PADANG

SUMBAR

Iklan 728x90px

Ruki Bantah Usulkan Revisi UU KPK, Arsul Sani: Ada Bukti Dokumen Resmi

          Ruki Bantah Usulkan Revisi UU KPK, Arsul Sani: Ada Bukti Dokumen Resmi
Foto: anggota Komisi III DPR Arsul Sani.
Ruki Bantah Usulkan Revisi UU KPK, Arsul Sani: Ada Bukti Dokumen Resmi
BENTENGSUMBAR.COM - Mantan Plt Ketua KPK, Taufiequrrachman Ruki membantah anggota Komisi III DPR Arsul Sani yang menyebut pimpinan KPK pada periodenya mengusulkan revisi UU KPK. Arsul menegaskan bukti yang ditunjukannya mengenai arsip rapat Komisi III-KPK merupakan dokumen resmi.

"Saya tidak ingin berbantah-bantahan dengan Pak Ruki. Beliau adalah orang yang kami hormati. Namun bukti dokumen di bawah ini adalah bahan RDP Komisi III dengan KPK pada saat pimpinan KPK di bawah Pak Ruki. Dokumen ini juga memuat soal revisi UU KPK. Ini dokumen rapat resmi yang bersifat mengikat bagi kedua pihak (DPR dan KPK) untuk dilaksanakan," kata Arsul kepada wartawan, Minggu, 8 September 2019.

Arsul kemudian menanggapi soal perubahan sikap pimpinan KPK terhadap Revisi UU KPK. Menurut dia, perubahan sikap itu harus disampaikan dalam forum resmi.

"Kalau jubir KPK bilang bahwa pimpinan KPK saat ini sudah berubah sikapnya soal revisi UU KPK, maka supaya punya kekuatan hukum dan mengikat, sikap yang baru itu harus dinyatakan dalam forum yang sama yakni RDP Komisi III dengan KPK, bukan diumumkan di teras gedung KPK," ujar Arsul.

Arsul sebelumnya menunjukkan salah satu arsip rapat Komisi III bersama KPK. Dokumen yang ditunjukkan Arsul Sani yakni arsip rapat pada 19 November 2015.

Dalam arsip rapat yang ditunjukkan Arsul Sani itu, Jumat, 6 September 2019, ada bagian soal '5 Poin Masukan dari KPK'. Poin keempat (IV) dalam arsip itu tertulis tentang penyempurnaan revisi UU KPK. Berikut ini bunyinya:

V. Terkait Penyempurnaan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

1. Revisi tetap dalam rangka untuk memperkuat kelembagaan KPK, bukan untuk melakukan pelemahan terhadap lembaga KPK.
2. Penguatan kelembagaan tersebut, berfokus kepada pengaturan beberapa ketentuan dalam UU KPK, yaitu:
a. Kewenangan KPK dalam melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan,
b. Pembentukan Dewan Pengawas KPK,
c. Kewenangan KPK dalam mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan dan Penuntutan,
d. Kewenangan KPK dalam mengangkat Penyelidik, Penyidik, dan Penuntut Umum.

Jika ditelusuri, Agus Rahardjo, Laode M Syarif, Saut Situmorang, Alexander Marwata dan Basaria Pandjaitan baru dilantik pada kurun waktu Desember 2015. KPK pada periode November 2015 masih diisi Plt Ketua KPK Taufiequrachman Ruki, Indriyanto Seno Adji dan Johan Budi. Dua nama lainnya yakni Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain.

Mantan Plt Ketua KPK, Taufiequrrachman Ruki kemudian membantah tudingan Arsul yang menyebut pimpinan KPK pada periodenya sebagai inisiator revisi UU KPK. Ruki menegaskan kala itu, justru pihaknya tak setuju revisi UU KPK.

Ruki mengatakan ketidaksetujuan revisi UU KPK bahkan disampaikan dalam surat jawaban pimpinan KPK atas surat Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta pendapat dan pandangan KPK mengenai revisi UU KPK. Dalam surat itu, kata dia, tak pernah ada usulan dari pihaknya kepada pemerintah untuk merevisi UU KPK.

"(Surat itu) ditandatangani kami berlima. Tidak cuma Taufik sendiri, tapi lima pimpinan. Apa jawaban kami terhadap surat itu? Pertama pada prinsipnya kami pimpinan KPK tidak setuju keinginan beberapa anggota DPR untuk merevisi UU KPK," kata Ruki kepada wartawan, Sabtu, 7 September 2019.

(Source: detik.com)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *