Headline

Opini

PADANG

Sports

Peredaran Narkoba Naik Selama Pandemi, Puan: Corona Bahayakan Kesehatan, Narkoba Binasakan Masa Depan!

          Peredaran Narkoba Naik Selama Pandemi, Puan: Corona Bahayakan Kesehatan, Narkoba Binasakan Masa Depan!
BENTENGSUMBAR.COM - Peredaran narkotika selama masa pandemi Covid-19 menunjukkan pergerakan yang meningkat. Oleh karena itu, Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa pertarungan bangsa melawan narkoba tidak boleh kendur meskipun Corona melanda. Covid-19 memang membahayakan kesehatan, namun narkoba bisa membinasakan masa depan.
 
“Daya rusak narkoba bagi sebuah bangsa sudah sangat nyata. Apalagi banyak korban adalah anak-anak muda, ini sangat mengkhawatirkan. Kalau generasi muda kita rusak oleh narkoba, mau dibawa kemana masa depan bangsa ini?” kata Puan dalam keterangan tertulisnya.
 
Mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini merasa tak habis pikir bahwa di masa pandemi seperti ini, saat semua orang sibuk mencari solusi, masih saja ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang menyelundupkan zat mematikan ini.
 
“Transportasi lintas negara sempat terputus, banyak negara lockdown selama pandemi. Tapi ternyata jaringan penyelundup narkotika internasional ini banyak sekali akalnya. Oleh karena itu kita tidak boleh melonggarkan kewaspadaan,” ujar Puan.
 
Badan Narkotika Nasional (BNN) melaporkan pada bulan Februari 2021 sudah lebih dari 1 ton narkotika jenis sabu yang disita, belum lagi jenis ganja juga cukup banyak. Lalu hingga bulan April, Direktorat Jenderal Bea Cukai mencatat 422 kasus upaya penyelundupan narkoba dengan berat bruto mencapai 1,9 ton telah berhasil digagalkan oleh Polri.
 
“Ini nilainya sangat tinggi bisa lebih dari Rp1 triliun dan bisa mengancam 10 juta orang Indonesia,” ucap Puan mengutip data dari Kementerian Keuangan.
 
Oleh karena itu, dia meminta pemerintah untuk waspada terhadap kegiatan ilegal, termasuk penyelundupan narkoba. Selain mengancam jiwa dan masa depan generasi bangsa, narkoba juga mengakibatkan kerugian ekonomi dan sosial hingga Rp 63 triliun per tahun.
 
“Penyalahgunaan narkoba meningkat dari tahun ke tahun, artinya belum mengena himbauan untuk menjauhi narkoba ini. Masyarakat masih banyak yang belum paham bahaya narkoba,” ucap Puan.
 
Menurut dia, seringkali orang tidak mengetahui tanda-tanda seseorang ketagihan mengkonsumsi narkoba. Ketika ketahuan pun kadang sudah terlambat.
 
BNN melaporkan pada 2014 sekitar 4,2 juta warga Indonesia menggunakan narkoba. Jumlah ini memang sempat turun menjadi 3,3 juta jiwa dengan rentang usia 10 sampai 59 tahun pada 2017. Namun, tren penyalahgunaan narkoba kembali naik menjadi 3,6 juta pada 2019.
 
“Para generasi muda kita juga harus diberi edukasi untuk tidak pernah mencoba mengkonsumsi narkoba jenis apapun. Pelajar kita ini sering jadi target, bisa jadi awalnya mereka coba-coba lalu ketagihan. Ini harus dicegah!” Puan menegaskan.
 
Setidaknya 2,29 juta pelajar Indonesia menggunakan narkoba pada 2018. Peredaran narkotika dan orang yang terjerat penyalahgunaannya juga masih tinggi. Polri melaporkan 24.878 orang ditangkap dari 19.229 kasus yang berhasil diungkap Polri sepanjang Januari hingga Juni 2021.
 
Selama semester pertama tahun 2021, jajaran Polri telah menyita barang bukti berupa ganja 2,14 ton, sabu 6,64 ton, heroin 73,4 gram, kokain 106,84 gram, tembakau gorila 34 ton, dan ekstasi 239.277 butir. Jumlah penyitaan pada 2019 untuk bukti sabu mencapai 2,7 ton yang meningkat menjadi 4,57 ton bukti sabu per November 2020.
 
“Pengedaran narkoba ini merupakan kejahatan lintas negara sehingga penanganannya harus melibatkan semua unsur masyarakat dan kerja sama internasional. Harus kita putus mata rantai peredaran narkoba ini,” ucap Puan.
 
Hari Anti Narkoba Internasional diperingati setiap tanggal 26 Juni 2021. Adapun tema HANI tahun 2021 adalah “Perang Melawan Narkoba di Era Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Bersih Narkoba”.
 
Penetapan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional ini pertama kali dicanangkan oleh lembaga UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) pada tahun 1987. Tujuan dari penyelenggaraan ini adalah untuk memperkuat aksi dan kerjasama secara global dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba.
 
“Mari kita jaga anak-anak kita, adik-adik kita, dan diri kita sendiri dari bahaya narkoba. Musuh kita sama, kita harus bergotong-royong saling menjaga dan memastikan bahwa narkoba tidak punya celah untuk merusak bangsa Indonesia,” ucap Alumni FISIP Universitas Indonesia ini.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...