HEADLINE
Wagub Vasko Minta OPD Jemput Bola untuk Percepat Pembangunan Sumbar    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Wagub Vasko Minta OPD Jemput Bola untuk Percepat Pembangunan Sumbar
Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy meminta seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov Sumbar untuk lebih proaktif. (Foto/Adpim). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Wakil Gubernur Sumatera Barat (Wagub Sumbar), Vasko Ruseimy meminta seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov Sumbar untuk lebih proaktif dalam mendukung Program Strategis Nasional (PSN) dan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Langkah itu dinilai penting untuk mempercepat pembangunan daerah di tengah keterbatasan fiskal.

Menurut Vasko, pemerintah daerah tidak bisa lagi hanya menunggu program dari pusat, tetapi harus bergerak cepat menyiapkan dukungan dan proposal usulan yang matang. Tujuannya, agar Sumbar mendapat prioritas dalam pelaksanaan program nasional.

“Pembangunan daerah tidak dapat dilakukan sendiri sendiri. Dibutuhkan sinergi yang erat, kolaborasi multipihak, serta gerak bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, kita harus lebih proaktif,” tegas Wagub Vasko.

Arahan tersebut disampaikannya saat memimpin rapat koordinasi bersama seluruh Kepala OPD di Kantor Bappeda Sumbar, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai, keterlibatan dalam mendukung PSN dan PKPN menjadi salah satu solusi strategis untuk mengakselerasi pembangunan daerah. 

Apalagi, kondisi APBD saat ini relatif terbatas, sementara kebutuhan pembangunan di berbagai sektor masih sangat tinggi.

Wagub Vasko juga menekankan bahwa paradigma pembangunan saat ini telah berubah.

Menurutnya, daerah yang paling siap akan lebih diprioritaskan dibanding daerah yang sekadar membutuhkan namun tidak menunjukkan kesiapannya.

“Kalau kita ingin lebih banyak program pusat masuk ke Sumbar, maka kesiapan daerah harus ditunjukkan sejak awal, mulai dari konsep, skema rancangan dukungan lintas sektor, hingga usulan proposal yang terukur,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Sumbar, Zefnihan mengatakan Pemprov Sumbar akan segera membentuk kelompok kerja khusus untuk mendukung percepatan suksesi program strategis nasional di daerah.

Ia menjelaskan, setiap program nantinya akan memiliki OPD pengampu utama yang didukung OPD lintas sektor. Tidak hanya ditingkat provinsi tapi juga akan melibatkan pemerintah kabupaten dan kota.

“Ini bukan gerakan parsial, tetapi gerakan kolektif dan kolaboratif antara provinsi dan kabupaten/kota dalam mendukung program strategis nasional,” kata Zefnihan.

Sesuai arahan Wagub, lanjutnya, rancangan skema kerja dan bentuk dukungan ditargetkan rampung pada akhir Mei 2026 ini. 

Selanjutnya,  itu akan dikemas dalam bentuk proposal usulan dan akan diajukan ke Pemerintah Pusat melalui Kemendagri dan Bappenas, agar Sumbar memiliki peluang lebih besar mendapatkan program nasional pada tahun 2027 nanti.

“Target kita jelas, Mei ini seluruh proposal usulan sudah masuk ke pusat sehingga pada 2027 nanti semakin banyak program nasional yang bisa dibawa ke Sumbar,” ujarnya.

Dukungan yang disiapkan Pemprov Sumbar tidak hanya mencakup program fisik, tetapi juga program nonfisik. Karena itu, seluruh OPD diminta segera mematangkan pemetaan kebutuhan sesuai bidang tugas masing-masing untuk kemudian diintegrasikan dalam bentuk proposal pengajuan ke pemerintah pusat. (adpsb/alf/bud)

Kemendagri dan Dekranas Perkuat Keterampilan Wastra Melalui Pelatihan Meronce Selendang    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Kemendagri dan Dekranas Perkuat Keterampilan Wastra Melalui Pelatihan Meronce Selendang
Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan Pelatihan Meronce Selendang, Selasa (12/5) di Rumah Kriya Asri (RKA), Jakarta Selatan. (Foto/Husnie). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan Pelatihan Meronce Selendang, Selasa (12/5) di Rumah Kriya Asri (RKA), Jakarta Selatan. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan keterampilan dalam pengembangan kerajinan wastra sekaligus mendorong peningkatan kreativitas dan kemandirian ekonomi.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Dekranas dan dihadiri Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Fauzan Hasan, yang menyampaikan laporan panitia mewakili Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri. 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus Dekranas, antara lain Wakil Ketua Harian II, Wakil Sekjen I, Anggota Bidang Kerja Sama Luar Negeri, serta pengurus Dekranas lainnya. Pelatihan juga melibatkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat, TP PKK Provinsi DKI Jakarta, dan anggota Bhayangkari Brimob.

Pada kesempatan itu, Fauzan Hasan menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak hanya menjadi wadah pengembangan keterampilan, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat melalui penguatan ekonomi kreatif berbasis kerajinan daerah.

“Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan peserta dalam kerajinan wastra, mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk bernilai seni, sekaligus membuka peluang usaha yang dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Meronce selendang merupakan kegiatan menghias atau merangkai selendang menggunakan manik-manik, payet, mutiara, maupun ornamen lainnya dengan teknik tertentu sehingga menghasilkan produk wastra yang lebih indah dan memiliki nilai estetika tinggi.

Pada pelaksanaannya, peserta memperoleh pembekalan mulai dari pengenalan kerajinan meronce selendang, teknik dasar meronce, pemilihan bahan dan desain, hingga teknik aplikasi ornamen pada bahan kain. Melalui pelatihan tersebut, peserta didorong untuk menghasilkan produk kerajinan yang kreatif, inovatif, dan memiliki nilai tambah ekonomi.

Selain menjadi media pelestarian kerajinan wastra nusantara, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperluas keterampilan masyarakat dalam mengembangkan produk kerajinan yang berdaya saing.

Pelatihan ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan hasil karya yang ditampilkan selama kegiatan berlangsung. (*)

Rehabilitasi Lahan Rusak Ringan dan Sedang di Sumbar Tuntas    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Rehabilitasi Lahan Rusak Ringan dan Sedang di Sumbar Tuntas
Kegiatan tanam padi serentak di lahan sawah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026). (Foto/Adpim). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menyatakan rehabilitasi lahan pertanian rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi di Sumbar telah tuntas. Selanjutnya, pemerintah daerah akan mulai bergerak ke tahap lanjutan, termasuk penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat mengikuti kegiatan tanam padi serentak di lahan sawah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026).

