HEADLINE
Saksi Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Beberkan Tak Ada Klausul Tangki BBM OTM jadi Milik Pertamina    
Rabu, Januari 14, 2026

On Rabu, Januari 14, 2026

Saksi Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Beberkan Tak Ada Klausul Tangki BBM OTM jadi Milik Pertamina
Wahyu saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (13/1).

BENTENGSUMBAR.COM
- Chief Audit Executive PT Pertamina (Persero) periode 2015–2017, Wahyu Wijayanto, menegaskan tidak pernah ada kontrak atau perjanjian yang menyebutkan tangki bahan bakar minyak (BBM) milik PT Orbit Terminal Merak (OTM) akan menjadi aset Pertamina, setelah masa sewa selama 10 tahun berakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Wahyu saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (13/1).

Wahyu dihadirkan sebagai saksi untuk para terdakwa, yakni beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa Muhammad Kerry Adrianto Riza, Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim Dimas Werhaspati, serta Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak Gading Ramadhan Joedo.

Dalam persidangan, jaksa penuntut umum (JPU) menanyakan adanya unsur nilai aset atau tanah yang masuk dalam variabel perhitungan throughput pada kontrak penyewaan tangki BBM OTM oleh Pertamina. Jaksa mempertanyakan apakah terdapat konsekuensi pengalihan kepemilikan aset di akhir masa kontrak.

“Apakah penambahan variabel nilai tanah itu berimplikasi bahwa setelah kontrak 10 tahun berakhir, terminal BBM OTM menjadi milik Pertamina?” tanya jaksa.

Menjawab hal tersebut, Wahyu menegaskan tidak ada klausul atau pernyataan dalam kontrak yang mengatur pengalihan kepemilikan tangki BBM kepada Pertamina.

“Di dalam kontrak memang tidak ada pernyataan seperti itu,” jawab Wahyu.

Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa dalam kajian internal, termasuk hasil penelitian tim Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (UI), terdapat pandangan bahwa aset tersebut semestinya menjadi milik Pertamina di akhir kontrak. Namun, pandangan tersebut tidak pernah dituangkan dalam perjanjian resmi.

“Tapi itu tidak tercantum di dalam kontrak,” jelasnya.

Usai persidangan, kuasa hukum Kerry Adrianto, Patra M. Zen, menegaskan bahwa hingga sidang memasuki agenda ke-14, sebanyak 38 saksi yang dihadirkan jaksa tidak satu pun memberikan keterangan yang menguatkan dakwaan terhadap kliennya.

“Ini saksi-saksi yang dihadirkan oleh JPU, tetapi tidak ada yang dapat membuktikan atau menguatkan dakwaan. Sampai hari ini, dari 38 saksi, tidak satu pun yang menyatakan klien kami bersalah,” tegas Patra.

Ia mencontohkan, keterangan Wahyu terkait isu pengalihan kepemilikan tangki BBM. Menurutnya, tidak pernah ada praktik di Pertamina di mana tangki yang disewa dari pihak ketiga menjadi milik Pertamina setelah masa sewa berakhir.

“Baik sewa dari swasta maupun dari anak perusahaan Pertamina, tidak ada satu pun yang berakhir menjadi milik Pertamina,” tuturnya.

Patra pun menilai, dakwaan terhadap kliennya lebih didasarkan pada opini dan asumsi semata. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh dihukum tanpa alat bukti yang sah dan kuat.

“Tidak boleh orang dihukum karena opini, tidak boleh karena asumsi, apalagi imajinasi dalam dakwaan,” urainya.

Ia berharap, majelis hakim dapat memutus perkara ini secara adil dan objektif. Karena itu, hakim dapat menilai seluruh proses persidangan secara adil.

“Kalau tidak ada alat bukti yang kuat, pada dasarnya tidak perlu lagi pembuktian lanjutan. Kami berharap majelis hakim memutus perkara ini dengan seadil-adilnya,” pungkasnya. (*) 

Sumber: Jawapos.com

Wawako Padang Desak Percepatan Normalisasi Sungai dan Relokasi Warga Pascabencana    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Wawako Padang Desak Percepatan Normalisasi Sungai dan Relokasi Warga Pascabencana
Rapat koordinasi bersama Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatera di Padang, Selasa (13/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
– Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir mendesak percepatan penanganan darurat dan mitigasi bencana jangka panjang bagi warga Kota Padang yang bermukim di zona merah. 

Hal tersebut disampaikannya saat mengikuti rapat koordinasi bersama Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatera di Padang, Selasa (13/1/2026).

