HEADLINE
Ketika Meja Birokrasi Hampir Mengubur Tambang Batubara Ombilin: "Perlawanan Pantai Barat yang Menyelamatkan Sawahlunto (1934–1935)"    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Ketika Meja Birokrasi Hampir Mengubur Tambang Batubara Ombilin: "Perlawanan Pantai Barat yang Menyelamatkan Sawahlunto (1934–1935)"
Bagi para pejabat di Batavia dan Bandung, rencana itu mungkin tampak sebagai persoalan angka, laporan produksi, serta perhitungan untung dan rugi. (Foto Ilustrasi: Marjafri). 

PADA
pertengahan dekade 1930-an, nasib Sawahlunto nyaris ditentukan oleh sebuah keputusan administratif yang lahir jauh dari lembah Ombilin. Di tengah tekanan ekonomi yang melanda Hindia Belanda akibat krisis dunia, pemerintah kolonial mulai mempertimbangkan langkah-langkah penghematan yang dianggap perlu untuk memangkas beban keuangan negara. Salah satu opsi yang muncul adalah menutup Tambang Batubara Ombilin, perusahaan tambang milik pemerintah yang selama puluhan tahun menjadi denyut kehidupan Sawahlunto.

Bagi para pejabat di Batavia dan Bandung, rencana itu mungkin tampak sebagai persoalan angka, laporan produksi, serta perhitungan untung dan rugi. Namun bagi masyarakat Pantai Barat Sumatra, keputusan tersebut berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah tambang, melainkan masa depan sebuah kota, ribuan mata pencaharian, jaringan perdagangan regional, hingga roda ekonomi yang telah berputar selama puluhan tahun di sekitar industri batubara Ombilin.

Sebuah Keputusan yang Datang Terlalu Cepat

Pada tahun 1934, pemerintah kolonial secara serius mempertimbangkan likuidasi Tambang Ombilin dengan alasan bahwa operasi tambang itu tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai.

Kabar tersebut segera memicu kegelisahan luas. Penolakan tidak hanya datang dari kalangan yang berkaitan langsung dengan industri tambang, tetapi juga dari masyarakat kota-kota di Pantai Barat Sumatra, kalangan pedagang, serta berbagai lembaga ekonomi yang melihat dampak besar yang akan ditimbulkan apabila Ombilin ditutup.

Sejumlah pihak menunjukkan bahwa masih terdapat ruang penghematan yang dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan keberlangsungan tambang. Mereka juga mengingatkan bahwa konsekuensi sosial dan ekonomi dari penutupan itu akan jauh lebih besar dibanding manfaat yang diharapkan pemerintah.

Tekanan publik yang semakin menguat akhirnya memaksa pemerintah meninjau kembali rencana tersebut. Pembicaraan lanjutan pun dilakukan.

Pantai Barat Bergerak

Penolakan terhadap rencana penutupan Ombilin berkembang menjadi gerakan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Pada 23 September 1934, Komite Aksi Menentang Penutupan Tambang Ombilin mengadakan rapat besar di Padang yang dihadiri banyak peserta. Dalam pertemuan itu disepakati untuk mengajukan permohonan audiensi kepada Gubernur Jenderal.

Dalam waktu singkat, komite tersebut berhasil mengumpulkan sekitar 2.000 tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan mempertahankan Ombilin.

Dukungan juga datang dari luar Sumatra. Pengurus Besar Serikat Pertambangan "Ons Belang" mengirimkan telegram yang menyatakan penolakannya terhadap rencana penutupan tambang dan menyampaikan solidaritas kepada masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan Ombilin.

Gelombang penolakan itu menunjukkan bahwa persoalan Ombilin telah berkembang menjadi isu yang melampaui batas Sawahlunto. Tambang tersebut dipandang sebagai aset ekonomi yang memiliki arti penting bagi kawasan yang lebih luas.

Dewan Kota Turut Bersuara

Perlawanan tidak berhenti pada rapat-rapat umum.

Pada awal Oktober 1934, anggota Dewan Kota Padang, Uiterwijk, mengajukan sebuah mosi resmi yang mendesak pemerintah mempertimbangkan kembali rencana penutupan Tambang Ombilin.

Dalam mosi tersebut ditegaskan bahwa penghentian operasi tambang akan menimbulkan kerugian besar, bukan hanya bagi Kota Padang, tetapi juga bagi seluruh Pantai Barat Sumatra.