“Alhamdulillah, sesuai arahan Pak Menteri, proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang, berhasil kita percepat dan tuntaskan. Hari ini adalah penanaman terakhir, artinya progres kita sudah 100 persen,” ungkap Gubernur Mahyeldi.

Mahyeldi menegaskan, keberhasilan rehabilitasi tersebut tidak lepas dari dukungan Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Sumatera V dan seluruh pihak terkait, termasuk Bupati/Walikota daerah terdampak. 

Total anggaran yang dikucurkan Kementerian Pertanian untuk rehabilitasi lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar ini berjumlah sebesar Rp. 32,9 miliar.

“Komitmen Pak Menteri dan seluruh jajaran luar biasa, keberhasilan ini tidak lepas dari keseriusan beliau, mulai dari penyiapan anggaran hingga pengawasan langsung ke lapangan. Tahapan berikutnya, untuk kategori rusak berat dan hilang semoga bisa cepat juga, itu sedang kita koordinasikan,” ujarnya.

Kendati demikian, Mahyeldi juga mengingatkan akan ancaman baru yang juga perlu segera diantisipasi seluruh pihak terkait, yakni potensi musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli mendatang. Menurutnya, mempercepat proses tanam bisa menjadi solusi.

“Kemarin Pak Sekjen menekankan kepada kami agar segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering atau El Nino. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman,” katanya.

Selain El Nino, Mahyeldi menilai tantangan terbesar saat ini justru pada penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat bencana. 

Ia menyebut terdapat sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat di Sumbar, termasuk lebih dari 4.000 hektare lahan yang hilang karena berubah menjadi aliran sungai atau tersapu longsor.

“Sebahagian dari lahan yang hilang itu, sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus akibat lonsor. Karena itu, penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, tidak bisa hanya Kementerian Pertanian, tapi juga perlu melibatkan Kementerian PU dan kementerian lain. Inilah yang menjadi tatangan kita saat ini,” tegasnya.

Ia mengungkap, seluruh data tentang kerugian serta rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana telah dituangkannya dalam dokumen R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.

Dokumen tersebut telah diserahkan ke Pemerintah Pusat melalui BNPB. Saat ini pemerintah daerah masih menunggu teknis penanganan dan besaran dukungan anggarannya dari pemerintah pusat.

“Kita sudah gerakkan semua simpul, mulai dari kabupaten, provinsi sampai kementerian. Tinggal sekarang kepastian anggaran. Mudah-mudahan Mei ini sudah mulai terlihat titik terang,” ucap Mahyeldi.

Mahyeldi juga mengingatkan potensi banjir dan longsor masih mengancam sejumlah daerah. Apalagi, saat ini curah hujan di Sumbar masih tergolong tinggi.

“Di Agam kemarin masih terjadi longsor, jalan putus dan area pertanian terganggu. Karena itu kita harus bergerak cepat sekaligus meminimalisir risiko banjir dan longsor berikutnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah mengapresiasi kecepatan Sumbar dalam memulihkan lahan pertanian terdampak bencana. 

Bahkan, menurutnya, Sumbar menjadi provinsi dengan progres terbaik dibanding daerah terdampak lainnya Aceh dan Sumatera Utara.

“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya luar biasa. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, tapi Sumbar sudah memenuhi target Pak Menteri. Ini juara satu,” kata Tedy.

Ia menambahkan, Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan sejumlah program antisipasi kekeringan, mulai dari irigasi perpompaan hingga pembangunan sumur dalam untuk menghadapi ancaman El Nino. 

Peruntukan program antisipatif tersebut akan disesuaikan dengan usulan yang masuk dari daerah.

“Kami siap memfasilitasi. Silakan segera diusulkan. Ada program irigasi perpompaan, sumur air dalam dan lainnya yang telah disiapkan kementerian untuk menghadapi musim kemarau,” ujarnya.

Menurut Tedy, capaian Sumbar tidak hanya sebatas percepatan tanam, tetapi juga sudah berhasil melakukan panen bahkan ekspor hasil pertanian. 

“Kemarin di Solok kami lihat sudah panen dan hasilnya diekspor. Jadi Sumbar bukan hanya tanam, tapi juga sudah panen. Ini yang menjadi perhatian Kementerian Pertanian,” katanya.

Di sisi lain, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis mengungkapkan bencana banjir dan longsor telah memukul sektor pertanian di wilayahnya secara serius. 

Dikatakannya, total lahan sawah terdampak di Padang Pariaman mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari 446 hektare rusak ringan, 238,25 hektare rusak sedang, 450,7 hektare rusak berat, dan 100,5 hektare sawah hilang akibat terbawa arus sungai.

Selain itu, lahan jagung terdampak mencapai 570,35 hektare, dengan rincian 382,6 hektare rusak ringan, 71 hektare rusak sedang, 112,5 hektare rusak berat, dan 4,3 hektare lahan hilang.

“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100 persen sedangkan untuk lahan sawah yang rusak berat dan hilang sampai sekarang belum ada alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian. Begitu juga lahan jagung yang terdampak. Kita berharap ini bisa segera,” kata John Kenedy Azis. (adpsb/cen/bud)

Kemnaker Uji 2.100 Calon Ahli K3 Umum Batch 2 untuk Perkuat Budaya Keselamatan Kerja    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Kemnaker Uji 2.100 Calon Ahli K3 Umum Batch 2 untuk Perkuat Budaya Keselamatan Kerja
Kemnaker menggelar Evaluasi Pembinaan dan Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2 yang diikuti 2.100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia pada 12–13 Mei 2026.  (Foto/Biro Humas Kemenaker). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelar Evaluasi Pembinaan dan Sertifikasi Ahli K3 Umum Batch 2 yang diikuti 2.100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia pada 12–13 Mei 2026. 

Kegiatan yang diselenggarakan bersama Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) ini menjadi langkah strategis Kemnaker untuk memperkuat kompetensi calon Ahli K3 dalam mendorong budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif di tempat kerja.

Evaluasi dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, sebagai bagian dari upaya memperluas penguatan kompetensi K3 di dunia kerja.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli menegaskan bahwa penguatan kompetensi Ahli K3 menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi dunia kerja yang semakin dinamis dan berisiko tinggi. 

Menurutnya, keberadaan 2.100 calon Ahli K3 Umum ini merupakan investasi penting dalam memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional.

“Kemnaker terus mendorong agar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi menjadi budaya kerja yang melekat di setiap tempat kerja. Karena itu, kualitas Ahli K3 harus dipastikan sejak proses pembinaan dan sertifikasi,” ujar Yassierli.

Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Binwasnaker dan K3), Ismail Pakaya, mengatakan evaluasi tersebut merupakan tahapan penting untuk memastikan calon Ahli K3 Umum memiliki kompetensi yang memadai dalam memahami dan menerapkan norma K3 di tempat kerja.

“Kegiatan evaluasi ini bukan sekadar proses administratif, melainkan instrumen penting untuk memastikan calon Ahli K3 benar-benar memahami norma dan prinsip K3, sehingga mampu menjalankan perannya secara profesional dalam menciptakan budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif,” kata Ismail melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Selasa (12/5/2026).

Adapun materi yang diujikan pada kegiatan ini meliputi dasar-dasar K3, pengawasan norma keselamatan kerja mekanik, pesawat uap dan bejana tekan, pesawat angkat dan angkut, keselamatan kerja listrik, penanggulangan kebakaran, keselamatan konstruksi bangunan, lingkungan kerja, Sistem Manajemen K3 (SMK3), serta manajemen risiko.

Menurut Ismail, evaluasi tersebut merupakan tahapan wajib sebelum peserta memperoleh sertifikasi dan penunjukan sebagai Ahli K3 Umum sesuai ketentuan Kemnaker.

“Kami berharap para calon Ahli K3 Umum yang lulus evaluasi dapat menjadi agen perubahan budaya K3 di tempat kerja, mampu mengidentifikasi potensi bahaya, melakukan upaya pencegahan kecelakaan kerja, serta mendorong penerapan SMK3 secara efektif di perusahaan masing-masing,” ujarnya. (*) 

Sumber: Biro Humas Kemnaker

Resmi Dikukuhkan, FK3S Kabupaten Solok Periode 2026–2031 Siap Jadi Mitra Setia Pemerintah Lestarikan Adat dan Dukung Pembangunan    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Datuk Solok
Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.HI., mewakili Bupati Solok, secara resmi mengukuhkan Pengurus Forum Ketua Kerapatan Adat Nagari Kabupaten Solok (FK3S) masa bakti 2026–2031.  (Foto/Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.HI., mewakili Bupati Solok, secara resmi mengukuhkan Pengurus Forum Ketua Kerapatan Adat Nagari Kabupaten Solok (FK3S) masa bakti 2026–2031. 

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Gedung C Sekretariat Daerah Kabupaten Solok, Rabu (13/05/2026), sebagai langkah memperkuat peran lembaga adat dalam menjaga nilai budaya sekaligus mendorong kemajuan daerah.

Acara diawali pembacaan Surat Keputusan penetapan susunan pengurus baru, dilanjutkan dengan prosesi sakral pengukuhan langsung oleh Wakil Bupati Solok. 

Momen ini menegaskan kedudukan FK3S sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam merawat warisan leluhur, menegakkan norma adat, serta menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat di seluruh nagari se‑Kabupaten Solok.

Ketua FK3S Kabupaten Solok terpilih, Drs. Butsamar Datuak Panghulu Sati, dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh hadirin yang hadir. 

Ia menegaskan tekad pengurus baru untuk bekerja lebih baik, lebih solid, dan lebih bermanfaat dibandingkan periode sebelumnya.

“Kami bertekad membawa FK3S ke arah yang lebih maju. Harapan kami, sinergi erat dengan Pemerintah Kabupaten Solok tetap terjalin, agar adat istiadat tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi kekuatan pendorong dalam kemajuan dan kesejahteraan masyarakat nagari,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, Wakil Bupati H. Candra menyampaikan salam hormat sekaligus permohonan maaf dari Bupati Solok yang berhalangan hadir secara langsung karena harus memenuhi undangan resmi di kementerian guna membahas program prioritas nasional Sekolah Rakyat. 

Ia menegaskan, kehadiran dan dukungan pemerintah terhadap lembaga adat bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari komitmen kuat untuk terus membina dan memberdayakan elemen‑elemen penting di akar rumput.

“Pemerintah menyadari betul, lembaga adat memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kami sangat berharap FK3S dapat bahu‑membahu membantu menyukseskan berbagai program pembangunan daerah. Kolaborasi yang erat dengan lembaga lain juga sangat dibutuhkan agar visi dan misi Kabupaten Solok berjalan lancar, tepat sasaran, dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga,” tegasnya.

Wakil Bupati juga berpesan agar pengurus FK3S senantiasa menjadi perekat persaudaraan, penengah yang bijak, dan teladan dalam menjaga kedamaian antarwarga. 

Ia yakin, dengan kekuatan adat yang kokoh, setiap kebijakan pemerintah akan lebih mudah diterima dan dijalankan oleh masyarakat.

Turut menyaksikan momen bersejarah ini antara lain Asisten Administrasi Umum Eva Nasra, S.H., M.M., Staf Ahli Bupati bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Irwan Efendi, Ketua Bundo Kanduang, Ketua Forum Wali Nagari, Ketua Persatuan Nelayan Kabupaten Solok, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah, seluruh Camat se‑Kabupaten Solok, serta seluruh jajaran pengurus FK3S yang baru saja dikukuhkan.

Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, harapan besar tertumpu pada bahu para pemimpin adat agar mampu membawa adat dan budaya Minangkabau di Kabupaten Solok tetap bersinar, selaras dengan kemajuan zaman, dan terus menjadi pondasi kokoh dalam mewujudkan pelayanan terbaik serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.(80)

Maut di Perut Bumi: Tragedi Ledakan Tambang Lobang Ampat Sawaraso, Sawahlunto 1928    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Opini soal Tambang Batu Bara
Dari kawasan inilah batu bara diangkut untuk menggerakkan lokomotif, kapal uap, dan berbagai infrastruktur yang menopang perekonomian kolonial. (Foto/Ist). 

TAMBANG
batu bara Ombilin di Sawahlunto merupakan salah satu tonggak penting sejarah industrialisasi di Hindia Belanda. Dari kawasan inilah batu bara diangkut untuk menggerakkan lokomotif, kapal uap, dan berbagai infrastruktur yang menopang perekonomian kolonial. Di mata pemerintah kolonial, Ombilin dipandang sebagai lambang kemajuan teknologi, efisiensi manajemen, dan keberhasilan eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar.

Namun di balik capaian tersebut tersimpan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Tambang ini tidak dibangun dan dijalankan dalam kondisi yang mudah. Setiap lorong yang menembus perut bukit, setiap rel yang membelah lembah, dan setiap bongkah batu bara yang terangkat ke permukaan menyimpan jejak kerja keras ribuan manusia. Ombilin berdiri di atas ketekunan para pekerja yang menukar tenaga, kesehatan, bahkan nyawa mereka demi menjaga agar roda industri terus berputar.