Rapat dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, unsur DPRD, Forkopimda, para bupati dan wali kota, kepala OPD, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait.

Agenda utama yang dibahas adalah pembaruan situasi pasca pembentukan Satgas berdasarkan Keputusan Presiden, sekaligus evaluasi penanganan pasca bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Maigus Nasir melaporkan bahwa kondisi arus sungai di Kota Padang sudah sangat dangkal, yang memicu kekhawatiran masyarakat setiap kali hujan turun. Kedangkalan ini telah menyebabkan dampak nyata, termasuk peristiwa pada awal Januari lalu di mana tujuh rumah warga hanyut terbawa arus.

"Kami memohon bantuan melalui pemerintah pusat agar Balai Wilayah Sungai (BWS) dapat lebih cepat melakukan penanganan darurat dan sedimentasi," ujar Wawako Maigus Nasir dalam rapat tersebut.

Selain pengerukan sungai, Pemko Padang juga fokus pada pembersihan data warga terdampak di Kecamatan Pauh, Nanggalo, dan Koto Tangah yang belum terakomodasi sepenuhnya. 

Buya Maigus Nasir menekankan pentingnya relokasi bagi warga yang tinggal di bantaran sungai untuk menghindari risiko bencana di masa depan. Untuk mendukung hal ini, Pemko Padang telah menyiapkan lahan relokasi agar warga tetap berada di lingkungan yang tidak jauh dari lokasi semula.

Merespons permintaan tersebut, pihak Satgas dan kementerian terkait menginstruksikan agar data warga yang perlu direlokasi segera diusulkan secara mendetail (by name by address). 

Penanganan rumah warga akan dibagi dalam dua skema, yaitu pembangunan di kawasan relokasi baru yang ditangani Kementerian PKP dan pembangunan hunian tetap di lahan pribadi melalui mekanisme BPP.

Langkah-langkah tersebut diharapkan masuk dalam program R3P atau skema hibah bantuan dari BNPB guna memastikan keselamatan warga Kota Padang sebelum bencana serupa kembali berulang. (Taufik/Gio)

Mendagri: Warga Terdampak Bencana yang Mengalami Penurunan Status Ekonomi Bisa Diusulkan Menjadi Penerima Manfaat Bansos    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Mendagri: Warga Terdampak Bencana yang Mengalami Penurunan Status Ekonomi Bisa Diusulkan Menjadi Penerima Manfaat Bansos
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian dan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian menginstruksikan seluruh Bupati dan Walikota di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk menggerakkan Dinas Sosial melakukan pendataan ulang terhadap masyarakat terdampak bencana yang mengalami penurunan status ekonomi.

Pendataan tersebut bertujuan agar masyarakat terdampak yang kini masuk kategori miskin dapat diusulkan sebagai penerima manfaat berbagai program bantuan sosial, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH) serta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional. “Anggarannya ada. Masyarakat terdampak bencana yang mengalami tekanan ekonomi dan menjadi warga miskin berhak mendapatkan PKH dan PBI. Dengan begitu, mereka bisa hidup lebih nyaman. Kalau sakit, bisa berobat secara gratis. Paling tidak dalam kurun satu tahun mereka mendapat PKH dan PBI,” ujar Mendagri Tito Karnavian.

Hal tersebut disampaikannya saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Hidrometeorologi di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (13/1/2026).

Mendagri yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera menjelaskan, berdasarkan hasil pembersihan data penerima PKH dan PBI dalam enam bulan terakhir, ditemukan sebanyak 3,97 juta penerima yang sudah tidak lagi layak, seperti penerima yang telah meninggal dunia atau berstatus sebagai aparatur sipil negara. “Artinya, setelah data dibersihkan, ada anggaran yang tersedia. Anggaran itu bisa digunakan untuk membiayai usulan baru, khususnya bagi warga terdampak bencana. Kuncinya ada pada bupati dan wali kota, segera rekap datanya dan serahkan ke saya, lalu akan kami usulkan ke Kementerian Sosial,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menegaskan kesiapan Pemerintah Daerah untuk segera menindaklanjuti arahan Mendagri, termasuk mempercepat pendataan warga terdampak agar dapat segera mengakses bantuan sosial dari Pemerintah Pusat. “Kita akan mendorong bupati dan walikota agar bergerak cepat dan akurat dalam pendataan. Ini penting agar masyarakat yang benar-benar terdampak bisa segera mendapatkan perlindungan sosial dan jaminan layanan kesehatan,” ujar Mahyeldi.

