PADANG

SUMBAR

Iklan 728x90px

Sri Mulyani: Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tidak dari Utang, Tapi ..

          Sri Mulyani: Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tidak dari Utang, Tapi ..
Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Sri Mulyani: Sumber Pertumbuhan Ekonomi Tidak dari Utang, Tapi ..
BENTENGSUMBAR.COM - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi memiliki ambisi untuk membangun perekonomian yang berkelanjutan. Karena itu, pemerintah ingin mentransformasikan kebijakan pertumbuhan ekonomi supaya tidak bersumber dari utang atau pinjaman.

"Jadi nantinya sebagian besar pertumbuhan ekonomi kami, tidak datang dari utang, tapi lebih dari privat sektor, sejalan dengan datangnya modal asing ke Indonesia," kata Sri Mulyani saat memberikan keynote speech dalam acara FT-AAIB Summit 2019 di Grand Hyaat, Jakarta Pusat, Selasa 26 November 2019.

Karenanya, untuk mendukung kebijakan itu, Pemerintah Indonesia memiliki prioritas untuk memperbaiki atau menjaga iklim investasi menjadi fokus utama. Termasuk, salah satunya dengan mengeliminasi banyak sekali hambatan investasi dari sisi kebijakan atau perizinan.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini juga mengatakan dengan strategi ini, pemerintah berharap Indonesia akan menjadi negara berkembang yang bisa tetap tumbuh tinggi dan sehat. Serta juga tetap atraktif atau menarik bagi investor yang akan berinvestasi.

"Lewat perbaikan iklim investasi ini kami berharap bisa menyediakan ruang bagi banyak investor untuk datang ke Indonesia, baik domestik maupun asing, untuk membangun ekonomi bersama kami," kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan III 2019 sebesar 5,02 persen masih ditopang oleh konsumsi domestik. BPS mencatat, porsi konsumsi mencapai 56,28 persen, sedangkan investasi baru mencapai 32,32 persen.

Lebih lanjut, kata Sri Mulyani, pemerintah juga akan fokus untuk memperbaiki neraca pembayaran. Sebab, setiap ekonomi domestik tumbuh, tren kondisi current account deficit (CAD) selalu ikut meningkat, akibat dari defisit akibat impor minyak dan gas (migas).

Karenanya, diharapkan dengan adanya investasi di sektor energi, termasuk migas bisa membantu neraca pembayaran untuk tetap tumbuh. Dan pada saat bersamaan ikut menekan angka defisit. Saat ini, Indonesia telah memiliki banyak sekali jenis investasi di sektor energi, terutama investasi di sektor energi baru terbarukan atau renewable energy, yang masih perlu untuk dikembangkan.

(Source: tempo.co)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *