IIBF 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan dunia buku lokal dengan jejaring perbukuan yang lebih luas.

Dari stand IKAPI Sumatera Barat di IIBF 2026, buku-buku Ranah Minang kembali melangkah lebih jauh. Karya yang lahir dari Sumatera Barat tidak hanya untuk dibaca di daerah sendiri, tetapi juga berpeluang menjangkau pembaca dan lembaga internasional. Dari Ranah Minang, buku bergerak menuju panggung dunia. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU

Duta Anak Kota Padang Dibekali Jadi Pelopor dan Pelapor, Cegah Kekerasan hingga Perkawinan Anak    
Kamis, Oktober 01, 2026

On Kamis, Oktober 01, 2026

Duta Anak Kota Padang Dibekali Jadi Pelopor dan Pelapor, Cegah Kekerasan hingga Perkawinan Anak
Kegiatan bertajuk Diseminasi Pencegahan Kekerasan dan Pencegahan Perkawinan Usia Anak bagi Duta Anak Anti Kekerasan digelar DP3AP2KB Kota Padang di Gedung Mini Teater Lantai 2 Youth Center Kota Padang, Rabu (30/9/2026).  (Foto: Tommi). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Upaya mencegah kekerasan terhadap anak dan perkawinan anak usia dini terus diperkuat di Kota Padang. Kali ini, Duta Anak dari forum SMP/sederajat se-Kota Padang mendapat pembekalan khusus agar mampu menjadi pelopor sekaligus pelapor di lingkungan sekolah.

Kegiatan bertajuk Diseminasi Pencegahan Kekerasan dan Pencegahan Perkawinan Usia Anak bagi Duta Anak Anti Kekerasan digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Padang di Gedung Mini Teater Lantai 2 Youth Center Kota Padang, Rabu (30/9/2026).

Kepala DP3AP2KB Kota Padang Boby Firman hadir sekaligus memberikan penguatan kepada para peserta. Ia menegaskan, Duta Anak memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran tentang pencegahan kekerasan terhadap anak dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman.

“Hari ini Dinas P3AP2KB melaksanakan diseminasi tentang kekerasan terhadap anak dan perkawinan anak usia dini dengan peserta Duta Anak dari forum SMP se-Kota Padang,” ujar Boby Firman.

Menurut Boby, para Duta Anak tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga diarahkan menjadi agen anti-kekerasan di sekolah masing-masing. Mereka diharapkan mampu mengenali persoalan yang dialami teman sebaya sekaligus membantu membuka akses untuk mendapatkan pertolongan.

“Nantinya kita inginkan anak ini menjadi pelopor dan pelapor terutama di sekolahnya, serta bisa menjadi agen anti-kekerasan dan tempat curhat bagi teman-temannya,” kata Boby.

Diseminasi ini juga menghadirkan narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) dan Polresta Padang. Kehadiran kedua unsur tersebut memberikan perspektif kesehatan serta pemahaman mengenai aspek perlindungan dan pencegahan kekerasan terhadap anak.

Para Duta Anak dan siswa-siswi SMP/sederajat se-Kota Padang mengikuti kegiatan dengan materi yang diarahkan untuk memperkuat kemampuan edukasi teman sebaya. Mereka dipersiapkan menjadi wadah pengaduan dan tempat berkonsultasi bagi siswa yang menghadapi berbagai persoalan.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan perlindungan anak di Kota Padang. Dengan Duta Anak yang aktif sebagai pelopor dan pelapor, upaya mencegah kekerasan terhadap anak, mencegah perkawinan usia anak, serta membangun sekolah yang aman dan ramah anak diharapkan semakin kuat. (*) 

Editor: Zamri Yahya, WU