Dewan Kota Padang diminta menyampaikan sikap tersebut kepada pemerintah dan mengajak Dewan Kota Fort de Kock, Sawahlunto, serta Dewan Afdeeling Padang Panjang untuk memberikan dukungan serupa.

Langkah ini memperlihatkan bahwa penolakan terhadap likuidasi Ombilin telah memasuki jalur politik dan kelembagaan. Persoalan yang semula dianggap sebagai urusan teknis pertambangan berubah menjadi kepentingan bersama masyarakat Pantai Barat.

Inspeksi yang Mengubah Arah Keputusan

Di tengah perdebatan yang semakin menghangat, Kepala Departemen Urusan Ekonomi, Van Buuren, melakukan perjalanan ke Sumatra.

Kunjungan itu menjadi titik penting dalam sejarah Ombilin.

Sebelumnya, rencana likuidasi telah mengemuka dan nyaris menjadi keputusan resmi. Namun setelah melihat langsung kondisi di lapangan serta mendengar berbagai masukan, muncul penilaian yang berbeda.

Menurut laporan yang kemudian disiarkan kantor berita Aneta, Direktur Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum berpendapat bahwa likuidasi Ombilin merupakan langkah yang keliru.

Ia menilai bahwa penghematan lebih lanjut masih sangat mungkin dilakukan sehingga biaya produksi dapat ditekan kembali. Selain itu, organisasi dan pengelolaan kompleks pertambangan Ombilin dinilai berjalan dengan baik. Dari sudut pandang ekonomi, keberadaan tambang tersebut masih layak dipertahankan.

Penilaian itu menjadi titik balik yang sangat menentukan.

Sebab jika tidak ada peninjauan ulang dan kunjungan lapangan tersebut, sangat mungkin keputusan penutupan telah dijalankan hanya berdasarkan pertimbangan administratif dari balik meja birokrasi.

Peran Ir. W. Holleman

Dalam periode yang sama, Kepala Tambang Ombilin, Ir. W. Holleman, juga terlibat dalam berbagai pembicaraan penting mengenai masa depan perusahaan.

Ia melakukan perjalanan dinas ke Bandung untuk membahas langsung persoalan kemungkinan penutupan tambang bersama pimpinan Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum.

Berbagai laporan pada masa itu menunjukkan bahwa Ombilin masih memiliki peluang untuk dipertahankan. Potensi penghematan, perbaikan efisiensi, serta prospek operasional tambang menjadi faktor yang memperkuat argumentasi agar keputusan penutupan dibatalkan.

Perjuangan mempertahankan Ombilin tidak hanya berlangsung di ruang-ruang rapat pemerintah, tetapi juga melalui penyusunan laporan, kajian teknis, dan upaya meyakinkan para pengambil keputusan bahwa tambang tersebut masih mempunyai masa depan.

Sawahlunto Menunggu Putusan

Selama berbulan-bulan, masyarakat Sawahlunto hidup dalam ketidakpastian.

Bagi kota yang dibangun oleh industri batubara, kemungkinan penutupan Ombilin berarti ancaman langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Aktivitas perdagangan, jasa, transportasi, hingga keberlangsungan ribuan keluarga bergantung pada keberadaan tambang.

Karena itu, setiap perkembangan mengenai nasib Ombilin diikuti dengan penuh perhatian.

Harapan dan kecemasan berjalan berdampingan.

Ketika Kabar Gembira Datang

Akhirnya, pada tahun 1935, kabar yang ditunggu-tunggu tiba.

Rencana penutupan Tambang Ombilin tidak dilanjutkan.

Sawahlunto pun meledak dalam suasana kegembiraan.

Laporan pers masa itu menggambarkan bagaimana seluruh kota merayakan keputusan tersebut. Para pekerja tambang berarak mengelilingi kota. Di tiga puncak bukit yang mengitari Sawahlunto dinyalakan api unggun sebagai lambang sukacita. Pertunjukan kembang api turut memeriahkan malam perayaan.

Acara kemudian dilanjutkan di gedung perkumpulan Glück Auf, salah satu simbol kehidupan komunitas tambang pada masa itu.

Sebagai bentuk penghormatan atas perannya dalam mempertahankan keberlangsungan tambang, lapangan di depan gedung perkantoran bahkan diberi nama Lapangan Ir. Holleman.

Panitia perayaan juga mengirimkan telegram ucapan terima kasih kepada Direktur Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum.

Lebih dari Sekadar Tambang

Peristiwa tahun 1934–1935 menunjukkan bahwa sejarah Ombilin tidak hanya berkisah tentang batubara, mesin, atau produksi tambang.