Selain itu, Gubernur juga menyampaikan pemerintah kabupaten dan kota dapat mengajukan permintaan cadangan beras pemerintah ke Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak bencana. “Silakan segera direspons. Jika surat permintaan sudah disampaikan, insyaAllah sesuai dengan apa yang disampaikan Bapak Mendagri, bantuan pangan bisa segera diproses untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tambahnya.

Pada rapat tersebut, Gubernur Mahyeldi juga menyampaikan harapan kepada Mendagri, agar dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat ke daerah terdampak bencana tidak dilakukan pemotongan, guna mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumbar. “Kami berharap dukungan penuh dari pemerintah pusat, agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan optimal demi kepentingan masyarakat. Salah satunya dengan tidak melakukan pemotongan TKD,” tutupnya. (adpsb/rmz/bud)

Mendagri Dorong Kepala Daerah Manfaatkan Program Nasional  300 Ribu Jembatan Gantung    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Mendagri Dorong Kepala Daerah Manfaatkan Program Nasional  300 Ribu Jembatan Gantung
Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumbar, yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (13/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk segera mendata kebutuhan jembatan gantung di wilayah masing-masing.

Pendataan tersebut sejalan dengan adanya program nasional untuk pembangunan 300.000 jembatan gantung di seluruh Indonesia untuk memperkuat konektivitas antarwilayah pedesaan sekaligus mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.

Arahan itu disampaikan Mendagri saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Sumbar, yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (13/1/2026).

Mendagri menegaskan, usulan pembangunan jembatan gantung tidak hanya diperuntukkan bagi jembatan yang rusak akibat bencana, tetapi juga untuk wilayah pedesaan yang selama ini belum memiliki akses penyeberangan yang layak dan aman. “Program ini bisa dimanfaatkan untuk daerah yang masyarakatnya masih harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Manfaatnya besar, baik untuk keselamatan, akses pendidikan, maupun aktivitas ekonomi,” ujar Tito.

Ia meminta kepala daerah segera menyusun usulan berbasis data lapangan yang akurat dan menyampaikannya melalui Gubernur untuk kemudian diteruskan ke Pemerintah Pusat melalui Kemendagri. “Presiden Prabowo ingin tidak ada lagi anak-anak yang berangkat sekolah harus mengambil risiko menyeberangi sungai. Karena itu, data harus benar-benar dicek di lapangan,” tegasnya.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Sumbar untuk mengoordinasikan pendataan kebutuhan jembatan gantung bersama pemerintah kabupaten dan kota. “Ini peluang besar bagi Sumatera Barat, terutama bagi nagari-nagari yang masih memiliki keterbatasan akses. Kita akan segera melakukan pendataan dengan Bupati/Walikota agar usulannya juga bisa segera disampaikan,” ujar Mahyeldi.

Ia berharap, hadirnya program ini dapat menjadi solusi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan di Sumbar. (adpsb/rmz/bud)

Mendagri Tegaskan Akurasi Data Jadi Kunci Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumbar    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Mendagri Tegaskan Akurasi Data Jadi Kunci Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumbar
Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (13/1/2026).

BENTENGSUMBAR.COM
- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Tito Karnavian menegaskan bahwa akurasi data menjadi kunci utama dalam percepatan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi. Penegasan tersebut disampaikannya saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (13/1/2026).

Menurut Mendagri, seluruh kebijakan dan bentuk intervensi pemerintah dalam penanganan bencana harus berbasis pada data yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Dalam penanganan kebencanaan, kuncinya adalah pendataan. Data harus cepat dan akurat, karena itulah yang menjadi dasar dalam menyusun setiap kebijakan. Itulah tujuan utama rakor ini,” tegas Tito Karnavian yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) Pascabencana Sumatera.

Mendagri menjelaskan, pemerintah menggunakan enam indikator utama sebagai acuan dalam menilai progres pemulihan pascabencana di daerah terdampak. Keenam indikator tersebut meliputi berjalannya roda pemerintahan, layanan publik, akses jalan, aktivitas perekonomian, aktivitas sosial kemasyarakatan, serta ketersediaan layanan dasar bagi masyarakat.

