PILIHAN REDAKSI

Laporan Ditolak Polda Banten, LQ Indonesia Lawfirm Ragukan Komitmen Kepolisian Tindak Oknum Polisi Smackdown Mahasiswa

BENTENGSUMBAR.COM - LQ Indonesia Lawfirm yang sejak 3 minggu lalu menjadi pelopor adanya modus Oknum POLRI terutama di Fismonde...

Iklan Bank Nagari

Ferdinand Hutahaean ke Felix Siauw: Kalau Ngga Tau Sejarah Jangan Banyak Koar-koar Deh Memecah Belah Bangsa Ini

          Ferdinand Hutahaean ke Felix Siauw: Kalau Ngga Tau Sejarah Jangan Banyak Koar-koar Deh Memecah Belah Bangsa Ini
BENTENGSUMBAR.COM - Mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menanggapi pernyataan pendakwah mualaf Ustaz Felix Siauw.

Melalui akun twitternya @FerdinandHaean3, ia memposting berita salah satu media online yang memuat pernyataan Felix Siauw tersebut.

"Sejak Indonesia ada, narasi Radikal, Anti NKRI, Anti Pancasila itu sdh ada. Felix kalau ngga tau sejarah jgn banyak koar2 deh memecah belah bangsa ini," cuit Ferdinand pada Kamis, 30 September 2021, seperti dilihat BentengSumbar.com pada Jumat dini hari, 1 Oktober 2021.

Menurut Ferdinand, penyebab besarnya kelompok radikal dan anti NKRI tersebut karena terjadi pembiaran sejak puluhan tahun.

Ferdinan pun dengan tegas mengatakan, pihaknya akan melawan kelompok radikal dan anti NKRI tersebut untuk menjaga NKRI.

"Knp skrg lbh besar? Karena kalian makin besar akibat pembiaran puluhan tahun. Skrg KAMI AKAN LAWAN KALIAN utk MENJAGA NKRI..!" tegas Ferdinand.

Mengutip situs Democrazy, Ustadz Felix Siauw menilai sejumlah narasi dan tuduhan negatif seperti anti NKRI, anti Pancasila, Intoleransi, radikal, dan lainnya mulai muncul ketika Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden RI pada 2014.

Menurut Felix Siauw, di era Presiden Megawati Soekarnoputri hingga masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejumlah narasi dan tuduhan negatif itu tidak pernah terdengar.

“2002 itu saya mulai berdakwah. Dari tahun 2002 sampai 2015 nggak ada sebutan radikal, anti NKRI, seperti yang sekarang, anti pancasila dan segala macamnya. Itu belum ada semua,” kata Felix.

Lebih lanjut, Felix Siauw menyebut narasi dan tuduhan-tuduhan itu semakin kuat terdengar pada awal periode Presiden Jokowi tepatnya di tahun 2016. Saat itu jelang Pilkada DKI Jakarta.

“Nah mendadak di tahun 2016 ini mulai muncul ungkapan-ungkapan radikalisme, intoleransi, ini baru muncul seolah ini masalah bernegara yang lebih besar,” ujarnya. (by)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...