Di baliknya terdapat kisah tentang bagaimana sebuah keputusan administratif dapat memengaruhi kehidupan ribuan orang, serta bagaimana masyarakat, dunia usaha, lembaga perwakilan, dan para pekerja mampu membentuk gelombang perlawanan yang akhirnya mengubah arah kebijakan pemerintah.

Jika keputusan itu benar-benar dijalankan pada tahun 1934, sejarah Sawahlunto mungkin akan berbeda sama sekali.

Namun sejarah mengambil jalan lain.

Tambang Batubara Ombilin tetap beroperasi, Sawahlunto terhindar dari pukulan ekonomi yang berat, dan Pantai Barat Sumatra membuktikan bahwa suara kolektif masyarakat mampu mengubah sebuah keputusan yang hampir saja menjatuhkan vonis bagi jantung kehidupan kota tambang tersebut.

disunting dari:
- Bredasche courant, 25-09-1934
- Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-10-1934
- De Avondpost, 6 Desember 1934.
- Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 3 September 1935.

penyunting: Marjafri - Jurnalis, Pendiri dan Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto

Guntur Abdurrahman Terpilih sebagai Ketua DPC PERADI Padang Periode 2026–2030    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Guntur Abdurrahman Terpilih sebagai Ketua DPC PERADI Padang Periode 2026–2030
DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Padang telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Cabang (Muscab) Pertama Tahun 2026. (Foto: Emil). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Padang telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Cabang (Muscab) Pertama Tahun 2026 yang berlangsung secara demokratis, tertib, dan penuh semangat kebersamaan pada Minggu, 21 Juni 2026, di Padang.

Muscab yang merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat cabang tersebut dihadiri oleh anggota PERADI Padang dengan tingkat kehadiran mencapai lebih dari 75 persen dari jumlah anggota yang memiliki hak suara, sehingga memenuhi ketentuan quorum sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

Agenda utama Muscab adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya serta pemilihan Ketua DPC PERADI Padang untuk masa bakti 2026–2030.

Dalam proses pemilihan yang berlangsung secara terbuka, demokratis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme organisasi, terdapat dua kandidat yang maju sebagai calon Ketua DPC PERADI Padang, yaitu:

- Guntur Abdurrahman, S.H., M.H.
-Fauzan Zakir, S.H., M.H.

Dengan hasil pemilihan Guntur Abdurrahman unggul dalam pemilihan, peserta Muscab menetapkan Guntur Abdurrahman, S.H., M.H., sebagai Ketua DPC PERADI Padang Periode 2026–2030.

Dalam visi kepemimpinannya, Guntur Abdurrahman mengusung gagasan "PERADI Padang sebagai Rumah Gadang Advokat Yang Menaungi Seluruh Anggota ", sebuah konsep yang menempatkan organisasi sebagai wadah bersama bagi seluruh advokat untuk meningkatkan profesionalisme, menjaga marwah profesi, memperkuat kompetensi, memperluas pengabdian kepada masyarakat, serta membangun organisasi yang solid, modern, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Ketua terpilih menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota PERADI Padang yang telah berpartisipasi aktif dalam Muscab terutama kepada Fauzan Zakir, S.H., M.H. yang telah membidani  lahirnya dan memimpin DPC Peradi Padang sejak awal berdirinya, serta memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin organisasi selama empat tahun ke depan.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk merangkul seluruh anggota tanpa membedakan pilihan dalam Muscab serta mengajak seluruh elemen organisasi untuk bersama-sama membangun PERADI Padang yang semakin Soid, kuat, profesional, dan berintegritas.

"Muscab telah usai, kini saatnya seluruh anggota bersatu kembali untuk membangun PERADI Padang sebagai rumah bersama advokat. Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi organisasi, namun persatuan dan pengabdian kepada profesi harus tetap menjadi tujuan utama kita bersama. Terutama ucapan terima kasih banyak kepada Bg Fauzan Zakir yang telah membesarkan sejak lahirnya DPC Peradi Padang, hingga bisa juga terlaksananya Muscab pertama pada hari ini," ujar Guntur Abdurrahman.

