Advertorial

Daerah

Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah

          Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah
Foto: Ilustrasi. Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah.
Menikahi Janda, Laksana Berjuang di Jalan Allah
BENTENGSUMBAR.COM - Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Bahkan, setiap ibadah dalam Islam mengandung aspek sosial dan kemanusiaan, disamping sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Tentu anda sebagai umat muslim sudah tau mengenai riwayat dari seorang Rasulullah Saw sendiri, beliau juga memutuskan untuk menikah dengan seorang janda. Apabila pilihan seperti ini dinilai sebagai tindakan yang baik, maka Insya Allah menikahi seorang janda bagi umat seperti kita pun bisa dinilai sebagai suatu kebaikan.

Pilihan menikahi seorang janda bisa dikategorikan ke dalam tindakan yang akan membawa berkah dan juga anugerah bagi kita. Apalagi jika niatnya karena Allah untuk melindungi janda tersebut dari fitnah atau pun hal – hal buruk lainnya yang mungkin bisa terjadi.

Salah satu bentuk kepedulian yang dianjurkan dalam Islam adalah memperhatikan para janda. Bahkan Islam mengajarkan, orang yang menghidupi para janda laksana orang yang berjuang di jalan Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari." (HR. Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982). 

Termasuk dalam menolong para janda adalah dengan menikahi mereka. Namun janda manakah yang dimaksud?

Disebutkan dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim (18: 93-94), ada ulama yang mengatakan bahwa armalah yang disebut dalam hadits adalah wanita yang tidak memiliki suami, baik ia sudah menikah ataukah belum. Ada ulama pula yang menyatakan bahwa armalah adalah wanita yang diceraikan oleh suaminya.

Ada pendapat lain dari Ibnu Qutaibah bahwa disebut armalah karena kemiskinan, yaitu tidak ada lagi bekal nafkah yang ia miliki karena ketiadaan suami. Armalah bisa disebut untuk seseorang yang bekalnya tidak ada lagi. Demikian nukilan dari Imam Nawawi.

Dari pendapat terakhir tersebut, janda yang punya keutamaan untuk disantuni adalah janda yang ditinggal mati suami atau janda yang diceraikan dan sulit untuk menanggung nafkah untuk keluarga. Adapun janda kaya, tidak termasuk di dalamnya.

Walau memang menikahi perawan ada keutamaannya. Namun menikahi janda tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan ada pria yang membutuhkan janda dibanding gadis perawan. Semisal seorang pria ingin mencari wanita yang lebih dewasa darinya sehingga bisa mengurus adik-adiknya. 

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia pernah berkata, “Aku pernah menikahi seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bertanya, “Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Ia menjawab, “Iya sudah.” “Yang kau nikahi gadis ataukah janda?”, tanya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun menjawab, “Janda.” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja, bukankah engkau bisa bersenang-senang dengannya?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara perempuan. Aku khawatir jika menikahi perawan malah nanti ia sibuk bermain dengan saudara-saudara perempuanku. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu berarti alasanmu. Ingatlah, wanita itu dinikahi karena seseorang memandang agama, harta, dan kecantikannya. Pilihlah yang baik agamanya, engkau pasti menuai keberuntungan.” (HR. Muslim no. 715).

Ditulis Oleh: Zamri Yahya, SHI., Mantan Penyuluh Agama di Kantor KUA Kuranji
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »