 |
| Lukman merasa lega karena dirinya terlindungi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). (Foto: Hermiko). |
BENTENGSUMBAR.COM – Bayangan harus menjalani cuci darah dua kali seminggu seumur hidup sempat membuat Lukman Arif, warga Kabupaten Tanah Datar, diliputi kecemasan. Bukan hanya karena penyakit gagal ginjal yang dideritanya, tetapi juga karena biaya pengobatan jangka panjang yang tidak sedikit.
Kekhawatiran itu semakin besar ketika dokter menyampaikan bahwa kerusakan fungsi ginjal membuat Lukman harus menjalani terapi hemodialisis secara rutin. Dengan perkiraan biaya yang didengarnya mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta setiap sesi, pengobatan dua kali seminggu tentu menjadi beban berat jika harus ditanggung sendiri.
Namun, di tengah ketakutan tersebut, Lukman merasa lega karena dirinya terlindungi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, ia merasakan manfaat JKN dalam menjalani rangkaian pengobatan yang dibutuhkannya.
Lukman sebelumnya tidak menyangka gejala seperti mudah lelah, sering buang air kecil, nafsu makan menurun hingga berat badan terus turun merupakan tanda masalah kesehatan serius. Ia sempat menganggap keluhan tersebut sebagai kondisi biasa.
Sebelumnya, Lukman juga telah mengidap diabetes hingga harus menjalani amputasi pada jari kaki. Kondisinya yang semakin memburuk membuat keluarga membawanya ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Setelah menjalani pemeriksaan, ia kemudian dirujuk ke RSUD Prof. Dr. M. Ali Hanafiah.
“Sebelum tahu menderita gagal ginjal, saya sudah mengidap diabetes hingga jari kaki diamputasi. Gejalanya saya sering merasa lelah, sering buang air kecil, nafsu makan berkurang sampai berat badan turun. Awalnya saya menganggap biasa saja. Setelah diperiksa, ternyata penyakitnya sudah cukup serius,” kata Lukman.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah Lukman tinggi dan kondisi ginjalnya mengalami gangguan serius. Dokter kemudian menyampaikan bahwa fungsi ginjalnya sudah mengalami kerusakan sehingga membutuhkan terapi cuci darah secara rutin.
Diagnosis tersebut menjadi pukulan sekaligus pelajaran besar bagi Lukman. Ia mengaku langsung memikirkan konsekuensi pengobatan yang harus dijalaninya dalam jangka panjang.
“Dokter mengatakan ke depannya saya harus rutin cuci darah. Saat mendengar itu, tentu saya khawatir karena saya tahu pengobatannya tidak sebentar dan membutuhkan biaya yang besar. Yang saya dengar, biaya cuci darah saja butuh sekitar Rp800.000–Rp1.000.000 per sesinya dan itu dilakukan dua kali seminggu selama seumur hidup,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Lukman menyadari bahwa penyakit kronis tidak hanya menguras kondisi fisik, tetapi juga berpotensi menguras kemampuan ekonomi keluarga. Ia mengaku sebelumnya memiliki pola hidup yang kurang sehat, seperti sering mengonsumsi minuman manis dan jarang minum air putih.
Ketika berbagai gejala mulai muncul, Lukman justru memilih mengabaikannya. Keputusan tersebut kini menjadi penyesalan sekaligus peringatan bagi dirinya agar masyarakat tidak melakukan kesalahan yang sama.
“Dari pengalaman ini saya belajar, jangan menunggu sakit parah baru memeriksakan diri. Kalau tubuh sudah memberikan tanda, sebaiknya segera diperiksa. Saya dulu mengabaikan gejala dan akhirnya harus menghadapi kondisi seperti sekarang,” tuturnya.
Di tengah perjuangannya menghadapi penyakit kronis, kepesertaan JKN menjadi sumber ketenangan bagi Lukman. Ia mengaku bersyukur biaya pelayanan kesehatan yang dijalaninya dapat dijamin melalui program tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
“Bersyukur biaya pengobatan saya sampai hari ini dan ke depannya dijamin JKN. Kalau membayangkan harus membayar sendiri biaya rawat inap, operasi amputasi, sampai cuci darah secara rutin, tentu sangat berat bagi saya,” ungkap Lukman.
Namun, pengalaman Lukman juga menjadi pengingat bahwa memiliki kartu JKN saja tidak cukup. Status kepesertaan harus dijaga tetap aktif dengan memenuhi kewajiban pembayaran iuran secara rutin.
Lukman mengaku pernah mengalami tunggakan iuran karena kondisi ekonomi. Ketika kemudian membutuhkan pelayanan kesehatan dan menjalani rawat inap, ia harus menyelesaikan kewajibannya serta dikenakan denda pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sekarang saya semakin paham bahwa menjadi peserta JKN saja tidak cukup. Status kepesertaannya pun harus dijaga tetap aktif dengan rutin membayar iuran. Kita tidak pernah tahu kapan akan sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan,” katanya.
Telah menjadi peserta JKN sejak awal program tersebut diluncurkan pemerintah, Lukman menilai keberadaan JKN sangat membantu masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi dan harus menghadapi penyakit dengan biaya pengobatan jangka panjang.
“Bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan seperti saya dan sudah lanjut usia ini, JKN sangat membantu. Iurannya jauh lebih ringan dibandingkan risiko biaya ketika kita menghadapi penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang,” ucapnya.
Lukman berharap masyarakat tidak menunggu jatuh sakit untuk memikirkan perlindungan kesehatan. Ia mengajak warga menjaga pola hidup, mengurangi konsumsi minuman manis, memperbanyak air putih, menjaga pola makan, serta segera memeriksakan diri ketika muncul keluhan kesehatan.
“Ayo menjadi peserta JKN dan pastikan status kepesertaannya tetap aktif dengan rutin membayar iuran. Jangan tunggu sakit baru peduli kesehatan. Saya juga mengajak masyarakat mengurangi minuman manis, memperbanyak air putih, menjaga pola makan, dan segera memeriksakan diri jika ada keluhan,” pesannya.
Bagi Lukman, JKN bukan sekadar kartu untuk berobat. Ketika penyakit kronis memaksanya menghadapi pengobatan panjang, jaminan kesehatan tersebut menjadi perlindungan yang membuatnya bisa lebih fokus menjalani perawatan tanpa terus dihantui bayang-bayang biaya.
“Sekarang saya tahu, kesehatan itu tidak bisa ditunda dan perlindungan juga tidak boleh disiapkan saat sudah sakit. Semoga JKN terus berjalan, pelayanannya semakin baik, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” tutup Lukman. (HM)