Muscab DPC PERADI Padang Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan organisasi advokat di Sumatera Barat, sekaligus menegaskan komitmen PERADI Padang dalam menjaga independensi profesi advokat sebagai salah satu pilar penegakan hukum dan akses keadilan. (Emil) 

Data Akurat Kunci Pembangunan, Bupati Solok Pimpin Apel Siaga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Data Akurat Kunci Pembangunan, Bupati Solok Pimpin Apel Siaga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Pemerintah Kabupaten Solok menggelar Apel Siaga Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan Kantor Bupati, Senin (22/6). (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Pemerintah Kabupaten Solok menggelar Apel Siaga Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan Kantor Bupati, Senin (22/6).

Kegiatan ini menjadi bukti kesiapan penuh seluruh elemen pemangku kepentingan untuk mendukung kelancaran agenda nasional yang menjadi fondasi utama perencanaan pembangunan daerah.

Apel dipimpin langsung oleh Bupati Solok Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H. Hadir mendampingi Wakil Bupati H. Candra, S.HI., Ketua TP-PKK Ny. Kurnia Jon Firman Pandu, S.Si., M.Si., unsur Forkopimda, Penjabat Sekda Jefrizal, S.Pt., M.T., Kepala BPS Kabupaten Solok Bambang Suryanggono, S.ST., M.Ec.Dev., para pimpinan OPD, camat, wali nagari, perwakilan BUMN/BUMD, serta ratusan petugas sensus dan ASN.

Dalam arahannya, Bupati menegaskan bahwa sensus bukan sekadar pendataan rutin, melainkan investasi penting bagi masa depan daerah.

“Data yang akurat akan melahirkan kebijakan yang tepat sasaran. Jika potensi ekonomi tidak tercatat dengan baik, maka tidak akan terlihat dalam perencanaan dan tidak akan mendapatkan dukungan pengembangan. Inilah mengapa keberhasilan sensus menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Solok memiliki kekayaan potensi di berbagai sektor—mulai dari perdagangan, pendidikan, kesehatan, konstruksi, hingga pariwisata—yang digerakkan oleh ribuan pelaku usaha. Semua kekuatan ini harus terdokumentasi secara lengkap agar bisa dioptimalkan demi kesejahteraan masyarakat.

Bupati juga menginstruksikan seluruh perangkat daerah untuk bersinergi maksimal: memastikan fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, pelaku UMKM, hingga perusahaan konstruksi semuanya tercakup dalam pendataan. 

Ia juga mengimbau masyarakat agar menyambut kedatangan petugas dengan baik dan memberikan keterangan yang benar, sekaligus berpesan kepada petugas untuk bekerja dengan santun, menghormati adat setempat, serta menjangkau seluruh pelosok tanpa terkecuali.

“Tidak boleh ada wilayah yang terlewat, tidak boleh ada usaha yang tidak terdata. Kita targetkan Kabupaten Solok menjadi salah satu daerah terbaik dalam pelaksanaan sensus ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Solok menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan nyata yang diberikan pemerintah daerah sejak tahap persiapan. 

Kolaborasi ini, katanya, menjadi modal kuat agar sensus berjalan lancar dan menghasilkan data yang berkualitas tinggi.

Acara ditutup dengan penyematan atribut secara simbolis kepada petugas sensus sebagai tanda resmi dimulainya pelaksanaan pendataan. 

Dengan semangat gotong royong, seluruh pihak optimis Sensus Ekonomi 2026 akan melahirkan data andal yang menjadi pijakan menuju pembangunan Kabupaten Solok yang lebih maju, adil, dan sejahtera.(80)

Kerugian Capai Rp1,9 Triliun, Bupati Solok Pimpin Evaluasi Penetapan Status Bencana Hidrometeorologi    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Kerugian Capai Rp1,9 Triliun, Bupati Solok Pimpin Evaluasi Penetapan Status Bencana Hidrometeorologi
Bupati Solok Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H., memimpin Rapat Evaluasi Penetapan Status Bencana Hidrometeorologi yang digelar di Aula Gedung C Sekretariat Daerah, Senin (22/6). (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Bupati Solok Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H., memimpin Rapat Evaluasi Penetapan Status Bencana Hidrometeorologi yang digelar di Aula Gedung C Sekretariat Daerah, Senin (22/6).

Forum strategis ini menjadi wadah penting untuk menyatukan langkah mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana yang berdampak luas di wilayah setempat.

Turut hadir Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I., Ketua TP-PKK Ny. Nia Jon Firman Pandu, S.H., unsur Forkopimda, Penjabat Sekda Jefrizal, S.Pt., M.T., Kepala BPS, para asisten, staf ahli, kepala perangkat daerah, serta seluruh camat se-Kabupaten Solok.