Para pekerja itu berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Sebagian merupakan buruh kontrak, sebagian pekerja hukuman, dan sebagian lainnya tenaga kerja bebas. Mereka bekerja di lorong-lorong sempit dan gelap, menghadapi ancaman runtuhan batu, gas beracun, kebakaran, banjir, serta berbagai penyakit yang selalu mengintai. Dalam lingkungan seperti itu, keselamatan tidak pernah sepenuhnya terjamin, dan setiap hari kerja mengandung kemungkinan bahwa seseorang tidak akan kembali ke rumah.

Sejarah Ombilin karena itu tidak hanya dapat dibaca melalui statistik produksi atau laporan teknis pertambangan. Ia juga harus dipahami sebagai sejarah manusia: sejarah tentang keringat, air mata, dan darah para pendahulu yang menjadi fondasi berdirinya salah satu kawasan industri terpenting di Asia Tenggara pada masanya. Kemajuan yang dicatat dalam arsip kolonial sesungguhnya memiliki biaya kemanusiaan yang sangat besar.

Salah satu peristiwa yang paling mengguncang adalah kebakaran besar di Lobang Ampat Sawaraso pada Januari 1928. Dalam musibah ini, puluhan pekerja kehilangan nyawa ketika api dan gas panas menjalar di dalam terowongan tambang. Sebagian korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, tetapi banyak lainnya terperangkap di bawah tanah. Proses penyelamatan berlangsung dalam situasi yang sangat berbahaya karena suhu di dalam lorong terus meningkat dan api belum dapat dipadamkan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan secara nyata bahwa di balik kemegahan industri tambang terdapat risiko yang harus ditanggung oleh para pekerja. Batu bara yang menjadi sumber energi bagi perkembangan ekonomi kolonial tidak hanya dihasilkan melalui teknologi dan modal, tetapi juga melalui pengorbanan manusia yang bekerja dalam kondisi yang keras dan berbahaya.

Tulisan berikut menghadirkan laporan sezaman yang dimuat dalam surat kabar Tjaja Sumatra edisi 1 Februari 1928 mengenai kebakaran di Lobang Ampat Sawaraso. Ejaan dan susunan kalimat dipertahankan sebagaimana termuat dalam sumber aslinya agar karakter bahasa dan perspektif zamannya tetap terjaga. Melalui laporan ini, dapat disaksikan secara langsung bagaimana sebuah bencana tambang dicatat pada masanya, sekaligus diingat kembali sebagai bagian penting dari sejarah kemanusiaan di Ombilin, Sawahlunto.

Berita Tentang Kebakaran Besar Dalam Lobang Ampat Sawaraso Di Sawahloento.

Menjoesoel kabar kawat dari Sawah Loento dari pembantoe kami disana jang mentjeritakan bagaimana kehebatan kebakaran dalam lobang jang terseboet dan telah membawa korban berpoeloeh djiwa manoesia. maka di kabarkan lebih djaoeh sebagai diterangkan dibawah ini.

Pada hari Minggoe jang laloe ada beberapa orang koeli kontrak, orang rantai dan oppas bestuur bersama toean Purvies masoek kedalam lobang ampat di Sawaraso akan melihat dan memeriksa bagaimana keadaan dalam lobang itoe, sebab besoknja hari Senin orang akan moelai bekerdja dalam lobang terseboet.

Kira kira poekoel 10 malam dengan sekoenjoeng koenjoeng lobang ampat post 17 itoe telah terbakar. Sepandjang kabar jang diterima, moelai bahaja itoe datang sekoenjoeng koenjoeng datang asap jang berasa amat panas jang mana orang mengira bahwa itoelah hawa gas jang telah meniwaskan djiwa orang.

Dalam bahaja ini dapat ditolong 24 orang dan pada malam itoe djoega di bawa keroemah sakit di Sawahloento.

Waktoe pagi pagi telah dapat lagi sembilan mait dan djoega dibawa ke roèmah sakit, sedang orang orang jang mati itoe adalah toean Purvies opziener, Oenoes orang Pematang Pandjang Boeo, Boelek orang Andalas Matoer, Saidi Djawa, Limin orang Kota Pandjang, Gadigo orang Nias, Saidi orang Katjang dan 2 orang hoekoeman.

Poekoel 12 tengah hari kita mendapat kabar lagi ada 35 orang jang mati dan poekoel doea segala mait itoe akan dapat dikirim keroemah sakit. Sebab kita akan mengetahoel lebih landjoet, kita toenggoe sampai poekoel doea, tetapi dengan sekoenjoeng koenjoeng datang lagi kabar jang mengatakan bahwa poekoel anam petang baroe segala mait sampai diroemah sakit, karena api dalam lobang jang terseboet bertambah besar dan segala toean toean Ingenieur telah masoek lobang mentjari akal akan memadamkan api jang terseboet.

Poekoel 7 malam toean toean itoe telah kembali dan segala familie jang mati telah menanti diroemah sakit disoeroeh poelang sadja.

Poekoel 9 malam terkabar lagi, beberapa orang toean toean Ingenieür akan masoek lagi kedalam loebang tembok dan akan ditjari akal boeat memadamkan api itoe. tetapi roepanja tak berhasil karena hawa ada amat panas sekali.

Ketika kabar ini ditoelis, mait jang 26 orang lagi masih dalam lobang djoega dan beloem terbawa keloear sedang api itoe masih sadja teroes menjala sampai dimoeka lobang ampat .

Bagaimana keadaan mait jang 24 itoe lagi, sedang api masih menjala, nanti akan dapat kita kabarkan. 

Tjaja Sumatra No. 26, Hari Arbaa 1 Februari 1928, Tahoen ke 32

Tambang Ombilin Meledak.

Laporan berikut merupakan kelanjutan dari berita sebelumnya mengenai kebakaran besar di Lobang Ampat Sawaraso, Sawahlunto. Jika berita yang dimuat dalam Tjaja Sumatra pada 1 Februari 1928 merekam perkembangan peristiwa secara cepat dan emosional, maka laporan dari Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi Jumat, 24 Februari 1928, menyajikan penjelasan yang lebih rinci mengenai kronologi kebakaran, upaya penyelamatan, kondisi teknis di dalam tambang, serta dugaan penyebab bencana.