Khusus untuk Sumbar, Mendagri menilai proses pemulihan secara umum menunjukkan perkembangan yang positif. Dari 16 kabupaten dan kota terdampak, sebanyak 12 daerah telah berangsur pulih, sementara empat daerah lainnya masih membutuhkan penanganan lebih intensif, yakni Kabupaten Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, dan Pesisir Selatan. “Pemulihan di Sumbar tergolong cepat. Dari 16 daerah terdampak, 12 daerah sudah berangsur pulih, tinggal empat daerah yang perlu penanganan serius. Namun, bukan berarti daerah yang mulai pulih tidak lagi dibantu. Dukungan tetap diberikan, hanya bentuk intervensinya yang berbeda,” ujar Tito.

Sebelumnya, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah melaporkan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi telah mengakibatkan sebanyak 307.936 jiwa masyarakat terdampak. Dari jumlah tersebut, 264 jiwa meninggal dunia, 72 jiwa dinyatakan hilang, 401 jiwa mengalami luka-luka, dan 10.854 jiwa mengungsi. Ia juga menyampaikan total nilai kerusakan akibat bencana diperkirakan mencapai Rp15,63 triliun, sementara total kerugian diprediksi sebesar Rp17,91 triliun. Dengan demikian, total nilai kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp33,55 triliun. “Seluruh data tersebut telah dituangkan ke dalam Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Pusat melalui BNPB,” ungkap Gubernur Mahyeldi.

Gubernur menambahkan, dokumen R3P tersebut memberikan gambaran utuh mengenai besaran kebutuhan pascabencana, baik dari sisi total kebutuhan, pembagian kewenangan, maupun sektor-sektor terdampak. Dokumen ini menjadi dasar faktual bagi Pemerintah Pusat dalam memahami kondisi Sumbar pascabencana secara menyeluruh. Ia menegaskan besarnya komitmen Pemerintah Provinsi bersama Kabupaten dan Kota serta pihak terkait lainnya dalam mempercepat pemulihan pascabencana di Sumbar. Dari tenggang waktu 90 hari yang diberikan Pemerintah Pusat untuk penyusunan dokumen R3P, Sumbar berhasil menuntaskannya hanya dalam waktu 18 hari. “Ini menjadi bukti keseriusan kami dalam mengupayakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera Barat,” tegas Mahyeldi.

Selain Mendagri dan Gubernur, rakor tersebut juga dihadiri oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy, Ketua DPRD Provinsi Sumbar Muhidi, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi, Sekretaris Utama BNPB Rustian, unsur Forkopimda Provinsi Sumbar, para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumbar. (Adpsb/rmz/bud)

Mendagri Tegaskan Akurasi Data Jadi Kunci Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumbar    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Mendagri Tegaskan Akurasi Data Jadi Kunci Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumbar
Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia, Tito Karnavian menegaskan bahwa akurasi data menjadi kunci utama dalam percepatan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi. Penegasan tersebut disampaikannya saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (13/1/2026).

Menurut Mendagri, seluruh kebijakan dan bentuk intervensi pemerintah dalam penanganan bencana harus berbasis pada data yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan “Dalam penanganan kebencanaan, kuncinya adalah pendataan. Data harus cepat dan akurat, karena itulah yang menjadi dasar dalam menyusun setiap kebijakan. Itulah tujuan utama rakor ini,” tegas Tito Karnavian yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) Pascabencana Sumatera.

Mendagri menjelaskan, pemerintah menggunakan enam indikator utama sebagai acuan dalam menilai progres pemulihan pascabencana di daerah terdampak. Keenam indikator tersebut meliputi berjalannya roda pemerintahan, layanan publik, akses jalan, aktivitas perekonomian, aktivitas sosial kemasyarakatan, serta ketersediaan layanan dasar bagi masyarakat.

Khusus untuk Sumbar, Mendagri menilai proses pemulihan secara umum menunjukkan perkembangan yang positif. Dari 16 kabupaten dan kota terdampak, sebanyak 12 daerah telah berangsur pulih, sementara empat daerah lainnya masih membutuhkan penanganan lebih intensif, yakni Kabupaten Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, dan Pesisir Selatan. “Pemulihan di Sumbar tergolong cepat. Dari 16 daerah terdampak, 12 daerah sudah berangsur pulih, tinggal empat daerah yang perlu penanganan serius. Namun, bukan berarti daerah yang mulai pulih tidak lagi dibantu. Dukungan tetap diberikan, hanya bentuk intervensinya yang berbeda,” ujar Tito.