Dalam arahannya, Bupati menyatakan bahwa rapat ini menjadi titik tolak penting untuk menentukan kebijakan terbaik menyusul dampak bencana hidrometeorologi yang menimbulkan kerugian mencapai hampir Rp1,9 triliun. 

Oleh karena itu, dibutuhkan langkah terpadu agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

“Seluruh data dan dokumen yang telah disusun, termasuk rencana rehabilitasi dan rekonstruksi, akan menjadi dasar utama kami. Kami harap ada masukan dari seluruh elemen agar keputusan yang diambil benar-benar memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah semata, melainkan kerja sama erat dengan pemerintah provinsi dan pusat. 

Targetnya, seluruh usulan dan program pemulihan dapat direalisasikan secara bertahap hingga tahun 2028, sehingga kesejahteraan warga yang terdampak dapat segera pulih.

“Kami ingin melalui forum ini lahir langkah strategis yang nyata, agar penanganan kebencanaan tidak berhenti pada bantuan darurat saja, tetapi berlanjut hingga pemulihan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara utuh,” tambahnya.

Rapat ini juga menjadi kesempatan untuk memastikan seluruh dokumen pendukung dan rencana tindak lanjut disusun secara lengkap dan akurat, sebagai syarat untuk mendapatkan dukungan sumber daya guna membangun kembali Kabupaten Solok menjadi lebih tangguh ke depannya.(80)

Perkuat Ukhuwah dan Dakwah, BKMT Kabupaten Solok Gelar Pertemuan Bulanan di Muaro Paneh    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Perkuat Ukhuwah dan Dakwah, BKMT Kabupaten Solok Gelar Pertemuan Bulanan di Muaro Paneh
Acara dibuka dengan prosesi pelantikan Pengurus Majelis Taklim Yasin (MTY) Kecamatan Bukit Sundi masa bakti 2025–2030. (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Solok menggelar pertemuan bulanan di Masjid Raya Muaro Paneh, Kecamatan Bukit Sundi. 

Kegiatan ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antar pengurus dan anggota majelis taklim, sekaligus memperkuat peran organisasi dalam mencetak generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Acara dibuka dengan prosesi pelantikan Pengurus Majelis Taklim Yasin (MTY) Kecamatan Bukit Sundi masa bakti 2025–2030. 

Kepengurusan yang dipimpin Syafrudin M, S.Ag ini dilantik secara simbolis melalui pemasangan jaket kepengurusan sebagai tanda dimulainya amanah mengemban tugas selama lima tahun ke depan.

Turut hadir memberikan arahan Wakil Bupati Solok Candra, perwakilan Kementerian Agama, Camat Bukit Sundi, Kepala KUA, Ketua BKMT Kabupaten Solok Dr. H. Zulkifli, S.Ag, MM.CWC, tokoh masyarakat, serta ratusan pengurus majelis taklim dari berbagai nagari.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan bahwa peran BKMT sangat selaras dengan visi pemerintah daerah mewujudkan masyarakat yang religius, beradab, dan sejahtera.

Menurutnya, majelis taklim adalah garda terdepan dalam memberikan pencerahan dan pembinaan akhlak di tengah masyarakat.

“Kami melihat majelis taklim sebagai mitra strategis. Oleh karena itu, pemerintah terus berkomitmen mendukung penuh, baik melalui fasilitas maupun program pembinaan, termasuk alokasi anggaran untuk masjid percontohan di setiap kecamatan agar semakin aktif memberi manfaat bagi jamaah,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta menjadi agen dakwah di lingkungan masing-masing.

Dakwah tidak harus selalu di mimbar, melainkan bisa dimulai dari keluarga, tetangga, dan mengajak orang lain menuju kebaikan.

Sementara itu, suasana kegiatan semakin khidmat dan penuh makna dengan tausiyah yang disampaikan oleh Buya Prof. Dr. H. Rahmat Hidayat, M.A., M.Pd., Guru Besar UIN Mahmud Yunus Batusangkar. 

Beliau menekankan pentingnya menjaga kebersamaan, memperdalam ilmu agama, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pertemuan ini, diharapkan sinergi antar majelis taklim semakin erat, pembinaan keagamaan semakin merata, dan terciptanya masyarakat Kabupaten Solok yang semakin kokoh dalam iman dan saling mendukung demi kemajuan bersama.(80)

Aksi Bersih Pantai UKO Unisbar  di Pantai Talao Pauh Pariaman    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Aksi Bersih Pantai UKO Unisbar  di Pantai Talao Pauh Pariaman
Kegiatan ini sinergi antara Rempala, Unit Kegiatan Olahraga(UKO), KSR PMI, dan HIMA FIKES Unisbar Pariamam. (Foto: Armaidi). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Semangat kolaborasi, kepedulian sosial, dan gaya hidup sehat tercermin dalam kegiatan Aksi Kolaborasi Sosial, Kesehatan, dan Pelestarian Lingkungan Universitas Sumatera Barat (Unisbar) yang diselenggarakan Sabtu-Minggu ( 20–21/6/2026) di kawasan Pantai Talao Pauh, Kota Pariaman.