Kedua sumber ini saling melengkapi. Yang pertama memperlihatkan suasana kepanikan dan duka ketika korban masih terperangkap di dalam tambang, sedangkan yang kedua menjelaskan bagaimana gas karbon monoksida menjadi faktor utama yang menyebabkan kematian, bagaimana ventilasi diubah untuk memperbaiki kualitas udara, dan bagaimana operasi penambangan akhirnya dapat dilanjutkan setelah area kebakaran dibendung.

Di antara seluruh uraian teknis tersebut, terdapat satu kesaksian yang sangat menggugah: jawaban singkat seorang sipir penjara melalui telepon dari dalam tambang yang dipenuhi gas beracun—“Saja Tida Koewat Lagi”—sebelum ia ditemukan meninggal dengan gagang telepon masih berada dalam genggamannya. Ada pula kisah seorang pekerja bernama Kemis yang berhasil keluar hidup-hidup setelah bertahan selama 84 jam di dalam tambang yang terbakar. Dua kisah ini menghadirkan dimensi manusiawi yang kuat di tengah penjelasan teknis tentang ventilasi, bendungan api, dan kandungan gas.

Laporan ini menunjukkan bahwa di balik bahasa teknis pertambangan tersimpan kenyataan yang sangat sederhana: puluhan orang kehilangan nyawa ketika bekerja di bawah tanah demi mengangkat batu bara ke permukaan. Kebakaran tersebut mungkin pada akhirnya dapat dikendalikan, dan produksi dapat dilanjutkan, tetapi nyawa para pekerja yang telah hilang tidak pernah dapat dipulihkan.

Berikut disajikan terjemahan laporan sebagaimana dimuat dalam Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 24 Februari 1928, sebagai pelengkap bagi berita sebelumnya dan sebagai sumber penting untuk memahami salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Tambang Batu Bara Ombilin.

Tentang kebakaran di tambang Ombilin.

Seperti yang telah di kirimkan lewat telegram, Pr. Herald selanjutnya melaporkan secara spesifik:

Tragedi Ini pertama kali diketahui pada Minggu malam, tanggal 29 Januari, sekitar jam 9.30 pagi, dan dilaporkan ke manajemen segera setelahnya. Insinyur pertambangan kemudian segera menindaklanjuti ke lokasi tambang dari mana datang laporan-laporan yang sangat mengkhawatirkan . 

Sipir penjara segera memerintahkan petugas polisi melalui telepon untuk membuka semua pintu yang ada di lokasi tambang yang tertutup dan menginstruksikan agar seluruh pekerja di evakuasi dan keluar dari lobang tambang  Sesegera mungkin.

Karena ini tidak seorang pun berada di pintu-pintu lubang yang tertutup, dan itu adalah kesalahan yang fatal , seperti apa yang telah telah ditulis oleh "de courier" dalam terbitan tertanggal 1 Februari yang baru lalu  "Bahwa puluhan korban tidak lagi bisa menyelamatkan diri dan mati seperti tikus dalam perangkap yang berapi-api" !

Sebelum mengambil tindakan apa pun, para insinyur harus menemukan lokasi yang tepat dari penyebab kebakaran, ini adalah satu hal usaha dan waktu.

Saat lokasi tersebut dapat di tentukan dan di pastikan di dalam lapangan tambang Sawah Rasau IV, Kipas yang berada di sebelah Utara di matikan dan udara segar dari Selatan diarahkan ke lapangan Sawah Rasau. Dengan kondisi tersebut Gas yang terjadi akibat kebakaran dapat  dievakuasi / di alirkan dari tambang dengan sesegera mungkin sehingga dapat memberi peluang untuk menyelamatkan para pekerja yang masih hidup dari dalam tambang.

Pada saat kebakaran terjadi, shift kedua yang biasa bekerja pada Minggu malam hanya bertugas untuk perbaikan (rawatan*red), dan berada di tambang. Tim ini terdiri dari total 125 orang, dimana 26 diantaranya meninggal dunia. 1 pengawas Eropa, 5 penjaga penjara, 4 penjaga polisi, 5 pekerja bebas, 7 pekerja kontrak dan 4 buruh paksa (orang rantai*red). yang dihukum ditemukan tidak berada di lokasi tambang.

Berbekal peralatan pesawat/telpon penyelamat, personel tambang Eropa berhasil menemukan beberapa yang mabuk, tetapi tidak mungkin di selamatkan karena kepulan asap tebal yang menghalangi mereka untuk masuk jauh ke dalam tambang.

Ke 26 korban berada di jalur udara yang di penuhi aliran gas yang menyerang dan mematikan , sisanya dapat menyelamatkan diri meninggalkan tambang dengan cara lain.

Bahwa bencana tersebut memakan banyak korban adalah di sebabkan adanya karbon monoksida dalam gas hasil pembakaran, sehingga para korban menjadi mabuk tanpa menyadari bahaya yang sebenarnya. Karena itu salah satu sipir penjara yang meskipun ada perintah telepon untuk segera meninggalkan tambang, tidak mampu menuruti perintah tersebut.  

Beberapa menit kemudian saat do telpon kembali ketika dia menjawab :
" Saja Tida kKoewat Lagi "  dan kemudian sipir tersebut di temukan dalam keadaan tewas dengan pesawat telpon dalam genggaman tangannya. 

Karbon monoksida yang sangat beracun tidak hanya datang saat ada kebakaran tapi juga terjadi jika pada lokasi dengan suhu yang tinggi. Oleh karena itu keberadaannya hanya terdeteksi dalam gas pembakaran api tambang di tambang Ombilin yang juga pernah terjadi pada tahun 1914 saat terjadi kebakaran di lapisan A. lapangan tambang Pandjang, dengan kandungan 0,3 pCt, sedangkan kandungan 0,1 pCt. CO saja sudah bisa mematikan.

Karena ventilasi yang telah di sesuaikan , Kandungan Udara berangsur-angsur mulai membaik di dalam tambang sehingga mayat-mayat itu dapat ditemukan secara berurutan.

Tiga korban terakhir dimakamkan hari Senin tanggal 6 Februari, dan lusa penambangan batubara dapat dilanjutkan setelah
medan api yang berada di sisi aliran udara dibendung.

Karena fakta bahwa asap masih muncul dari beberapa galeri tambang, dapat disalah artikan bahwa tidak ada tindakan yang memadai untuk memadamkan api, namun untuk mencegah ledakan, aliran udara tetap terbuka sampai yang terakhir, dan mungkin tidak akan ditutup sampai bendungan di aliran udara masuk benar-benar tertutup, dan gas pembakaran yang keluar telah mendingin sedemikian rupa sehingga suhunya lebih lanjut mencegah ledakan. Hal ini selanjutnya dipertimbangkan untuk mencapai tempat api dengan lubang dari permukaan dan untuk memadamkannya melalui bilasan tipis.

Seorang Kuli bernama Kemis, pada hari Kamis 2 Februari keluar dari tambang dalam keadaan masih hidup, setelah berada di dalam tambang yang terbakar itu selama 84 jam. 

Dia menerangkan pada saat kebakaran terjadi dia tertidur akibat menghirup sejumlah kecil gas CO dan akhirnya sadar kembali. Ketika telah berada di luar, dia mengeluh  merasa tidak nyaman meskipun waktunya dalam pelayanan pasti sudah berakhir!

Penyebab kebakaran belum bisa dipastikan karena satu-satunya orang yang selamat dari kobaran api menyatakan lobang sudah terbakar begitu saja .Tidak ada indikasi lebih lanjut untuk menjelaskan penyebab kebakaran tersebut. Pemaksaan kubis dianggap tidak mungkin. Tumpukan kayu di pusat kebakaran terbakar dengan cara yang belum dapat dijelaskan.

Sumber  = het nieuws van den dag ,voor nederlandsch indie - Vrijdag 24 Februari 1928

Penyunting: marjafri - wartawan, pendiri dan ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism

Perkuat Data Akurat Demi Pembangunan, BPS Kabupaten Solok Jalin Kemitraan Strategis dengan Dua Perguruan Tinggi    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Perkuat Data Akurat Demi Pembangunan, BPS Kabupaten Solok Jalin Kemitraan Strategis dengan Dua Perguruan Tinggi
Penandatanganan berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, Rabu (13/05/2026), dan disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.HI., serta sejumlah pejabat tinggi daerah. (Foto/Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Solok resmi menandatangani Nota Kesepahaman dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Solok Nan Indah dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) El Hakim Solok.

Penandatanganan berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, Rabu (13/05/2026), dan disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.HI., serta sejumlah pejabat tinggi daerah.

Kegiatan ini turut dihadiri Asisten Administrasi Umum Eva Nasri, SH, MM, Kepala BPS Kabupaten Solok Bambang Suryanggono, SST., M.Ec.Dev., Ketua STAI Solok Nan Indah Dr. Hidayat Ediz, Ketua STIE El Hakim Solok Zuraedah Indah, kepala Organisasi Perangkat Daerah, serta para Camat se‑Kabupaten Solok.

Dalam sambutannya, Kepala BPS Kabupaten Solok menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi langkah strategis guna meningkatkan kualitas pendataan sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat akan pentingnya data statistik yang andal. 

Ia menyampaikan, mulai Juni mendatang, jajarannya akan turun langsung ke lapangan melaksanakan pendataan usaha dan rumah tangga. 

Hasil pendataan tersebut nantinya akan menjadi dasar utama dalam merancang, menyusun, dan mengevaluasi berbagai program pembangunan di Kabupaten Solok agar benar‑benar tepat sasaran.

“Tujuan utamanya adalah agar literasi statistik makin menyebar hingga ke pelosok daerah. Masyarakat sadar, data yang akurat adalah fondasi kemajuan daerah ini,” ujar Bambang.

Momen puncak acara berlangsung khidmat saat penandatanganan dokumen kerja sama dilakukan secara bergantian oleh Kepala BPS bersama pimpinan kedua perguruan tinggi tersebut.

Prosesi ini disaksikan secara langsung oleh Wakil Bupati dan jajaran pimpinan daerah sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah terhadap sinergi antar‑lembaga.

Wakil Bupati Solok, H. Candra, dalam arahannya menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif BPS yang melibatkan dunia pendidikan. 

Menurutnya, data yang valid dan terverifikasi adalah syarat mutlak agar kebijakan pemerintah daerah maupun provinsi tidak meleset dari kebutuhan riil masyarakat. 

Ia juga bersyukur atas capaian kemajuan Kabupaten Solok yang dinilai terus membaik dalam hal ketepatan dan kecepatan validasi data.

“Berbagai langkah terobosan yang dijalankan Bapak Bupati bersama BPS, kini diperkuat dengan dukungan perguruan tinggi, diyakini akan melahirkan program‑program terbaik yang membawa kesejahteraan nyata bagi warga Kabupaten Solok,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wakil Bupati berpesan kepada pimpinan STAI dan STIE agar menyiapkan mahasiswa terbaik, tidak hanya dari sisi kemampuan akademik, tetapi juga memiliki etika dan karakter yang terjaga. 

Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam pendataan langsung ke lapangan merupakan pengalaman emas yang sulit didapatkan di ruang kuliah semata.

“Kami ingin adik‑adik mahasiswa belajar berinteraksi langsung dengan masyarakat, merasakan denyut kehidupan warga, dan memahami bahwa setiap data yang mereka kumpulkan memiliki arti besar bagi masa depan daerah ini. Pastikan mereka membawa sikap sopan, santun, dan tanggung jawab tinggi saat bertugas,” tegasnya.

Di penghujung arahan, Wakil Bupati menyampaikan salam dan dukungan dari Bupati Solok. Ia berharap kemitraan ini berjalan lancar, terus terjalin dalam jangka panjang, dan mampu melahirkan data statistik yang semakin berkualitas, akuntabel, serta bermanfaat besar dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Solok.(80)

Di Zona Merah, Negara Masih Sibuk Memeriksa Berkas    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Rumah Mardius
Di tepi sungai yang sewaktu-waktu dapat kembali mengamuk, Mardius dan keluarganya masih bertahan di sebuah rumah yang nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal. (Foto/Marjafri). 

SEJAK
galodo melanda Nagari Sumpur pada November 2025 hingga awal Mei 2026, hampir dua tahun telah berlalu. Namun bagi Mardius dan keluarganya, waktu seolah berhenti di titik yang sama: menunggu kepastian atas hak paling mendasar, yakni tempat tinggal yang aman.

Di tepi sungai yang sewaktu-waktu dapat kembali mengamuk, Mardius dan keluarganya masih bertahan di sebuah rumah yang nyaris tak lagi layak disebut tempat tinggal. Dinding rapuh, struktur menggantung di bibir aliran air, dan ancaman maut menjadi bagian dari rutinitas harian. Mereka tidur di bawah atap yang setiap saat dapat berubah menjadi puing.

Ironisnya, yang dianggap belum lengkap justru bukan ancaman yang mereka hadapi, melainkan administrasi yang menyertai nasib mereka.

Istri Mardius, saat dikonfirmasi awak media pada Rabu (13/5/2026), menyatakan hingga saat ini belum ada kejelasan maupun tindakan konkret terkait bantuan hunian sementara (huntara).

