 |
| Stasiun kereta api Kayutanam. Kayutanam, sebuah nagari yang terletak di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. (Foto: Armaidi Tanjung). |
BENTENGSUMBAR.COM - Kayutanam, sebuah nagari yang terletak di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.
Nagari tersebut sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda sudah ada stasiun kereta api menjadi salah satu titik penting yang menghubungkan wilayah pantai barat pulau Sumatera dengan daratan perbukitan Bukit Barisan.
Di nagari tersebut, Mohammad Sjafei mendirikan mendirikan Indonesisch Nederlandsche School (INS) pada 31 Oktober 1926. M.Sjafei seorang tokoh pejuang pergerakan dan pendidikan Indonesia, mendirikan sebuah lembaga pendidikan menengah swasta yang bercorak khusus di Kayutanam.
INS didirikan sebagai antitesis terhadap pendidikan kolonial Belanda. Di mana sekolah ini berfokus pada kemandirian, kreativitas dan pendidikan aktif (berpikir, berbuat, berbicara) untuk mencetak kader bangsa yang berdikari.
Selain itu, di Kayutanam terdapat rumah sakit yang mudah dijangkau dari daerah darek di daratan Minangkabau dan dari pantai barat Sumatera.
Namun rumah sakit tersebut kini tak lagi terdengar di Kayutanam. Konon dihancurkan saat perjuangan melawan kolonial Belanda dalam perang mempertahan kemerdekaan.
Hanya sisa-sisa jejak bangunan tua yang sudah agak sulit dilacak, bekas dari bangunan rumah sakit tersebut pernah penulis telusuri dari informasi masyarakat setempat.
Di Kayutanam juga terdapat stasiun Kereta Api, sebagai moda transportasi terpenting di zaman kolonial Belanda yang menghubungkan daerah darek (daratan) dengan pantai barat pulau Sumatera.
Kehadiran stasiun tersebut tentu memiliki arti penting dalam mobilitas penduduk Kayutanam dan sekitarnya, baik ke daerah darek maupun ke wilayah pantai, yakni Padang sebagai salah satu pusat kegiatan perdagangan di pantai barat Sumatera.
Setelah bertahun-tahun jalan kereta api Padang menuju daerah darek (Padang Panjang, Bukittinggi, Solok hingga ke Sawahlunto) tidak lagi beroperasi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) kembali mengaktifkan dalam melayani penumpang.
“Bahkan KAI Divisi Regional II Sumatera Barat resmi menghadirkan relasi baru KA Lembah Anai rute Stasiun Kayutanam–Stasiun Padang pulang-pergi (PP) yang mulai beroperasi pada 1 Januari 2026. Kehadiran relasi ini disambut antusias oleh masyarakat, tercermin dari tingkat keterisian tempat duduk yang hampir penuh pada hari pertama pengoperasian,” kata Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, Rabu (22/4/2026) kepada BentengSumbar.com di kantornya Simpang Haru Padang.
Menurut Reza Shahab, pengembangan relasi KA Lembah Anai hingga Stasiun Padang merupakan langkah strategis KAI dalam menyediakan transportasi publik yang semakin mudah diakses, efisien, serta selaras dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Sumatera Barat.
“Berdasarkan data pembaruan hingga pukul 17.00 WIB, jumlah penumpang KA Lembah Anai relasi Kayutanam–Padang (PP) pada hari pertama mencapai 982 pelanggan atau sekitar 85 persen dari total kapasitas tempat duduk yang disediakan yakni 1.152 tempat duduk. Angka ini masih bersifat dinamis karena penjualan tiket masih terus berlangsung,” ujar Reza.
KA Lembah Anai melayani enam frekuensi perjalanan setiap hari untuk masing-masing arah. Adapun jadwal perjalanan sebagai berikut: 1. Berangkat pukul 05.30 WIB, tiba pukul 07.04 WIB, 2. Berangkat pukul 11.40 WIB, tiba pukul 13.16 WIB, 3. Berangkat pukul 16.20 WIB, tiba pukul 17.57 WIB.
Sedangkan dari relasi Padang–Kayutanam dimulai berangkat pukul 08.35 WIB, tiba pukul 10.10 WIB, berangkat pukul 14.10 WIB, tiba pukul 15.45 WIB, berangkat pukul 18.55 WIB, tiba pukul 20.30 WIB.
Dikatakan, dengan jadwal keberangkatan yang teratur serta tarif yang terjangkau, KA Lembah Anai diharapkan menjadi moda transportasi andalan masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari aktivitas harian, pendidikan, pekerjaan, hingga perjalanan wisata.
“KAI Divre II Sumatera Barat menetapkan tarif yang sangat terjangkau. Untuk relasi Padang–Duku maupun sebaliknya, tarif tiket sebesar Rp3.000, sedangkan untuk relasi Padang–Kayutanam maupun sebaliknya ditetapkan sebesar Rp5.000,” kata Reza.
Tidak mengherankan, KAI Padang – Kayutanam selalu penuh, baik pagi maupun sore hari. Para mahasiswa kuliah di Padang, maupun pegawai yang bekerja di Padang lebih memilih menggunakan kereta api sebagai moda transportasi ketimbang menggunakan kendaraan bermotor sendirian atau naik bus umum jurusan Padang – Bukittinggi/Payakumbuh, atau dari Batusangkar.
“KAI mengajak masyarakat Sumatera Barat untuk memanfaatkan KA Lembah Anai sebagai moda transportasi yang ramah lingkungan, bebas macet, serta memberikan pengalaman perjalanan yang aman dan nyaman. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, baik dari sisi ketepatan waktu, kenyamanan, maupun keselamatan, serta menyesuaikan kapasitas dan pola operasi sesuai dinamika kebutuhan masyarakat,” tutup Reza.
Seorang mahasiswa Universitas Negeri Padang yang mengakui bernama Yani menyebutkan, lebih senang naik kereta api ini ke Padang pergi kuliah ke kampus. Di samping harga tiketnya relatif murah, ongkosnya, naik kereta api tidak banyak kena udara di perjalanan.
“Saat pergi ke stasiun diantar saudara. Jika pulang dijeput lagi dengan motor,” tutur Yani, di atas kereta dalam perjalanan pulang kuliah Selasa (21/4) kemaren kepada Bentengsumbar.com.
Yani mengaku tinggal di Sungai Durian, lumayan jauh dari stasiun. Daripada naik bus, saya lebih senang naik kereta api. Rasanya lebih aman, meski harus diantar saudara ke stasiun Sicincin. “Apalagi sekarang jadwal kuliah kebanyakan siang, sehingga tidak terburu-buru ke kampus. Selain itu, stasiun pemberhentian di Air Tawar hanya jalan kaki sampai di kampus,” kata Yani yang masih menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri di kawasan Air Tawar. (*
Pewarta: Armaidi Tanjung