Kegiatan ini sinergi antara Rempala, Unit Kegiatan Olahraga(UKO), KSR PMI, dan HIMA FIKES Unisbar Pariamam yang bersama-sama menggabungkan aksi sosial, kesehatan, olahraga, dan pelestarian lingkungan dalam satu rangkaian kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ketua Pelaksana Aprizayudi Pratama dari Rempala dan didampingi o Wakil Ketua Pelaksana Irsyadul 'Ibad Tri Machyudi mengatakan, selama dua hari pelaksanaan, peserta dan masyarakat setempat terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan lingkungan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi bersih pantai yang melibatkan seluruh peserta untuk membersihkan kawasan Pantai Talao Pauh dari berbagai jenis sampah. 

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap kelestarian lingkungan pesisir sekaligus upaya menjaga keindahan destinasi wisata daerah.

Selain aksi lingkungan, panitia juga mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar. 

Melalui kegiatan ini, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya sekaligus memperoleh edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat, kata Aprizayudi.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik, kegiatan turut diramaikan dengan jalan sehat yang diikuti oleh peserta dan warga sekitar.

Kegiatan ini menjadi sarana membangun kebersamaan sekaligus mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup aktif dan sehat.

Semangat sportivitas juga ditunjukkan melalui pelaksanaan turnamen bola pantai dan voli pantai yang berlangsung meriah di kawasan pantai. 

Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan antar peserta, organisasi, dan masyarakat yang hadir.

Pada malam harinya, peserta mengikuti forum diskusi dan refleksi bersama yang membahas pentingnya kolaborasi lintas organisasi dalam kegiatan sosial, kesehatan, olahraga, dan pelestarian lingkungan. 

Forum ini menjadi ruang berbagi gagasan serta memperkuat komitmen bersama untuk terus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Aprizayudi Pratama menyampaikan  kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pengabdian sekaligus upaya membangun sinergi antar organisasi.

"Kegiatan ini membuktikan  kolaborasi mampu menghadirkan program yang menyentuh banyak aspek sekaligus, mulai dari lingkungan, kesehatan, hingga olahraga. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.

Wakil Ketua Pelaksana, Irsyadul 'Ibad Tri Machyudi, mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

"Keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dan semangat gotong royong seluruh panitia, peserta, dan masyarakat. Kami berharap semangat kolaborasi ini dapat terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat," ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Rempala, UKO, KSR PMI, dan HIMA FIKES menunjukkan bahwa kolaborasi antarorganisasi mampu menciptakan dampak positif yang nyata. 

Dengan menggabungkan aksi sosial, kesehatan, olahraga, dan pelestarian lingkungan, kegiatan ini menjadi wujud pengabdian mahasiswa dan pemuda dalam membangun masyarakat yang sehat, aktif, dan peduli terhadap lingkungan.

Mengusung semangat "Di Dalam Lingkungan yang Bersih Terdapat Jiwa yang Sehat dan Raga yang Kuat", kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya berbagai kolaborasi positif lainnya demi kemajuan masyarakat dan kelestarian lingkungan Kota Pariaman. (R/at)

RUPS PT WWS Bahas RKAP 2026, Kunjungan Waterboom Sawahlunto Naik 26,4 Persen    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

RUPS PT WWS Bahas RKAP 2026, Kunjungan Waterboom Sawahlunto Naik 26,4 Persen
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Wahana Wisata Sawahlunto (WWS) yang digelar di Ruang Rapat Balai Kota Sawahlunto, Senin (22/6/2026). (Foto: Diskominfo). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Wahana Wisata Sawahlunto (WWS) yang digelar di Ruang Rapat Balai Kota Sawahlunto, Senin (22/6/2026).

Rapat tersebut membahas Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) serta evaluasi kinerja PT WWS sebagai badan usaha milik daerah yang bergerak di sektor pariwisata.

