PILIHAN REDAKSI

Gugatan Syafrial Kani cs Ditolak PN Padang, Pengurus KAN Pauh IX Lega: Ini Demi Marwah Nagari

BENTENGSUMBAR.COM - Akhirnya Pengadilan Negeri Padang memutuskan menolak gugatan yang dilayangkan Syafrial Kani Datuk Rajo Jambi dan Zulhen...

Advertorial

Mahasiswa Berkualitas Menjadi Kata Kunci untuk Membangun Bangsa Indonesia ke Depan

          Mahasiswa Berkualitas Menjadi Kata Kunci untuk Membangun Bangsa Indonesia ke Depan
BENTENGSUMBAR.COM - Mahasiswa berkualitas menjadi kata kunci untuk membangun bangsa Indonesia ke depan. Demikian disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Manajemen IMMI Hj. Sri Wahyuningsih, S.E., M.M. pada Seminar “Menumbuhkan Karakter Mahasiswa Yang Kompetitif, Kritis Dan Visioner" yang diselenggarakan secara online Sabtu, 23 Oktober 2021.

Wahyuningsih juga berpesan bahwa mahasiswa juga harus memupuk kecintaan terhadap tanah air sebagai kekuatan untuk memenangkan kompetisi dalam iklim persaingan global. 

“Mahasiswa harus memiliki pandangan jauh kedepan untuk membangun bangsa yang lebih maju, berperadaban, cerdas, berkeadilan dan sehat lahir dan batin” katanya.

Lebih lanjut ia berpesan, mahasiswa hendaknya bertekad untuk menjadi pemimpin masa depan, keilmuan, keimanan, integritas dan kredibilitas dalam meningkatkan kedewasaan dalam berfikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggungjawab.

Acara yang diikuti ratusan mahasiswa D3, S2 dan S2 ini dimoderator Ibu Dra. Nurwulan Kusumadevi, M.M berlangsung dari pukul 09.00-12.00wib.

Dihubungi pada kesempatan yang sama, Ketua Program S2 Assoc. Prof. Dr. Harries Mardisitriyatno, M.Si menyatakan bahwa mahasiswa generasi sekarang dituntut untuk mengembangkan dirinya dan siap menghadapi perubahan yang terus terjadi.

“Kalau dulu mahasiswa hanya dituntut untuk memiliki kinerja dan kompetensi, sekarang ini bertambah untuk memiliki pandangan visioner. Kehidupan, teknologi dan tuntutan selalu berkembang dan mahasiswa harus mampu menjawabnya,” ujarnya.

Narasumber Prof. Dr. Catharina Dewi Wulansari, S.H., M.H. seorang praktisi pendidikan menyatakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) itu harus memiliki keterampilan secara individu, dan ini merupakan pendorong utama untuk kesejahteraan.

“Bagi SDM yang tidak memiliki potensi, tidak terampil maka dia akan sulit masuk pasar kerja. Pada akhirnya SDM ini akan sulit untuk menjadi sejahtera,” katanya

SDM Indonesia menurut data terakhir 2019, berada pada posisi competitivenes di urutan 50, dibawah Malaysia dan hanya sedikit diatas Vietnam. 

“Menurut hasil penelitian suatu perkerjaan yang sama yang dilakukan SDM Indonesia membutuhkan waktu selama 8 jam, hal ini bisa dilakukan oleh SDM dari Singapura selamat 4jam, sedangkan SDM dari China hanya butuh 1 jam. Kita ketinggalan jauh,” ungkapnya.

Catharina menyatatakan bahwa jika dilihat kelemahan umum yang menjadikan rendahnya SDM Indonesia adalah ketidakmampuan untuk mengenali potensi diri dan rendahnya kemampuan membuat strategi dalam mengembangan diri. 

“Strategi menumbuhkan potensi adalah dengan melihat potensi diri kita, buat dan laksanakan action plan. Hindari membuat orang lain nampak kecil, jangan melanggar hak orang lain, hindari meninggikan diri sendiri dan berfikirlah kreatif," katanya.

Pembicara lainnya, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si. Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menyinggung tantangan Era 4.0 dan 5.0.

“Kemajuan teknologi mengharuskan mahasiswa memiliki competitiveness yang tinggi. Internet of Things harus menjadi bagian kehidupan mahasiswa sekarang. Mahasiswa harus memahami penetrasi internet dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Karakter yang diperlukan mahasiswa saat ini yakni harus menjadi digital leaders yang visioner, mereka yang memahami disruption era. 

“Apa yang kita butuhkan adalah Competitive - Adaptive Human Capital, Pemimpin Visioner  yang memahami digital leader. “ 

Budi juga menyampaikan bahwa untuk mencapai visi, mahasiswa atau lulusan harus dapat menjadi penggerak utama kemampuan pertumbuhan ekonomi indonesia yang inklusif di abad ke-21.

“Karakter yang harus dimiliki mahasiswa kita harus berubah, karena zaman sudah berubah. Diperlukan kecerdasan holistik untuk menghadapi era perubahan yang fundamental,” pungkasnya.

Laporan: Arief Tito
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...