PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Muhammadiyah Ajak Sudahi Polemik G30S PKI: Memang Pahit, Tapi Itu Obat Sembuhkan Luka Sejarah

          Muhammadiyah Ajak Sudahi Polemik G30S PKI: Memang Pahit, Tapi Itu Obat Sembuhkan Luka Sejarah
BENTENGSUMBAR.COM - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengajak masyarakat untuk menyudahi polemik G30S PKI.

Sebagaimana diketahui, polemik isu PKI dan komunisme ramai kembali dibicarakan menjelang tanggal 30 September lalu.

Sejumlah tokoh politik meramaikan isu ini seperti Gatot Nurmantyo, Amien Rais, Fadli Zon, dan lain-lain.

Terkait hal tersebut, Abdul Mu'ti menilai polemik G30S PKI ini menjemukan dan melelahkan.

Hal tersebut diutarakan Abdul Mu'ti dalam akun Twitter pribadinya @Abe_Mukti, seperti dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com pada Rabu, 6 Oktober 2021.

"Sudah setengah abad lebih persoalan G30S PKI masih saja menjadi polemik. Menjemukan. Melelahkan. Sudah waktunya polemik ini disudahi. Tidak perlu ada yang ditutupi," katanya.

Abdul Mu'ti mengatakan, sejarah kelam G30S ini harus diambil pelajaran dengan kesadaran kebangsaan dan kebesaran jiwa.

"Hampir semua bangsa di dunia memiliki sejarah kelam. Bukan suatu aib. Diperlukan kesadaran kebangsaan dan kebesaran jiwa untuk mengambil kebenaran sejarah," ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Abdul Mu'ti, persatuan dan masa depan bangsa dapat terobati.

"Memang pahit. Tapi, itulah obat yang menyembuhkan luka sejarah untuk persatuan dan masa depan bangsa," tuturnya.

Pada penutupnya, Abdul Mu'ti menegaskan Pancasila sebagai dasar negara yang harus dilindungi dari paham yang berbahaya.

"Kalau kita sepakat Pancasila sebagai dasar negara, semua paham yang bertentangan dan berpotensi melemahkan atau mengganti Pancasila, apa pun itu, tidak bisa dipandang sebelah mata," ucapnya.

Untuk informasi tambahan, Gatot Nurmantyo sebelumnya mengungkap bahwa ada indikasi tubuh TNI disusupi paham komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Paham komunis dan PKI ini, ungkap Gatot, masih ada sampai saat ini meski selalu dibantah oleh berbagai pihak.

Menurut Gatot, bukti nyata PKI ada di tubuh TNI adalah hilangnya patung tokoh nasional di Museum Dharma Bhakti.

Pernyataan Gatot Nurmantyo soal adanya paham PKI di tubuh TNI disampaikan dalam webinar yang digelar pada Minggu, 26 September 2021.

Gatot mengatakan, seharusnya terdapat diorama yang menggambarkan suasana saat 1 Oktober 1965 atau beberapa jam setelah enam Jenderal dan perwira muda TNI AD diculik PKI.

Seharusnya, lanjut Gatot, ada patung Presiden Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad di Museum Dharma Bhakti.

Selain patung Soeharto, patung lain yang disinggung Gatot adalah patung Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution.

Di sisi lain, Kapten Kostrad Kolonel Inf Haryantana membantah Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung-patung tersebut.

Ia mengungkap, pembongkaran tersebut merupakan inisiatif dari Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution yang merupakan Pangkostrad ke-34.

Azmyn juga diketahui merupakan orang yang membuat patung-patung tersebut. (Pikiranrakyat - Bekasi.com)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...