Dalam kapasitasnya sebagai Komisaris sekaligus pemegang saham mayoritas, Wali Kota Riyanda Putra didampingi Wakil Wali Kota Jeffry Hibatullah, Sekretaris Daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah terkait, serta Direktur PT WWS Adriyan Yudistiara bersama jajaran manajemen perusahaan.

Pada rapat tersebut, manajemen PT WWS melaporkan peningkatan jumlah kunjungan ke Waterboom Sawahlunto sepanjang tahun 2026. 

Jumlah pengunjung tercatat sebanyak 23.344 orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 18.468 orang atau tumbuh sebesar 26,4 persen.

Selain pertumbuhan jumlah pengunjung, perusahaan juga melaporkan sejumlah langkah pembenahan yang dilakukan, antara lain efisiensi struktur biaya, penerapan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dalam pengelolaan keuangan, serta upaya peningkatan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan perbaikan kondisi neraca perusahaan.

Wali Kota Riyanda Putra menyampaikan apresiasi atas perkembangan kinerja yang ditunjukkan PT WWS. Menurutnya, peningkatan kunjungan wisata tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Ia berharap PT WWS terus meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga kebersihan kawasan wisata, serta menghadirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata di Kota Sawahlunto.

Pemerintah Kota Sawahlunto menilai pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam memperkuat sektor pariwisata sekaligus meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan daerah. (*)

Pewarta: Marjafri

Pedagang Ikan Pasar Sapan Keluhkan Penjualan Ikan di Kawasan Silo Sawahlunto    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Pedagang Ikan Pasar Sapan Keluhkan Penjualan Ikan di Kawasan Silo Sawahlunto
Sejumlah pedagang di Pasar Sapan, Kota Sawahlunto, mengeluhkan aktivitas penjualan ikan yang dilakukan oleh pedagang di kawasan Silo pada hari pasar. (Foto: Marjafri). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Sejumlah pedagang di Pasar Sapan, Kota Sawahlunto, mengeluhkan aktivitas penjualan ikan yang dilakukan oleh pedagang di kawasan Silo pada hari pasar. 

Keluhan tersebut disampaikan karena lokasi tersebut bukan merupakan area yang diperuntukkan sebagai pasar ikan, melainkan kawasan pusat kuliner kota.

Salah seorang pedagang di Pasar Sapan menghubungi awak media dan menyampaikan keberatannya terhadap kondisi yang telah berlangsung dalam waktu cukup lama tersebut. 

Menurutnya, keberadaan pedagang ikan yang berjualan di kawasan Silo berdampak pada berkurangnya jumlah pembeli yang datang ke Pasar Sapan.

"Calon pembeli yang seharusnya datang ke Pasar Sapan lebih memilih membeli ikan di kawasan Silo karena lokasinya berada di pinggir jalan dan lebih mudah dijangkau," ujar Don kepada awak media Senin, 22/6.

Selain mempengaruhi aktivitas perdagangan di Pasar Sapan, keberadaan pedagang ikan di tepi jalan kawasan Silo juga dikeluhkan karena dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas. 

Aktivitas jual beli yang berlangsung di bahu jalan dinilai berpotensi menghambat arus kendaraan, terutama pada hari pasar saat mobilitas masyarakat meningkat.

Keluhan lainnya berkaitan dengan kondisi lingkungan di sekitar pusat kuliner Silo. 

Aroma amis ikan yang menyebar dari lokasi penjualan disebut turut dirasakan oleh pedagang dan pengunjung yang beraktivitas di kawasan tersebut.

Para pedagang berharap instansi terkait dapat melakukan penataan dan pengawasan sesuai dengan peruntukan kawasan yang telah ditetapkan.

Mereka juga meminta adanya langkah yang dapat menjamin seluruh pedagang menjalankan aktivitas usaha pada lokasi yang telah disediakan.

Menurut para pedagang, persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum terlihat adanya penanganan yang memberikan kepastian bagi para pelaku usaha yang berjualan di lokasi resmi.

Mereka menilai penataan kawasan perdagangan dan kuliner perlu dilakukan secara konsisten agar tidak menimbulkan ketimpangan di lapangan. 

