Headline

Opini

Parlemen

Sports

Jika Jadi Presiden, Rocky Gerung akan Kesampingkan Nasionalisme: itu Ideologi Purba

          Jika Jadi Presiden, Rocky Gerung akan Kesampingkan Nasionalisme: itu Ideologi Purba
Rocky Gerung mengatakan bahwa ia tidak akan berkutat nasionalisme jika dirinya menjadi Presiden sebab itu adalah ideologi purba yang tak lagi relevan.

Jika Jadi Presiden, Rocky Gerung akan Kesampingkan Nasionalisme: itu Ideologi Purba
BENTENGSUMBAR.COM - Rocky Gerung mengatakan bahwa ia tidak akan berkutat nasionalisme jika dirinya menjadi Presiden sebab itu adalah ideologi purba yang tak lagi relevan.


Pernyataannya itu dapat dilihat dalam video berjudul ‘Jika Rocky Gerung Jadi Presiden, Ini yang Akan Dilakukan’ yang tayang di YouTube Rocky Gerung pada Jumat, 14 Mei 2021.


Awalnya, Rocky Gerung mengatakan bahwa dalam konsep kepemimipinan ke depan, kapital itu harus disingkarkan dari proses politik. Menurutnya, politik harus dibiarkan tumbuh secara otentik.


“Karena itu, kalau saya Presiden, pertama-tama yang saya halangi adalah membisniskan politik sambil menjadikan Indonesia itu sebagai pulau peradaban baru dengan tema lingkungan. Itu yang ada di pikiran saya,” kata Rocky.


Rocky melanjutkan bahwa ia ingin mengucapkan hal di atas sebagai bentuk pedagogi kepada partai-partai yang sedang bersaing.


Pengamat politik itu mengatakan bahwa ia ingin lepaskan energi kebebasan untuk memilih, bukan pada tuntunan kapital, tapi pada tuntunan untuk menghasilkan keadilan.


“Kan ini sebetulnya temanya. Tapi kalau kita misalnya masih bicara tentang apa ideologi nasionalisme.. Nasionalisme (itu) ideologi purba. Ideologi yang sebetulnya udah nggak boleh diucapkan,” kata Rocky Gerung.


“Karena nasionalisme dulu dipakai untuk menghalangi atau mengusir penjajah. Nah sekarang, penjajahnya ada di dalam. Masa kita nasionalisme ke dalam? Nasionalisme kan ideologi keluar sebetulnya, kan,” sambungnya.


Rocky menilai bahwa cara berpikir nasionalistik dalam pengertian beberapa partai sekarang itu sebetulnya mengecilkan kemerdekaan manusia.


“Nasionalisme itu selalu bersifat mengeksploitasi psikologi publik, seolah marah terus. Jadi, politik kita itu marah terus karena sifat nasionalisme kita,” jelasnya.


Rocky membedakan antara nasionalisme sebagai tuntunan etis yaitu upaya untuk mempersatukan yang berbeda dengan nasionalisme yang justru berupaya menghilangkan perbedaan.


“Ini gagalnya, gagal paham kita seolah-seolah demi nasionalisme kita nggak boleh berbeda. Padahal sebetulnya, nasionalisme itu untuk melindungi perbedaan kita keluar,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Rocky mengatakan bahwa idenya tentang Indonesia secara radikal adalah paradigma baru, paradigma di dalam ideologi-ideologi yang sedang bertumbuh.


“Di dunia, orang masuk pada ideologi perdamaian, ideologi justice, ideologi environment, ideologi gender, ideologi feminism, macam-macam, ideologi milenials,” tandas Rocky Gerung.


Source: terkini.id

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...