PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Dari Sang Proklamator Turun Darah Negarawan yang Mampu Memimpin Tanah Air

          Dari Sang Proklamator Turun Darah Negarawan yang Mampu Memimpin Tanah Air
BENTENGSUMBAR.COM - Siapa yang kenal Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Sosok pemimpin Indonesia yang berani ini, memegang peran penting dalam upaya memerdekakan Republik Indonesia dari penjajah.

Karismatik dan visioner menjadi salah satu ciri khas dari soso Ir Soekarno. Ia kerap dijadikan panutan para pemimpin saat ini. 

Nama besar Soekarno yang mampu berjuang melawan penjajah dalam dunia politik secara alami diturunkan kepada anak - anaknya. 

Semasa hidupnya, Soekarno dikenal sering bergonta-ganti istri. Ia telah menikahi beberapa wanita antara lain Oetari, Inggit Ganarsih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.

Dari pernikahannya tersebut ia dikaruniai 11 anak. Beberapa di antara mereka bahkan mengikuti jejak sang ayah untuk berkiprah di dunia politik, sebut saja Megawati Soekarnoputri yang kemudian menjadi Presiden Indonesia kelima, Rachmawati Soekarnoputri dan Sukmawati Soekarnoputri.

Megawati memulai karier politik sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pada tahun 1965. Masuk ke kancah politik sebagai wakil ketua PDI cabang Jakarta pusat pada tahun 1986 dan hanya butuh setahun untuk menjadi anggota DPR RI.

Megawati kemudian terpilih menjadi ketua umum PDI (Partai Demokrasi Indonesia) pada tahun 1993. Karier Megawati mencapai puncak ketika menjadi presiden wanita pertama di Indonesia setelah MPR mengadakan sidang Istimewa pada tahun 2001 dan memutuskan menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid.

Di masa kepresidenannya yang hanya tiga tahun, Megawati menggariskan sejumlah kebijakan penting.

Setelah resmi melanjutkan era pemerintah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 23 Juli 2001, Megawati segera menyusun Kabinet Gotong Royong. Ada Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Ada pula Jusuf Kalla sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Sementara bidang perekonomian dikoordinatori oleh Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.

Salah satu kebijakan yang sampai saat ini masih bisa dirasakan adalah pendirian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

KPK berhasil memecah kebuntuan penanganan korupsi yang mengakar di negeri ini. Sepanjang sejarahnya, KPK dengan berani menangkap banyak pejabat penting di pemerintahan hingga DPR. Upaya pemberantasan korupsi sebenarnya telah dimulai sejak kejatuhan Soeharto. 

Presiden BJ Habibie membentuk berbagai komisi baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat (KPKPN), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), dan Ombudsman.

Menanggapi masih maraknya korupsi dan ketidakberhasilan pemerintah mengatasi korupsi itu, Mega mengatakan, "Masalah korupsi sepertinya saya itu heran, ini bukan seperti membalik tangan untuk diselesaikan oleh pemerintahan, yang praktis hanya punya waktu tiga tahun. Bukan saya mengatakan hal ini untuk membela diri," ujar Megawati. 

Sebab, lanjut Mega, selama 30 tahun lalu, korupsi juga tidak bisa diatasi dengan baik. "Ini suatu hal yang sempat saya ungkap. Kami terus berupaya menyelesaikan hal-hal itu," kata dia.

Dari garis keturunan Sukarno, anak Megawati juga akhirnya terjun di dunia politik. Yang terbaru, Puan Maharani sekarang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Kabinet Kerja (2014-2019) dan kini menjadi Ketua DPR RI (2019 - 2024).

Darah politik tampaknya mengalir dari kedua orang tuanya, baik sang ibu, Megawati, maupun sang ayah, Taufik Kiemas yang pernah menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Cucu dari Presiden pertama RI sekaligus Proklamator Soekarno ini sudah mengenal dunia politik sejak usia muda dan digadang-gadang meneruskan tradisi politik dalam keluarga Soekarno. 

Pemilik nama lengkap Puan Maharani Nakshatra Kusyala itu mendapatkan gelar sarjananya dari Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia.

Puan kemudian menjajal peruntungan di Senayan sebagai calon anggota legislatif pada Pemilu 2009 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah V, meliputi Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali. Tak main-main, Puan Maharani lolos dan meraih perolehan suara terbanyak kedua di tingkat nasional pada pemilihan anggota legislatif saat itu, yaitu 242.504 suara. 

Di lembaga legislatif, perempuan kelahiran Jakarta, 6 September 1973 itu dipercaya menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI tahun 2012-2014 menggantikan Tjahjo Kumolo saat itu. Pada Pemilu 2014, Puan maju lagi sebagai caleg dan lolos. Namun, istri dari pengusaha Hapsoro Sukmonohadi atau akrab disapa Happy Hapsoro itu memutuskan mundur dari Senayan karena ditarik Jokowi jadi menteri.

Internal PDI Perjuangan mengakui sosok Puan tatkala didaulat menjadi "panglima perang" pada Pemilu 2014 yang berhasil membawa partai politik berlambang kepala banteng moncong putih itu menjadi pemenang pemilu.

Puan yang saat itu didaulat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan berhasil mengubah nasib parpol yang semula identik sebagai oposisi menjadi parpol penguasa pemerintahan. 

Parpol pimpinan sang ibunda yang semula bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) memang mengalami nasib kurang enak selama rezim Orde Baru, termasuk dirongrong perpecahan hingga akhirnya muncul PDI Perjuangan. 

Puan pun sudah cukup kenyang dengan pengalaman politik yang represif karena kerap mengikuti sang ibu berkeliling ketika iklim demokrasi belum sebebas sekarang ini.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...