Selain itu, penegakan aturan yang berlaku diharapkan dapat mencegah munculnya praktik serupa yang berpotensi diikuti oleh pedagang lainnya di kemudian hari. (*) 

Pewarta: Marjafri

Gubernur Mahyeldi: Sumbar Perlu Terobosan Pembiayaan dan Optimalisasi Aset untuk Percepat Pembangunan    
Senin, Juni 22, 2026

On Senin, Juni 22, 2026

Gubernur Mahyeldi: Sumbar Perlu Terobosan Pembiayaan dan Optimalisasi Aset untuk Percepat Pembangunan
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat memberikatan keterangan ke awak media terkait penyampaian gubernur. (Foto: adpsb). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) terus berupaya melakukan berbagai terobosan untuk menjaga keberlanjutan pembangunan daerah di tengah dinamika fiskal yang terjadi. 

Salah satunya melalui optimalisasi pengelolaan aset daerah serta pengembangan sumber pembiayaan alternatif yang tidak membebani masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat menyampaikan jawaban Gubernur atas Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 dan Ranperda Perubahan Perda Nomor 8 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Rapat Paripurna DPRD Sumbar, di Padang, Senin (22/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh fraksi DPRD atas perhatian, masukan, dan dukungan yang diberikan terhadap pengelolaan pemerintahan dan keuangan daerah. 

Ia juga mengapresiasi dukungan DPRD atas capaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang kembali diraih Pemprov Sumbar berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas laporan keuangan Tahun Anggaran 2025.

Menurut Gubernur, berbagai pertanyaan, pendalaman, dan masukan yang disampaikan fraksi-fraksi menjadi bagian penting dalam penyempurnaan kebijakan daerah serta evaluasi terhadap pelaksanaan program pembangunan.

“Berbagai pertanyaan dan pendalaman yang disampaikan fraksi-fraksi akan menjadi bahan penting bagi kami dalam pembahasan lebih lanjut bersama komisi dan perangkat daerah. Hal ini sekaligus menjadi sarana evaluasi terhadap berbagai catatan dan rekomendasi yang diberikan BPK,” ujar Gubernur Mahyeldi.

Ia mengungkap, salah satu aspek yang mendapat perhatian serius dalam pandangan umum fraksi adalah tentang pengelolaan aset daerah. 

Sebagian besar fraksi menilai aset pemerintah daerah memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan pendapatan daerah apabila dikelola secara lebih tertib, produktif, dan berorientasi pada manfaat ekonomi.

Mahyeldi mengatakan, selama ini perhatian terhadap pengelolaan aset, memang belum seoptimal pengelolaan keuangan daerah.

Karena itu, berbagai masukan DPRD terkait pendataan, penataan, dan pemanfaatan aset akan ditindaklanjuti secara serius oleh seluruh perangkat daerah.

Selain optimalisasi aset, Gubernur menyebut, daerah perlu segera menghadirkan inovasi dalam pembiayaan pembangunan mengingat kapasitas fiskal daerah yang semakin terbatas dari tahun ke tahun. 

Guna merespon kondisi tersebut, Mahyeldi mengaku saat ini Pemprov Sumbar tengah menyiapkan creative finacing untuk alternatif pembiayaan pembangunan melalui instrumen Sukuk dan obligasi daerah.

Ia menjelaskan, Sumbar menjadi salah satu daerah yang terdepan dalam mempersiapkan implementasi Sukuk sebagai instrumen pembiayaan pembangunan di Indonesia.

Bahkan, kesiapan tersebut mendapat perhatian dari Islamic Development Bank (IsDB) yang mengundangnya untuk mempelajari dan melihat langsung praktik-praktik creative finacing untuk pembiayaan pembangunan di Jepang.

“Kita perlu mencari sumber-sumber pembiayaan alternatif untuk mempercepat pembangunan. Sukuk menjadi salah satu instrumen yang kita siapkan agar pembangunan tetap berjalan meskipun kemampuan APBD memiliki keterbatasan,” kata Gubernur.

Lebih lanjut, Gubernur juga menyoroti besarnya potensi  remitansi masyarakat perantau Minangkabau yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp20 triliun setiap tahun. 

Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah apabila mampu dikelola dan diarahkan untuk mendukung pembangunan melalui sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan nagari.

Ia menegaskan, di tengah berbagai kebijakan efisiensi dan penyesuaian fiskal nasional, daerah dituntut semakin kreatif dalam menggali sumber-sumber pendanaan pembangunan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Pembangunan tidak boleh berhenti. Meskipun kondisi anggaran mengalami fluktuasi, pemerintah daerah bersama DPRD harus terus menghadirkan berbagai terobosan agar pembangunan tetap berjalan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.

Rapat paripurna tersebut dihadiri pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Sumbar, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, serta seluruh kepala perangkat daerah di lingkungan Pemprov Sumbar. (adpsb/rmz/bud)