“Sekitar dua puluh hari yang lalu kami diklarifikasi di kantor wali nagari terkait video yang saya unggah tentang nasib yang kami alami. Namun hingga saat ini tidak ada solusi ataupun kepastian, dan kami masih tinggal di gubuk dalam kawasan zona merah ini.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa jarak antara empati dan keputusan birokrasi bisa terbentang sangat jauh. Klarifikasi telah dilakukan, keluhan telah disampaikan, kondisi telah diketahui, tetapi penyelesaian tetap belum tampak.

Galodo telah menghancurkan rumah dan rasa aman, tetapi tampaknya belum cukup kuat untuk mengguncang meja-meja birokrasi. Di lapangan, bahaya terlihat nyata. Namun di atas kertas, keselamatan masih harus menunggu kepastian status, verifikasi, dan sinkronisasi data.

Pemerintah nagari semestinya menjadi pihak pertama yang memahami kondisi warganya. Mereka mengetahui siapa yang benar-benar tinggal di lokasi terdampak, siapa yang kehilangan tempat berlindung, dan siapa yang setiap malam tidur dalam kecemasan. Ketika fakta sejelas itu tidak mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi yang berpihak pada keselamatan warga, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar ketelitian administratif, melainkan kepekaan terhadap kemanusiaan.

Pemerintah kabupaten memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa bantuan bencana diberikan berdasarkan kondisi riil di lapangan, bukan semata-mata berdasarkan formalitas kepemilikan. Bencana tidak memilih korban berdasarkan nama yang tercantum pada dokumen. Air bah tidak bertanya siapa pemilik sertifikat. Yang diterjang adalah manusia, bukan arsip.

Pemerintah provinsi pun tidak dapat sekadar berdiri sebagai penonton. Ketika satu keluarga masih bertahan di zona merah tanpa kepastian tempat tinggal yang aman, itu adalah sinyal bahwa koordinasi dan pengawasan belum berjalan sebagaimana mestinya. Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara seharusnya diukur dari kecepatannya melindungi warga, bukan dari panjangnya proses yang harus dilalui.

Kita kerap mendengar bahwa negara hadir untuk melindungi segenap bangsa. Namun bagi keluarga yang masih tinggal di bawah ancaman bencana, kehadiran itu terasa seperti janji yang tertahan di antara meja disposisi, rapat koordinasi, dan berkas yang belum selesai.

Mardius dan keluarganya tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya membutuhkan tempat yang lebih aman untuk bertahan hidup. Permintaan yang sangat sederhana, tetapi tampaknya terlalu rumit bagi sistem yang sering kali lebih sibuk memastikan kelengkapan data daripada memastikan keselamatan manusia.

Ketika rumah yang nyaris roboh dianggap belum cukup membuktikan bahwa seseorang membutuhkan perlindungan, kita patut bertanya: apakah nilai nyawa warga kini harus menunggu stempel dan tanda tangan sebelum dianggap layak diselamatkan?

Dan pertanyaan yang paling pahit sekaligus paling mendasar adalah: setelah hampir dua tahun hidup dalam ancaman di kawasan berbahaya, apakah pemerintah akan menunggu mereka benar-benar binasa terlebih dahulu, baru kemudian mencatat mereka sebagai korban yang berhak menerima bantuan ?

Ditulis oleh: Marjafri, wartawan dan anak nagari Sawahlunto

F Peran Lima Tolak Keras Boikot Produk PT Semen Padang    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

F Peran Lima Tolak Keras Boikot Produk PT Semen Padang
Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Perwakilan Anak Nagari Limau Manih (F Peran Lima) mendatangi kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Rabu (13/5/2026). (Foto/Novrianto Ucox). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Perwakilan Anak Nagari Limau Manih (F Peran Lima) mendatangi kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Rabu (13/5/2026).

Ketua Koordinator Aksi, Iwan Sanek mengatakan, "ini merupakan buntut dari protes keras terhadap sebuah kelompok yang secara sepihak mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Anak Nagari Limau Manis," katanya.

"Kami mendesak perangkat KAN beserta jajaran Ninik Mamak agar tidak memberikan ruang maupun legitimasi terhadap keberadaan aliansi tersebut," katanya.

Dalam tuntutannya, F Peran Lima meminta agar segala bentuk kegiatan yang membawa nama aliansi itu segera dibekukan dari bumi Limau Manis.

Terancamnya Harmoni CSR PT Semen Padang

Iwan Sanek menyebut, "pemicu utama gejolak ini adalah adanya pernyataan sepihak dari aliansi tersebut yang menyuarakan ancaman pemboikotan terhadap produk pabrik PT Semen Padang," sebutnya didampingi Eka Putra Kurniadi, ST Ketua F Peran Lima.

Langkah provokatif itu sontak memantik amarah warga.

Masyarakat menilai tindakan boikot sangat gegabah dan berpotensi merusak ekosistem Corporate Social Responsibility (CSR) PT Semen Padang—sebuah program yang telah berjalan harmonis dan memberikan manfaat nyata bagi hajat hidup warga setempat selama puluhan tahun.

Iwan Sanek meluruskan narasi tersebut, ia dengan tegas menepis klaim aliansi yang merasa mewakili suara masyarakat Limau Manis.

”Kami tidak pernah mengakui adanya Aliansi Anak Nagari Limau Manis tersebut, serta menolak keras pernyataan pengancaman pemboikotan. Bubarkan Aliansi Anak Nagari Limau Manih beserta oknumnya,” tegas Iwan Sanek dengan nada lantang di hadapan para perangkat adat.

Ultimatum Penyegelan Kantor KAN

Terlihat dari pantauan media, aksi damai ini sempat diwarnai dengan ketegangan ketika massa menjatuhkan ultimatum yang cukup keras.

"Kami tidak akan segan-segan menyegel bangunan Kantor KAN Limau Manis apabila aspirasi mereka diabaikan. Bagi kami pembubaran aliansi adalah harga mati yang harus segera dieksekusi oleh para pemangku adat," ujar Iwan.

Perwakilan tokoh adat setempat, Datuak Rajo Kamunyang, akhirnya angkat bicara. 

Upaya persuasif dilakukan guna meredam tensi massa yang memadati area pelataran kantor KAN. Ia berjanji akan merespons tuntutan Anak Nagari ini dengan serius.