Sebelumnya, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah melaporkan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi telah mengakibatkan sebanyak 307.936 jiwa masyarakat terdampak. Dari jumlah tersebut, 264 jiwa meninggal dunia, 72 jiwa dinyatakan hilang, 401 jiwa mengalami luka-luka, dan 10.854 jiwa mengungsi. Ia juga menyampaikan total nilai kerusakan akibat bencana diperkirakan mencapai Rp15,63 triliun, sementara total kerugian diprediksi sebesar Rp17,91 triliun. Dengan demikian, total nilai kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp33,55 triliun. “Seluruh data tersebut telah dituangkan ke dalam Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Pusat melalui BNPB,” ungkap Gubernur Mahyeldi.

Gubernur menambahkan, dokumen R3P tersebut memberikan gambaran utuh mengenai besaran kebutuhan pascabencana, baik dari sisi total kebutuhan, pembagian kewenangan, maupun sektor-sektor terdampak. Dokumen ini menjadi dasar faktual bagi Pemerintah Pusat dalam memahami kondisi Sumbar pascabencana secara menyeluruh. Ia menegaskan besarnya komitmen Pemerintah Provinsi bersama Kabupaten dan Kota serta pihak terkait lainnya dalam mempercepat pemulihan pascabencana di Sumbar. Dari tenggang waktu 90 hari yang diberikan Pemerintah Pusat untuk penyusunan dokumen R3P, Sumbar berhasil menuntaskannya hanya dalam waktu 18 hari. “Ini menjadi bukti keseriusan kami dalam mengupayakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera Barat,” tegas Mahyeldi.

Selain Mendagri dan Gubernur, rakor tersebut juga dihadiri oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy, Ketua DPRD Provinsi Sumbar Muhidi, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar Arry Yuswandi, Sekretaris Utama BNPB Rustian, unsur Forkopimda Provinsi Sumbar, para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumbar. (Adpsb/rmz/bud)

Ini Tiga Jenis Bantuan Kemensos yang akan Diterima Korban Bencana Banjir-Longsor di Kota Padang    
Selasa, Januari 13, 2026

On Selasa, Januari 13, 2026

Ini Tiga Jenis Bantuan Kemensos yang akan Diterima Korban Bencana Banjir-Longsor di Kota Padang
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kota Padang, Ricky Januardi Alexander. 

BENTENGSUMBAR.COM
– Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui Dinas Sosial tengah mempercepat proses administrasi untuk penyaluran bantuan dari Kementerian Sosial RI (Kemensos) bagi warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor di daerah tersebut. 

Fokus utama bantuan meliputi santunan ahli waris, jaminan hidup (jadup), hingga bantuan penguatan ekonomi warga.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kota Padang, Ricky Januardi Alexander, menyampaikan bahwa pihaknya telah merampungkan asesmen dan pendataan terhadap korban jiwa. Tercatat sebanyak 11 orang warga Kota Padang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

"Saat ini kami sedang dalam tahap pembuatan SK untuk diusulkan ke Kementerian Sosial (Kemensos) RI agar ahli waris mendapatkan santunan sebesar Rp15 juta per jiwa. Insya Allah, bantuan ini ditargetkan cair pada bulan Januari ini," ujar Ricky saat ditemui di Padang.

Selain santunan kematian, Pemko Padang juga memprioritaskan pemberian Jaminan Hidup (Jadup) bagi keluarga yang rumahnya hanyut atau mengalami rusak berat. Berdasarkan data terbaru, terdapat 374 Kepala Keluarga (KK) dengan total 1.416 jiwa yang berhak mendapatkan bantuan ini.

Ricky menambahkan bahwa data ini masih bersifat dinamis mengingat adanya banjir susulan pada 2 Januari 2026 yang memperluas dampak kerusakan.

"Sesuai Permensos Nomor 4, indeks bantuan jadup adalah Rp10 ribu per jiwa per hari selama 90 hari atau tiga bulan. Namun, informasinya akan ada kenaikan nilai santunan tersebut dari pusat," jelasnya.

Tak hanya bantuan kebutuhan dasar, Dinas Sosial juga tengah melakukan pendataan melalui pihak kecamatan untuk program penguatan ekonomi. Bantuan ini menyasar warga yang kehilangan tempat usaha atau sarana usaha yang rusak akibat terendam banjir, seperti pelaku usaha mikro dan peternak.

"Tujuan penguatan ekonomi ini adalah untuk meringankan beban keluarga agar mereka bisa kembali mandiri dan ekonomi mereka tumbuh kembali pascabencana," pungkas Ricky. (Taufik/Ivan/Defri/Wiki/Nindy)