”Kami akan mempertimbangkan kembali hal ini dan akan segera menindaklanjutinya,” ungkap Datuak Rajo Kamunyang, mencoba menenangkan massa. (*) 

Laporan: Novrianto Ucox

Dinas Kominfo Sawahlunto Dukung Uji Coba SPMB Online, Penerimaan Siswa SMP Kini Sepenuhnya Digital    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Kota Sawahlunto
Perwakilan operator sekolah dasar (SD) di setiap kecamatan serta operator sekolah menengah pertama (SMP) se-Kota Sawahlunto sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027. (Foto/Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Sawahlunto menjadi narasumber dalam kegiatan uji coba Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Online yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto.

Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan operator sekolah dasar (SD) di setiap kecamatan serta operator sekolah menengah pertama (SMP) se-Kota Sawahlunto sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, Dr. Asril, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa proses penerimaan peserta didik baru untuk jenjang SMP di Kota Sawahlunto akan dilaksanakan sepenuhnya secara daring.

Menurut Asril, penerapan sistem tersebut merupakan langkah konkret digitalisasi sektor pendidikan yang sejalan dengan misi Pemerintah Kota Sawahlunto untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi informasi (smart governance).

Dalam kegiatan itu, Dinas Kominfo Sawahlunto menghadirkan tim teknis yang dipimpin Kepala Bidang Layanan E-Government, Egi Delvita, S.T., M.CIO. Tim memberikan penjelasan mengenai mekanisme penggunaan aplikasi serta simulasi proses pendaftaran.

Kepala Dinas Kominfo Kota Sawahlunto, Adrius Putra, S.Pt., mengatakan aplikasi SPMB Online tersebut merupakan sistem yang untuk pertama kalinya diterapkan di Kota Sawahlunto dan dikembangkan secara mandiri oleh tim teknis Dinas Kominfo.

“Aplikasi ini dibangun langsung oleh tim Dinas Kominfo Kota Sawahlunto. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada dukungan seluruh pihak agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan optimal,” ujar Adrius Putra.

Pemerintah Kota Sawahlunto berharap penerapan SPMB Online dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas proses penerimaan siswa baru, sekaligus memperkuat transformasi digital di bidang pendidikan. (*) 

Pewarta: marjafri

Hujan dan Angin Kencang Disertai Petir di Kota Padang, Masyarakat Diimbau Meningkatkan Kewaspadaan saat Beraktivitas    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Hujan dan Angin Kencang Disertai Petir di Kota Padang, Masyarakat Diimbau Meningkatkan Kewaspadaan saat Beraktivitas
Wilayah Kota Padang saat ini mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai angin kencang dan kilat/petir. (Foto/Tom). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Berdasarkan data peringatan dini BMKG pada Rabu (13/5/2026) sore, wilayah Kota Padang saat ini mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai angin kencang dan kilat/petir. 

Kondisi ini terpantau merata di 11 kecamatan, mulai dari Padang Selatan, Padang Timur, Padang Barat, Padang Utara, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, Pauh, Kuranji, Nanggalo, hingga Koto Tangah.

Menyikapi kondisi cuaca tersebut, Wali Kota Padang Fadly Amran mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas, terutama dalam mengantisipasi potensi dampak bencana hidrometeorologi seperti genangan air, banjir bandang, hingga tanah longsor di wilayah yang rawan.

Peningkatan kewaspadaan ini diharapkan dapat dilakukan secara mandiri oleh warga dengan tetap memantau lingkungan sekitar dan memastikan saluran air di sekitar tempat tinggal berfungsi dengan baik. 

“Jajaran kedaruratan kita standby, namun kita juga minta masyarakat ikut  meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Fadly Amran. 

Kepala BPBD Kota Padang Kalaksa BPBD Kota Padang Hendri Zulviton menyampaikan Tim Pusdalops terus memantau potensi perkembangan cuaca di seluruh titik wilayah Kota Padang, dan mengingatkan pengendara untuk meningkatkan kehati-hatian dalam berkendara.

"Pengendara yang sedang dalam perjalanan juga diminta untuk lebih berhati-hati terhadap jalanan yang licin serta potensi pohon tumbang akibat hembusan angin," kata Hendri Zulviton.

Pemerintah Kota (Pemko) Padang melalui instansi terkait tetap bersiaga memantau situasi di seluruh titik wilayah. 

Warga disarankan untuk tetap tenang, membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, dan terus mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi guna memastikan keamanan bersama selama hujan berlangsung.

"Jika masyarakat menemukan kejadian darurat akibat cuaca ekstrem ini, segera hubungi Call Centre 112," ujarnya. (Taufik/Viqi/Defrianto)

Sawahlunto Siap Jadi Tuan Rumah Kejurnaswil Kempo 2026    
Rabu, Mei 13, 2026

On Rabu, Mei 13, 2026

Sawahlunto Siap Jadi Tuan Rumah Kejurnaswil Kempo 2026
Kota Sawahlunto resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional Wilayah (Kejurnaswil) Kempo yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni 2026. (Foto/Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Kota Sawahlunto resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional Wilayah (Kejurnaswil) Kempo yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni 2026. Pemerintah Kota Sawahlunto menyatakan kesiapan penuh untuk menyukseskan ajang olahraga tingkat nasional tersebut.

Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, menyampaikan hal itu usai menerima audiensi panitia pelaksana Kejurnaswil di Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (12/5/2026). 

Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek persiapan, terutama terkait kesiapan sarana dan prasarana pendukung.

“Fokus utama yang kami bahas adalah kesiapan fasilitas pertandingan serta akomodasi bagi para kontingen yang akan datang dari berbagai daerah,” kata Riyanda Putra.

Menurutnya, penyelenggaraan Kejurnaswil Kempo 2026 diharapkan menjadi ajang bagi para atlet untuk mengasah kemampuan dan menunjukkan prestasi, baik pada nomor perorangan maupun beregu, sekaligus membuka peluang lahirnya atlet-atlet potensial yang dapat bersaing di tingkat yang lebih tinggi.

Selain mendorong prestasi olahraga, Pemerintah Kota Sawahlunto menilai kejuaraan ini juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. 

Kehadiran atlet, ofisial, dan pendukung diperkirakan akan meningkatkan tingkat hunian hotel, homestay, serta rumah sewa milik warga.

Pemerintah Kota Sawahlunto berharap pelaksanaan Kejurnaswil Kempo 2026 dapat berlangsung sukses dan semakin memperkuat citra kota sebagai daerah yang siap menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional.

“Semoga kejuaraan ini berjalan lancar, melahirkan kenshi-kenshi unggulan bagi Indonesia, sekaligus mempromosikan potensi olahraga dan pariwisata Kota Sawahlunto,” ujar Riyanda. (*) 

Pewarta: Marjafri